Home / Artikel / Kesaktian Pancasila Dari Tragedi 1965, Kiprah Sarwo Edhie, hingga Refleksi Indonesia 2025
Artikel

Kesaktian Pancasila Dari Tragedi 1965, Kiprah Sarwo Edhie, hingga Refleksi Indonesia 2025

Setiap bangsa memiliki luka sejarah yang membekas, sekaligus menjadi tonggak untuk meneguhkan identitasnya. Bagi Indonesia, tanggal 1 Oktober adalah salah satunya. Hari ini dikenal sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sebuah peringatan nasional yang lahir dari peristiwa kelam Gerakan 30 September 1965.

Tahun 2025, peringatan ini kembali digelar dengan tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya.” Tema tersebut menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya sakti karena mampu bertahan dari upaya kudeta ideologi, melainkan karena ia tetap relevan menjadi perekat kebangsaan di tengah dinamika zaman modern.

Latar belakang peringatan ini bermula pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, ketika sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S) menculik dan membunuh enam jenderal TNI AD beserta seorang perwira muda. Jenazah mereka kemudian ditemukan di Lubang Buaya. Peristiwa itu menimbulkan kekosongan kepemimpinan dan keguncangan nasional.

Pada pagi hari 1 Oktober, gerakan ini menguasai stasiun Radio Republik Indonesia untuk mengumumkan pembentukan “Dewan Revolusi.” Namun, situasi segera berbalik ketika Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih komando Angkatan Darat. Ia bergerak cepat mengamankan Jakarta dan menumpas gerakan tersebut, dibantu tokoh militer lainnya yang berperan penting.

Salah satu tokoh yang sangat menonjol dalam peristiwa itu adalah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Pasukan elit di bawah pimpinannya bergerak cepat merebut kembali titik-titik strategis dan membersihkan gerakan di Jakarta. Dalam catatan Julius Pour dalam buku “Sarwo Edhie dan Tragedi 1965” (1998), disebutkan bahwa,

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Tanpa keberanian Sarwo Edhie dalam mengerahkan RPKAD, sulit membayangkan gerakan itu dapat segera dipatahkan.

Perannya begitu vital, bukan hanya dalam menstabilkan situasi, melainkan juga dalam operasi-operasi militer pasca 1 Oktober yang membuat posisi Angkatan Darat semakin dominan dalam politik nasional.

Biografi Sarwo Edhie sendiri memperlihatkan sosok perwira militer yang disiplin, tegas, sekaligus loyal terhadap negara. Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1925, menempuh pendidikan militer pasca kemerdekaan, dan cepat menanjak dalam struktur Angkatan Darat berkat kepemimpinan serta keberaniannya di lapangan.

Selain dikenal sebagai komandan yang keras, Sarwo Edhie juga seorang figur yang dihormati karena komitmennya terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Karier militernya terus berkembang hingga akhirnya ia dipercaya menjabat dalam berbagai posisi strategis. Namun, namanya paling melekat pada peristiwa 1965, sebuah momentum yang membuatnya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh kunci penyelamatan Pancasila dari ancaman ideologi lain.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah Orde Baru menilai penting untuk menegaskan kembali makna peristiwa itu dalam kehidupan berbangsa. Pada tahun 1966, melalui keputusan internal Angkatan Darat, tanggal 1 Oktober mulai diperingati di lingkungan militer. Setahun kemudian, Presiden Soeharto mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967, yang secara resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Seperti ditulis oleh Marwati D. Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam “Sejarah Nasional Indonesia VI” (1984),

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Penetapan ini dimaksudkan sebagai pengingat bahwa Pancasila telah terbukti sakti, bertahan dari ancaman ideologi lain, dan menjadi landasan utama perjalanan bangsa.

Keterkaitan peristiwa ini dengan tema peringatan tahun 2025 menjadi semakin jelas. Jika pada tahun 1965 Pancasila diuji oleh ancaman kudeta ideologi, maka hari ini Pancasila diuji oleh ancaman lain: polarisasi politik, perpecahan sosial, hingga krisis moral di era digital. Yudi Latif dalam “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila” (2011) menulis bahwa,

Pancasila adalah titik temu, bukan titik pisah. Ia hanya akan hidup bila dipraktikkan sebagai perekat sosial, bukan sekadar teks konstitusional.

Refleksi ini mengajak bangsa Indonesia untuk memaknai Hari Kesaktian Pancasila tidak sekadar sebagai upacara seremonial, melainkan momentum memperkuat kebersamaan, toleransi, dan rasa persatuan.

Maka, 1 Oktober bukanlah sekadar tanggal merah di kalender sejarah. Ia adalah pengingat bahwa ideologi bangsa pernah diuji, pernah berdarah, tetapi tetap berdiri. Ia adalah ruang refleksi tentang betapa pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Dari tragedi Lubang Buaya, keberanian Sarwo Edhie Wibowo, hingga keputusan politik Presiden Soeharto, kita belajar bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Dan dari tema 2025, kita diingatkan bahwa kesaktian Pancasila bukan hanya kisah masa lalu, tetapi janji yang harus terus dihidupi menuju Indonesia Raya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *