Hei sobat literasi, kita sering mendengar maqolah “orang alim lebih utama daripada orang ahli ibadah tetapi bodoh,” dan juga di kitab Minhaj Muta’allim karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali terdapat hadis nabi:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ والسَّلاَمُ، العَالِمُ حَبِيْبُ اللّٰهِ وَلَوْ كَانَ فَاسِقًا، وَالجَاهِلُ عَدُوُّ اللّٰهِ وَلَوْ كَانَ عَابِدًا
“Orang alim (mempunyai ilmu) akan menjadi kekasih Allah walaupun orang itu fasiq, dan orang bodoh (tidak mempunyai ilmu) akan menjadi musuh Allah walaupun orang tersebut ahli ibadah.”
Diceritakan juga oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali di kitab Minhaj Muta’allim bahwa zaman dahulu sudah ada perdebatan mana lebih mulia, orang alim fasiq dengan orang bodoh tetapi ahli ibadah.
Bahwa ada seseorang yang ingin mengetahui mana mulia orang alim fasiq dengan orang bodoh tetapi ahli ibadah. Singkat cerita datanglah orang tersebut ke tempat orang yang ahli ibadah tapi bodoh, lalu orang tersebut bicara di belakang dinding rumah ahli ibadah yang bodoh,
قَالَ يَا عَبْدِي؛ قَبِلْتُ دَعَوْتَكَ، وَغَفَرْتُ لَكَ ذُنُوبَكَ، فَاتْرُكْ العِبَادَةَ وَاسْتَرِحْ
“Hai hambaku, sesungguhnya aku menerima doamu dan mengampuni dosamu, maka dari itu tinggalkanlah ibadahmu dan istirahatlah.”
Orang ahli ibadah yang bodoh menganggap bahwa ini adalah kalamnya Allah padahal itu adalah ucapan orang yang datang di rumah tersebut.
Maka, dijawablah oleh orang ahli ibadah yang bodoh,
قَالَ العَابِدُ إِلَهِي إِنِّي أَرْجُو مِنْكَ هَذَا، وَإِنِّي أَحْمَدُكَ، وَأَشْكُرُكَ، وَقَدْ عَبَدْتُكَ فِى زَمَانِ كَذَا وَكَذَا
“Orang ahli ibadah yang bodoh berkata: wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menunggu kabar ini, sesungguhnya aku memuji-Mu, syukur kepada-Mu, beribadah kepada-Mu disetiap saat.”
Akhirnya orang bodoh yang ahli ibadah menjadi kafir karena kebodohannya.
Lalu orang tadi pergi ke orang alim yang fasik dirumahnya dan berkata lewat dinding rumahnya,
فَقَالَ القَائِلُ يَا عَبْدِيْ وَأَنا رَبُّكَ وَأَسْتُرُكَ ذَنْبَكَ، وَأَنْتَ لَا تَسْتَحِي مِنِّيْ، فَإِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ أُهْلِكَكَ
“Wahai hambaku, sesungguhnya aku adalah tuhanmu dan aku telah menutupi dosamu, dan apakah kamu tidak malu kepada-Ku. Sesungguhnya Aku datang ingin membinasakanmu.”
Setelah mendengarnya, lalu orang alim tersebut mengambil pedangnya dan berkata,
يَا مَلْعُوْنُ، أَنْتَ لَاتَعْلَمُ رَبَّكَ فَإِنّيْ أَعْلَمُكَ رَبَّكَ
“Wahai orang yang dilaknat, sesungguhnya kamu tidak mengetahui tuhanmu. Maka sungguh akan aku kuasai tentang tuhanmu.”
Lalu pergilah orang tersebut. Maka dari sini terbuktilah bahwa orang alim lebih mulia daripada orang ahli ibadah yang bodoh.
Tetapi perlu diketahui, orang ahli ibadah adalah orang yang baik dan taat kepada Allah. Tetapi alangkah baiknya bahkan wajib ketika kita melakukan suatu ibadah, maka kita wajib mengetahui ilmunya, seperti ketika salat mengetahui syarat dan rukun salat, hal-hal yang membatalkan salat, dan lain-lain. Ketika kita melakukan demikian, kita akan menjadi orang yang ahli ilmu karena tujuan daripada ilmu adalah amal.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment