Dekapanmu selalu menciptakan candu
Dengan kedua sayap yang terbuka lebar
Menghangatkan segenap kalbu
Sembari melukis senyum yang bertebar
Ia laksana pelita di tengah angkasa
Menerangi samudra saat ternaungi awan kelabu
Tangisannya pecah, menandakan cita
Saat jiwaku turun di sisinya
Ia dengan sabar menanti diriku
Hingga melewati panjangnya masa
Dengan tabah, ia mendidik diriku
Oleh segudang jendela dunia
Walau diriku sering membuatnya tersedu
Rasa cemas terus menyelimuti dirinya setiap waktu
Saat diriku yang selalu berlari pergi
Mengarungi kehidupan yang terus memburu
Walau ia tak sanggup untuk berdiri
Raga ini tak sanggup membalas secuil jasa,
Yang telah ia limpahkan tempo waktu.
Meski dunia kubawakan ke hadapannya,
Masih kurang untuk melunasi setetes air matamu.
Walau ia tak punya sepasang sayap,
Walau ia tak mampu hidup abadi.
Jiwa dan raga sudah terasa mantap,
Akan kehadiranmu yang terkenang hingga mati.
Penulis: Fatih Fadilah

Comment