Home / Kajian Masyayikh / Hadiri Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 di Sabah, Kiai Achmad Chalwani Kisahkan Raja Johor Pertama dalam Penyebaran Thariqah
Artikel Berita Kajian Masyayikh

Hadiri Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 di Sabah, Kiai Achmad Chalwani Kisahkan Raja Johor Pertama dalam Penyebaran Thariqah

Sabah, annawawiberjan.id – (22/8/2025) — Rais Ali Idarah Aliyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), Kiai Achmad Chalwani Nawawi menjadi pembicara pada pembukaan Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 di Kota Sabah, Malaysia. Kiai Chalwani menceritakan Raja Johor pertama yang masih keturunan Jawa dan Bugis pernah menulis surat kepada K.H. Zarkasyi dari Berjan, Purworejo, untuk meminta guru thariqah yang bisa mengajarkan tasawuf di Johor Baru.

Saking pentingnya tasawuf hingga dulu Raja Johor Pertama, Tumenggung Abu Bakar mengirim surat kepada KH. Zarkasyi Berjan Purworejo, meminta agar ada guru thariqah untuk megajarkan thariqah di Johor Baru. Lalu Kiai Zarkasyi mengutus muridnya, Syekh Siraj. Beliau kemudian diberi sebidang tanah oleh raja di Pontian, Batu Pahat. Jelas Kiai Chalwani.

Dari perjalanan itu, lahirlah generasi ulama berpengaruh di Malaysia. Putra Syekh Siraj, yakni Syekh Ghozali, kemudian diteruskan oleh cucunya, Syekh Affandi, yang bahkan sempat menjadi dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Selain itu, Kiai Chalwani menyampaikan pentingnya memadukan fikh dan tasawuf dalam kehidupan beragama.

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّف فَقَدْ تَفَسَّقَ ، ومَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهُ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَفَقَّهَ و تَصَوَّفَ فَقَدْ تَوَفَّقَ

“Barangsiapa berfikih tanpa tasawuf maka ia fasik, barangsiapa bertasawuf tanpa fikih maka ia zindik. Dan barangsiapa yang memadukan keduanya, maka ia telah mendapatkan taufiq (dari Allah Swt).”

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Menurut Kiai Chalwani, zikir memiliki dua tingkatan zikir khasanat dan zikir darojat. zikir hasanat adalah zikir yang umum dilakukan, misalnya dalam istighotsah. Namun, tingkatannya perlu ditingkatkan menjadi zikir darojat, yakni zikir yang dilakukan melalui talqin dari seorang guru mursyid yang memiliki sanad bersambung hingga Rasulullah ﷺ.

Kiai Chalwani mengutip tafsiran Syaikh Al Imam Hakim terhadap firman Allah Swt. dalam QS. Maryam 87:

لَّا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak dapat memberi syafaat, kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian dengan Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Imam al-Hakim menafsirkan,

اي إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا تَلْقِينَ ذِكْرِ التَّوْحِيدِ عَنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، بِوَاسِطَةِ الشَّيْخِ الْحَيِّ الْكَامِلِ الْمُسَلْسِلِ إِلَى سَيِّدِ الْكَوْنَيْنِ، إِلَى جِبْرِيلَ، إِلَى اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Bahwa yang dimaksud ‘berjanji kepada Allah’ adalah mereka yang menerima talqin zikir tauhid melalui perantaraan mursyid yang hidup sempurna (al-syaikh al-hayy al-kāmil), bersanad hingga Nabi Muhammad ﷺ, lalu kepada Malaikat Jibril, hingga sampai kepada Allah Rabbul ‘Alamin.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Syafaat Nabi hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang telah baiat dan zikir bersanad melalui bimbingan mursyid thariqah. Talqin melalui mimpi semata tidak cukup, sebab mursyid yang sah adalah guru yang masih hidup dan memiliki ijazah sanad dari mursyid sebelumnya yang sempurna juga.

Imam Menafsiri ayat Al-Quran, tidak bakal dapat syafaat dari nabi kecuali sudah berjanji kepada Allah Swt. (Baiat Thariqah). Jelas Kiai Chalwani.

Selain itu, Kiai Chalwani juga mengingatkan agar umat Islam tidak membuat metode spiritual sendiri, tetapi mengikuti jalan thariqah yang sudah diwariskan para ulama besar seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Qadiriyyah), Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi (Naqsyabandiyyah), Syekh Abu Hasan as-Syadzili (Syadziliyyah), dan lainnya.

Dalam sejarah, banyak ulama besar Indonesia juga bertalqin thariqah, termasuk Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari yang menerima talqin Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari K.H. Mahfudz Termas, hingga Gus Dur yang juga bertalqin thariqah kepada Kiai Sunhaji Jimbun, Giwaretno, Sruweng Kebumen.

Anda jangan bikin metoda, tolong pakai yang sudah ada. Tegas Kiai Chalwani.

Kiai Chalwani berharap pertemuan semacam Kota Sufi Se-Nusantara dapat terus berlangsung.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Maka, Saya minta pertemuan sufi se-nusantara kaya gini tolong diteruskan, saya trima kasih sekali dari sabah sudah menyelenggarakan pertemuan sufi, ayo kita teruskan. Pungkas Kiai Chalwani.

Selain Rois Ali K.H. Achmad Chalwani Nawawi, Hadir sebagai pembicara, antara lain Katib ‘Ali K.H. M. Zaenal Arifin Maksum, Mudir ‘Ali Prof. Dr. K.H. Ali Masykur Musa, M.Si, dan Sekretaris Umum Dr. Ali M. Abdillah, MA. Turut memberikan pandangan ilmiah Shaykh Rohimudin (Koordinator Lajnah Masailus Shufiyah) dan Shaykh Fathurahman (Rais), keduanya sebagai pimpinan Rabithah Masyayikh Sufi se-Nusantara.

Comment

  1. Rihaniyah says:

    Maasyaallah ❤️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *