Home / IAI An-Nawawi / Ketua BAZNAS RI Dorong Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan dalam Studium Generale IAIAN Purworejo
Artikel Berita IAI An-Nawawi

Ketua BAZNAS RI Dorong Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan dalam Studium Generale IAIAN Purworejo

Purworejo, annawawiberjan.id – (27/10/2025) — Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia (RI) Prof. K.H. Noor Achmad mendorong terwujudnya integrasi agama dan ilmu pengetahuan dalam Studium Generale yang diadakan Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo pada Senin, bertempat di Auditorium K.H. Nawawi Shiddieq.

Ada potensi besar pondok pesantren ini dan sekaligus Institut Agama Islam An-Nawawi akan berkembang pesat, insya Allah. Dukung Ketua Yayasan Wahid Hasyim Semarang.

Bagi Prof. K.H. Noor Achmad, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu jalan yang harus ditempuh sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 29.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Ayat tersebut memuat doa Nabi Ibrahim AS tentang keinginannya agar diturunkan rasul setelahnya dengan membawa tiga kriteria tugas. Dari ayat itu Prof. K.H. Noor Achmad menyatakan bahwa tugas pertama rasul ialah tilawah yang bermakna membacakan.

Tilawah itu membacakan sesuatu, melakukan kognisi yang kuat atau melakukan ontologi yang kuat. Jadi ‘apanya tentang sesuatu’ itu sudah sejak dulu dimohonkan oleh Nabi Ibrahim AS. Ontologinya. Tilawahnya. Sederhananya, kalau di pesantren orang yang mau masuk pesantren harus jejeg dulu bacaan Al-Fatihahnya. Jadi ontologinya membaca Al-Fatihah. Bagaimana agar makharijul huruf-nya jejeg, tajwidnya baik, itu ontologi. Tetapi dalam keilmuan yang lain juga harus demikian. Bagaimana ontologi itu diperkuat betul. Jelas pria kelahiran Kudus tersebut.

Prof. K.H. Noor Achmad meneruskan bahwa tugas ke dua rasul yaitu melakukan tazkiyah atau penyucian. Ia memandang tugas ini yang paling utama karena tidak terdapat pada instansi pendidikan umum selain pesantren.

Tazkiyah ini kepada siapa? Tentu saja tazkiyatun nafs dan tazkiyatun ‘aql, menyucikan jiwa dan menyucikan akal. Bahkan Rasulullah Saw. sangat kuat di sini. Bagaimana beliau itu melakukan proses-prosesnya. Kalau di pesantren, prosesnya sering kali berupa puasa, ngerowot, dalail, dan masih banyak lagi. Itu tazkiyah. Menyucikan diri. Kekuatan ini menjadi kekuatan yang tidak dimiliki oleh pelajar pada umumnya. Ungkapnya.

Prof. K.H. Noor Achmad melanjutkan bahwa tugas ke tiga rasul yaitu melakukan ta’lim atau pembelajaran. Menurutnya, proses ta’lim meliputi ta’lim al-kitab dan ta’lim al-hikmah.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Ta’lim al-kitab meliputi Al-Quran dan Al-Hadits. Maknanya, di situ ada proses pembelajaran. Di situ ada proses epistemologinya, bagaimana cara mendapatkan sebuah ilmu. Dan ini diperdalam betul mulai dari zaman Rasulullah Saw., Khulafaur Rasyidin, sampai dengan A’immatul Mujtahidin dan mereka punya epistemologinya sendiri-sendiri. Kalau dalam bidang fiqih bagaimana ijtihad dilakukan para mujtahid mutlak, itu epistemologi. Tapi dalam bidang keilmuan, banyak sekali epistemologi yang dikembangkan. Ibnu Khaldun, Al-Biruni dan seterusnya, punya epistemologinya sendiri. Maka, dia membongkar kajian-kajian dalam Al-Qur’an. Tutur pria yang menjadi teman dekat Kiai Chalwani.

Prof. K.H. Noor Achmad turut menyampaikan bahwa di samping ta’lim al-kitab terdapat ta’lim al-hikmah. Berbeda dari mufassir umumnya yang memaknai al-kitab sebagai Al-Quran dan al-hikmah sebagai Al-Hadits. Ia justru memaknai al-kitab sebagai Al-Quran dan Al-Hadits sekaligus karena ayat tersebut turun sekaligus juga menjawab doa Nabi Ibrahim AS yang pada saat itu belum ada al-Hadits.

Artinya, hikmah itu ya hikmah. Ilmu tentang kebijakan, ilmu tentang filsafat, ilmu tentang sesuatu di balik dari apa yang ada di sini, yang di munculkan oleh para ‘arifin itu. Ini hikmah. Termasuk hikmah itu ya kebijakan-kebijakan tentang bagaimana mengelola dunia, bagaimana kebijakan-kebijakan tentang pemerintahan, bagaimana kebijakan tentang sesuatu yang memang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Al-Hadits secara tekstual, tapi bisa diambil maknanya dari situ. Terangnya.

Prof. K.H. Noor Achmad mengakui bahwa ke tiga tugas itu sudah ada di kampus IAIAN Purworejo.

Dengan demikian, maka kita semuanya itu, nyantri sambil kuliah, apalagi kiainya itu mursyid, itu sudah pas. Insya Allah, ke tiga-tiganya akan bisa kita dapatkan di sini. Jadi tilawahnya oke, tazkiyahnya pasti, ta’lim al-kitab dan al-hikmah-nya juga pasti. Tuturnya.

Hal tersebut diperkuatnya dengan selalu merekomendasikan berbagai pondok pesantren agar tidak membangun sekolah tinggi maupun institut saja, melainkan juga sampai pada universitas.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Jadi kalau sekolah tinggi itu kan hanya keilmuan tertentu, begitu pun dengan institut. Tapi kalau universitas, berarti uni keilmuan yang berbeda-beda, karena itu sesuai dengan tugas yang diberikan Allah Swt. kepada utusannya. Tegasnya.

Lebih rinci lagi, Prof. K.H. Noor Achmad menarik benang merah bahwa ke tiga tugas rasul di atas dapat ditemukan di IAIAN Purworejo.

Jadi, kalau keseluruhan dari ke tiga tugas yang diamanahkan Allah Swt. pada Rasul-Nya itu ada di sini, berati, mudah-mudahan Institut Agama Islam An-Nawawi segera diusulkan menjadi Universitas An-Nawawi Purworejo. Sarannya optimis.

Ketua Dewan Senat IAI An-Nawawi Purworejo K.H. Achmad Chalwani Nawawi berpesan kepada para mahasiswa agar senantiasa meneguhkan dirinya dalam menjalani proses tholabul ‘ilmi di pondok sekaligus kampus An-Nawawi.

Kamu para mahasiswa yang hadir, saya minta yang mantap di sini. Semoga dapat berkahnya Mbah Mahrus Ali Lirboyo, berkahnya Watucongol dan berkahnya Berjan sendiri. Ungkap Kiai Chalwani.

Lebih lanjut, Rektor IAI An-Nawawi Purworejo Hj. Ashfa Khoirun Nisa’ menyampaikan studium generale tahun ini mengangkat tema ‘Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan menuju Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren yang Berdaya Saing Internasional’ merupakan refleksi dari misi besar IAI An-Nawawi Purworejo bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh di pisah dari nilai-nilai agama. Begitu pula penguatan spiritual harus didukung oleh kemajuan intelektual dan teknologi.

Integrasi inilah yang menjadi ruh pendidikan di kampus yang berbasis pesantren. Sehingga lahir generasi cendekiawan yang beriman, berakhlak dan berdaya guna bagi masyarakat global. Ungkap perempuan yang dekat dengan desain fesyen itu.

Sebagai institusi yang berakar di lingkungan pesantren, pihaknya bertekad untuk terus memperkuat identitas sebagai kampus berbasis pesantren yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Era globalisasi dan digitalisasi menuntut kita semua tidak hanya memahami teks, tapi juga konteks. Tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga sains, ekonomi, teknologi dan sosial-humaniora. Karena sejatinya semua ilmu bersumber dari Allah Swt. dan semua ilmu harus kembali untuk kemaslahatan umat. Pungkas Rektor.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *