Home / Kajian / Pahlawan Literasi Digital: Santri Melek Teknologi, Melek Adab
Artikel Kajian

Pahlawan Literasi Digital: Santri Melek Teknologi, Melek Adab

Setiap 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Namun, dalam pandangan santri, kepahlawanan tidak hanya diukur dengan darah dan bambu runcing, melainkan juga dengan tinta dan ilmu.

Ulama dan santri yang menjaga warisan pengetahuan dari masa ke masa juga pahlawan, mereka berjuang melawan kejahilan.

Imam Hasan al-Bashri pernah berkata:

العِلْمُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ، وَالْجَهْلُ سِلَاحُ الشَّيْطَانِ

“Ilmu adalah senjatanya orang beriman, sementara kebodohan adalah senjatanya setan.” (Ihya’ Ulum al-Din, jilid 1, hlm. 12).

Asrama Khotib Sambas Semarakkan Penghujung Semester dengan ASKHOS STARS

Hari ini, senjata kita bukan lagi bambu runcing, melainkan pena, layar, dan kecerdasan digital.

Teknologi: Antara Nikmat dan Fitnah

Di satu sisi, teknologi membuka peluang belajar tanpa batas. Namun, di sisi lain, ia bisa menumpulkan nalar dan mengurangi semangat mencari ilmu secara talaqqi (berguru langsung). Santri zaman digital perlu melek teknologi tanpa kehilangan ruh literasi dan adab.

Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ

“Nilai setiap orang tergantung pada sejauh mana ia berilmu dan beramal dengan ilmunya.” (Al-‘Iqd al-Farid, jilid 2, hlm. 264).

S2 Tak Lagi Jalan Panjang, IAI An-Nawawi Buka Skema Lulus Setahun Tanpa Tesis

Ilmu yang baik bukan diukur dari cepatnya kita mengetik di AI, tetapi dari seberapa dalam kita memahami dan mengamalkan.

Kisah Inspiratif: Ketika Ulama Berjuang demi Ilmu

Dalam Nuzhatul Majalis karya Syaikh ‘Abdurrahman ash-Shafuri (juz 1, hlm. 45), disebutkan kisah inspiratif Imam Sufyan ats-Tsauri.

Suatu malam, lampu minyak di rumahnya padam. Ia tak berhenti menulis, tetapi mengambil arang dari tungku untuk terus mencatat pelajaran. Ketika ditanya, ia menjawab, “Aku khawatir jika kutunda, Allah mencabut ingatanku sebelum sempat aku menulisnya.”

Begitulah pahlawan literasi sejati: tidak menyerah pada keterbatasan. Jika dahulu ulama berjuang dengan arang dan kertas lusuh, kini santri berjuang menaklukkan algoritma dan bias informasi.

Hati-Hati dalam Menyaring Ilmu dari AI

Zaman kini menghadirkan “ustaz baru” bernama AI (Artificial Intelligence). Ia cepat, pintar, tetapi tidak selalu benar. Maka, para pelajar dan santri harus menjadi filter, bukan sekadar penyalur informasi.

Memaknai Hardiknas dari Jejak Ki Hajar Dewantara hingga Semangat Pesantren ala Douwes Dekker

Imam al-Ghazali mengingatkan dalam Ihya’ Ulum al-Din:

العِلْمُ بِلا عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالْعَمَلُ بِلا عِلْمٍ لَا يَكُونُ

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.” (Ihya’ Ulum al-Din, jilid 1, hlm. 61).

AI bisa membantu menemukan data, menerjemahkan kitab, bahkan menulis esai. Namun, ia tidak memiliki niat, adab, dan barakah ilmu. Ilmu sejati hanya lahir dari hati yang bersih dan guru yang mursyid.

Belajar dari Pahlawan Literasi Nusantara

Kita juga bisa belajar dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, beliau menegaskan:

“Ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa adab. Sebab, adab adalah mahkota bagi ilmu.” (Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, hlm. 12).

Pesan ini menjadi penting di tengah banjir informasi hari ini. Boleh jadi seseorang pandai mengetik ribuan kata di AI, tetapi jika tanpa adab kepada guru dan sumber ilmu, maka yang muncul hanyalah ghurur (kesombongan intelektual).

Santri Digital: Dari Melek Teknologi ke Melek Akhlak

Menjadi santri digital bukan berarti menolak kemajuan. Justru, santri harus menjadi pionir literasi digital beradab. Gunakan teknologi untuk mengaji kitab, menulis riset, menebar dakwah santun, dan melawan hoaks.

Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11).

Maka, kemuliaan bukan pada kecanggihan gawai, melainkan pada ketinggian ilmu dan akhlak.

Menjadi Pahlawan Zaman Sekarang

Hari ini, menjadi pahlawan berarti menjaga semangat belajar di tengah distraksi. Menulis satu artikel bermanfaat lebih bernilai daripada seribu unggahan tanpa makna. Mengaji satu halaman kitab bersama guru lebih berharga daripada ratusan video dakwah yang tak jelas sanadnya.

Pahlawan masa kini adalah mereka yang tidak berhenti membaca, tidak lelah belajar, dan tidak mudah percaya sebelum meneliti.

Penutup: Jadikan Teknologi sebagai Wasilah, Bukan Ghurur

Gunakan AI dan media digital sebagai wasilah (perantara) untuk memperluas khazanah keilmuan, bukan sebagai pengganti akal dan guru.

Sebagaimana dikatakan Ibn al-Mubarak:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama; tanpa sanad, siapa pun akan berkata sesukanya.” (Jami‘ Bayan al-‘Ilm, jilid 1, hlm. 133).

Begitu pula AI, tanpa sanad keilmuan, ia hanyalah mesin yang berbicara tanpa tanggung jawab ilmiah. Maka, mari menjadi pahlawan literasi digital, mereka yang menaklukkan teknologi dengan ilmu, menyinari zaman dengan adab, dan menjaga warisan para ulama di tengah gelombang kecerdasan buatan.

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *