Di ufuk waktu tahun 2026, ketika algoritma mulai mendikte nurani dan realitas digital seringkali mengaburkan jati diri, kita kembali berdiri di ambang pintu sejarah. Hari ini, kita tidak hanya mengenang seorang perempuan berpakaian adat yang potretnya menghiasi dinding kelas, melainkan kita memanggil kembali ruh seorang pemikir besar yang pemikirannya melampaui sekat zaman.
Sejarah Kartini yang Jarang Diungkap di Bangku Sekolah
Sayang sejarah Kartini mengaji Al-Qur’an tidak pernah diterangkan di bangku sekolah, Yang diterangkan cuma Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ada anak putri dalam usia tiga belas tahun ke pesantren mengaji Al-Qur’an menjadi pendekar bangsa, harum namanya. Tapi namanya bukan Harum, Kartini namanya. Kartini itu cucu kiai. Di Mayong, Jepara, ada kiai namanya Kiai Madirono, punya istri bernama Bu Aminah, punya anak putri bernama Ngasirah, dinikah Bupati Jepara punya anak putri namanya Kartini. Mengaji Al-Qur’an menjadi muridnya K.H. Sholeh Darat Semarang.
Bahkan ada dialog antara Kartini dan Kiai Sholeh ketika Kartini diajari tafsir Al-Qur’an pakai bahasa Jawa. Kartini berkata,
“Kiai, tolong Kiai. Saya tadi diajari Kiai tafsir Al-Qur’an pakai bahasa Jawa, Kiai, hati saya tenteram Kiai. Tolong Kiai, tafsirkan Al-Qur’an seluruhnya ke dalam bahasa Jawa,” kata Kartini. “Biar untuk pedoman putri-putri Tanah Jawa.”
Waktu itu Kartini tidak mengatakan putri Indonesia. Kenapa? Karena pada zaman Kartini, nama Indonesia belum lahir. Yang ada Jawa Dwipa, Nusantara. Kalimantan belum ada, yang ada Borneo. Sulawesi belum ada, yang ada Selebes. Sumatera belum ada, yang ada Andalas. Jakarta belum ada, yang ada Sunda Kelapa.
Lalu, Kiai Sholeh menjawab,
“Kartini, menafsiri Al-Qur’an tidak gampang. Tidak sembarang orang diperbolehkan menafsiri Al-Qur’an.” Kata Kiai Sholeh.
“Orang diperbolehkan menafsiri Al-Qur’an dengan syarat mempunyai ilmu alat tafsir yang lengkap, dari gramatika Arab: Nahwu, Shorof, Badi’, Ma’ani, Bayan, Muhaasanatil Kalam, Nasikh Mansukh, Asbabul Wurud, Asbabun Nuzul, dan lain sebagainya. Baru diperbolehkan menafsiri Al-Qur’an. Tidak gampang, Kartini.”
Kartini berkata,
“Kiai, saya punya usul sama Kiai menafsiri Al-Qur’an, karena saya berkeyakinan semua ilmu sudah Kiai miliki.”
Akhirnya Kiai Sholeh menundukkan kepala, mencucurkan air mata, menangis karena heran ada anak putri kecil yang seperti ini cerdasnya, usul bikin tafsir.
Akhirnya Kartini dipanggil Kiai Sholeh. Kiai Sholeh berkata,
“Kartini, doakan saja mudah-mudahan saya bisa menafsiri Al-Qur’an tiga puluh juz pakai bahasa Jawa.”
Dimulailah penafsiran Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Baru selesai tiga belas juz, dicetak pertama di Singapura dengan judul Faidhurrahman fi Tafsiiri Aayatil Qur’an karya KH. Sholeh Darat Semarang, atas usul R.A. Kartini. Bahkan Litbang Kementerian Agama mengatakan, Tafsir Faidhurrahman karya Kiai Sholeh atas usul Kartini tersebut adalah tafsir pertama di Asia Tenggara.
Maka ketika Kartini melangsungkan pernikahan, Kiai Sholeh sang guru datang ke pernikahan membawa kado. Kadonya ialah tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa tiga belas juz. Ini yang dipelajari oleh Kartini.
مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
Dari kegelapan menuju cahaya: Manifestasi Spiritual yang Terdistorsi
Selama satu abad, narasi “Habis Gelap Terbitlah Terang” kerap disajikan sebagai slogan emansipasi yang sekuler. Namun, sejarah yang kini mulai terkuak dari balik debu perpustakaan menceritakan kisah yang berbeda. Kata-kata legendaris “Door Duisternis Tot Licht” bukanlah sekadar puitika sastra Belanda, melainkan sebuah gema dari wahyu Allah Swt. Surah Al-Baqarah ayat 257:
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ
Kartini, sang “Pendekar Bangsa”, adalah seorang pencari Tuhan yang gigih. Di bawah asuhan Kiai Sholeh Darat, ia menembus kegelapan ketidaktahuan melalui cahaya tafsir Al-Qur’an. Ia bukan sekadar ingin bebas untuk bersekolah, ia ingin merdeka untuk memahami kalam Illahi dalam bahasa yang dimengerti oleh rakyatnya yaitu Bahasa Jawa. Inilah akar literasi sejat, saat ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi barang asing bagi pemiliknya sendiri.
Jejak yang Dihapus: Diplomat Tafsir Pertama di Asia Tenggara
Seringkali, sejarah sekolah kita alpa menceritakan bahwa di tangan Kartini-lah ide besar lahirnya Tafsir Faidhurrahman bermula. Saat dunia belum mengenal istilah pemberdayaan perempuan secara masif, Kartini telah bersimpuh di hadapan Kiai Sholeh Darat, meneteskan air mata kecerdasan, dan meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan ke bahasa lokal.
Ia adalah arsitek di balik tafsir pertama di Asia Tenggara. Ia paham bahwa tanpa akses pada sumber kebenaran, perempuan Nusantara akan selamanya terbelenggu dalam tradisi yang menyimpang. Di tahun 2026 ini, semangat Kartini adalah semangat demokratisasi ilmu. Jika dahulu ia memperjuangkan akses pada kitab suci, kini ia menantang kita untuk menguasai teknologi dan data tanpa kehilangan integritas spiritual.
Keteguhan Identitas di Arus Globalisasi
Ketika surat-surat dari Amsterdam dan Leiden datang menawarkan janji-janji manis kepada Kartini untuk berpindah keimanan/agama dan kemajuan Barat yang mengharuskan pelepasan identitas, Kartini tegak dengan satu kalimat yang membungkam keraguan:
“Saya Kartini tidak mungkin berpindah agama. Agama saya Islam Tauhid.”
Inilah motivasi terbesar bagi generasi Alpha dan Gen Z hari ini. Di dunia yang semakin tanpa batas, menjadi “modern” bukan berarti kehilangan akar. Menjadi “global” bukan berarti membuang tauhid. Kartini membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi sangat cerdas secara Barat, namun tetap bersujud dengan khusyuk sebagai hamba Timur.
Selamat Hari Kartini. Mari kita rayakan hari ini dengan kembali membaca, kembali bertanya, dan kembali mengakar. Jangan biarkan sejarah “mengaji” Kartini terkubur lagi. Jadilah Kartini yang literat, yang beriman, dan yang berdaulat atas pikirannya sendiri.
Sebab, kemajuan tanpa iman adalah buta, dan iman tanpa ilmu adalah lumpuh. Mari melangkah dari gelap menuju cahaya.
Sumber Referensi: Tausiyah KH. Achmad Chalwani dalam Nu Online dan Ngaos Bapak
Sumber Foto: Wikimedia Commons

Comment