As’ad Syamsul Arifin, atau dikenal dengan sebutan KH. R. As’ad Syamsul Arifin, adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Beliau merupakan seorang ulama besar dan tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa penjajahan. Beliau juga dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama yang berperan besar dalam membangun kehidupan keislaman dan kebangsaan di Indonesia. Dalam sejarah Islam dan perjuangan bangsa, beliau bukan hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga keberaniannya menggerakkan umat melawan penjajahan.
Kehidupan Awal
KH. R. As’ad lahir di Syi’ib ‘Ali, Makkah, pada tahun 1897 M/1315 H. Beliau merupakan anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura. Ia mempunyai adik bernama Abdurrahman. Ia dilahirkan di perkampungan Syi’ib ‘Ali, dekat Masjidil Haram, Makkah, ketika kedua orang tuanya sedang menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.
KH. R. As’ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim atau yang dikenal dengan nama KH. Syamsul Arifin, adalah keturunan Sunan Ampel dari jalur sang ayah, sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.
Pada usia enam tahun, KH. R. As’ad dibawa kembali oleh orang tuanya ke Pamekasan untuk menetap di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Madura. Setelah lima tahun di Madura, ayahnya berniat mendirikan pesantren di Pulau Jawa, tepatnya di Sukorejo, Asembagus (Situbondo), yang pada saat itu masih berupa hutan yang terkenal angker dan banyak binatang buas. Pemilihan tempat tersebut atas saran dua ulama terkemuka asal Semarang, Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.
Beliau melakukan pembenahan di wilayah tersebut dan kemudian mendirikan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Pesantren ini berkembang sangat pesat, sementara KH. R. As’ad menjadi salah satu santri yang belajar di dalamnya.
Kiprah di Dunia Pesantren
Sejak kecil, KH. R. As’ad telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya. Pada usia 13 tahun, beliau dikirim oleh sang ayah untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, salah satu pesantren tua yang didirikan oleh KH. Itsbat Hasan pada tahun 1785. Di pesantren tersebut, beliau diasuh oleh KH. Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid, yang merupakan keturunan pendiri pesantren itu.
Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di Pesantren Banyuanyar (1910–1913), pada usia 16 tahun KH. R. As’ad dikirim oleh ayahnya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan pendidikannya. Di sana, beliau belajar di Madrasah Shalatiyah, sebuah lembaga pendidikan yang banyak dihuni oleh murid dan guru dari kalangan al-Jawi (Melayu).
Selama di Makkah, beliau memperdalam berbagai ilmu keislaman dari para ulama terkemuka, baik yang berasal dari Nusantara maupun dari Timur Tengah. Di Makkah, beliau menimba ilmu dari sejumlah ulama besar, di antaranya Sayyid Muhammad Amin al-Qutbi (ilmu tauhid dan fikih), Syekh Hasan al-Massad serta Sayyid Hasan al-Yamani (sastra dan tata bahasa Arab), dan Syekh Abbas al-Maliki (tasawuf).
Setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Makkah, KH. R. As’ad kembali ke tanah air. Setibanya di kampung halaman, beliau tidak langsung mengajar di pesantren ayahnya, melainkan memilih untuk memperdalam ilmu. Beliau mengaji ke berbagai pesantren, singgah dari satu tempat ke tempat lain, baik untuk menimba ilmu maupun ngalap berkah dari para kiai. Beberapa pesantren yang beliau kunjungi antara lain Langitan, Sidogiri (KH. Nawawi), Buduran (KH. Khozin), Lasem (KH. Ma’shum Ahmad), dan Demangan Bangkalan (Syaikhona Kholil bin Abdul Latif).
Kemudian setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Makkah dan beberapa pesantren terkemuka di Indonesia, beliau mulai mengabdi sebagai guru di pesantren ayahnya. Di bawah kepemimpinan KH. R. As’ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah berkembang semakin pesat dengan bertambahnya santri hingga mencapai ribuan.
Lembaga pendidikan pesantren tersebut semakin diperluas tanpa meninggalkan sistem lama yang menjadi ciri khas pesantren. Pesantren tersebut mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, serta sekolah umum seperti SMP, SMA, dan SMEA.
Peran Aktif di Nahdlatul Ulama
KH. R. As’ad merupakan tokoh penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Beliau adalah penyampai pesan isyarat berupa tongkat disertai ayat Al-Qur’an dari Syaikhona Kholil kepada KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi cikal bakal berdirinya NU.
Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus KH. R. As’ad, yang saat itu berumur 27 tahun, untuk mengantarkan sebuah tongkat ke KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang, dan menghafalkan Surat Thaha ayat 17–23 untuk dibacakan di hadapan beliau
وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى ١٧قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى ١٨قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى ١٩فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى ٢٠قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى ٢١وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰىۙ ٢٢لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰىۚ ٢٣
Allah berfirman, “Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?” Dia menjawab, “Ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya dan dengan tongkat itu aku menggugurkan (daun) untuk kambing dombaku, dan bagiku ada lagi manfaat yang lain.”Allah berfirman, “Lemparkanlah itu, wahai Musa!” Maka dia melemparkannya, lalu tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” “Dan dekapkanlah tanganmu ke dadamu, niscaya ia keluar putih tanpa cacat sebagai mukjizat yang lain.” “Agar Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang paling besar.”
Beberapa hari kemudian, Syaikhona Kholil kembali mengutus KH. R. As’ad untuk mengantarkan sebuah tasbih kepada KH. Hasyim. Saat menerima tasbih, KH. R. As’ad memohon agar Syaikhona Kholil mengalungkan tasbih tersebut ke lehernya, lalu ia diperintahkan membaca “Yā Jabbār Yā Qahhār” hingga tiba di Tebuireng.
KH. Hasyim Asy’ari menangkap dua isyarat kuat tersebut dan memahami bahwa Syaikhona Kholil telah merestui didirikannya Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Setahun kemudian, pada 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H di Surabaya, para ulama se-Jawa dan Madura berkumpul dan sepakat mendirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama.
Ketika NU memutuskan menjadi partai politik dan keluar dari Partai Masyumi pada tahun 1952, KH. R. As’ad bersama para ulama senior melakukan pengembangan dan pengabdian menuju politik kebangsaan. Pada tahun 1957, beliau menjadi juru kampanye Partai NU dan dipercaya sebagai penasihat pribadi KH. Idham Chalid, Wakil Perdana Menteri RI saat itu. Hingga akhir hayat, beliau menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Pembelaan NKRI
Peran KH. R. As’ad dalam perjuangan mengusir penjajah tampak nyata dalam berbagai peristiwa. Pondok pesantrennya sempat menjadi target serangan pasukan kolonial. Melalui kepemimpinan dan ketangguhannya, sekitar 10.000 orang di lingkungan pesantren berhasil dievakuasi.
Keterampilan beliau dalam seni bela diri dan strategi perang membuahkan kemenangan pasukan Indonesia dalam pertempuran di Bantal Asembagus, ketika Belanda berusaha mengepung markas TNI.
Sosok KH. R. As’ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan, dan visi perjuangan yang lengkap—mendalami agama, menguasai strategi militer dan bela diri, serta mampu mengomando para bandit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.
Pada masa genting menjelang 10 November 1945, KH. R. As’ad menggerakkan massa dan para santri untuk melawan penjajah di Surabaya dan sekitarnya. Dengan semangat jihad fī sabīlillāh, beliau memimpin barisan pejuang di wilayah Situbondo, Jember, hingga Bondowoso.
Bagi KH. As’ad, melawan penjajah bukan sekadar membela tanah air, melainkan juga membela kehormatan agama dan kemanusiaan.
Atas jasanya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum KH. R. As’ad Syamsul Arifin pada 9 November 2016 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 90/TK/Tahun 2016
Menerima Pancasila
Tanggal 21 Desember 1983, Munas NU memutuskan menerima Pancasila dan melakukan revitalisasi Khittah 1926. Dalam Muktamar NU XXVII (Desember 1984), diputuskan bahwa Pancasila menjadi asas organisasi.
NU menjadi ormas pertama yang menerima Pancasila. Gagasan besar KH. Achmad Shiddiq dalam menerima Pancasila diiyakan oleh KH. R. As’ad bersama KH. Mahrus Ali, KH. Masykur, dan KH. Ali Ma’shum.
Akibat keputusan itu, KH. R. As’ad kerap mendapat teror, surat kaleng, dan ancaman pembunuhan. Namun semua itu beliau hadapi dengan bijaksana, hingga akhirnya para kiai NU dan nahdliyin memahami bahwa penerimaan Pancasila adalah demi keutuhan NKRI.
Wasiat kepada Santrinya
KH. R. As’ad wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun. Meski telah wafat, dawuh (nasihat) dan petuah beliau masih diikuti oleh para santri dan pecintanya.
Beberapa wasiat beliau antara lain:
- Santri Sukorejo yang keluar dari NU (Nahdlatul Ulama) jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat.
- Santri saya yang pendiriannya tidak dengan saya, saya tidak bertanggung jawab di hadirat Allah Swt.
- Santri saya yang pulang atau berhenti harus ikut mengurusi dan memikirkan paling tidak salah satu dari tiga hal, yakni pendidikan Islam, dakwah melalui NU, dan ekonomi masyarakat.
- Istiqamah (terus-menerus) membaca Ratibul Haddad.
- Santri saya sebenarnya umum, anak siapa saja, dalam keadaan bagaimana saja, pasti selamat dan jaya asal jujur, giat, dan ikhlas.
Sumber Referensi:
Biografi KH As’ad Syamsul Arifin: Pahlawan Nasional Golongan Santri
https://ensiklopediaislam.id/asad-syamsul-arifin/
https://www.msn.com/id-id/masyarakat-budaya-dan-sejarah/sejarah/kh-as-ad-syamsul-arifin-ulama-pejuang-dari-makkah-yang-kobarkan-semangat-jihad-dan-tegakkan-harmoni-pancasila/ar-AA1Pj0Tf
https://id.wikipedia.org

Comments
References:
Winningz Casino Bewertung http://wiki.angloscottishmigration.humanities.manchester.ac.uk/
References:
First Casino Einzahlung shell.cnfol.com
References:
Holland Casino Test https://sites.fastspring.com:443/gapotchenko/order/contents?catalog=https://smartcard.phoenixopia.com/vitoalfaro7442
References:
Glorion Casino Einzahlung http://researchesanswered.akamaized.net/
References:
B7 Casino Login livesexcamgirls.chaturbate.com
References:
Vulcan Casino Test http://www.jobteck.co.in
References:
Best online roulette https://1gocasinotest.onlinespielhallende.workers.dev
References:
B7 Casino Erfahrungen https://www.mong9editor.com/