Home / IAI An-Nawawi / Wisuda XII IAIAN Purworejo, Rektor Tegaskan Generasi Muda Tidak Lemah, Namun Sedang Mencari Makna
Berita IAI An-Nawawi

Wisuda XII IAIAN Purworejo, Rektor Tegaskan Generasi Muda Tidak Lemah, Namun Sedang Mencari Makna

Purworejo, annawawiberjan.id (09/05/2026) Institut Agama Islam An-Nawawi (IAIAN) Purworejo sukses mencetak lulusan muda melalui Wisuda Sarjana Ke-12 dan Wisuda Pascasarjana Ke-1 yang diselenggarakan pada Sabtu di halaman Gedung Pendidikan An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo. Perhelatan penuh khidmat ini menjadi momentum refleksi mendalam mengenai peran wisudawan di tengah perubahan zaman yang kian dinamis.

Tercatat sebanyak 162 wisudawan dikukuhkan dalam wisuda ini, yakni 160 wisudawan program sarjana dan 2 wisudawan program pascasarjana. Di antaranya terdiri dari 48 wisudawan Fakultas Syariah, 31 wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, 70 wisudawan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, 11 wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, serta 2 wisudawan program Magister Manajemen Pendidikan Islam.

Sebanyak 162 wisudawan dikukuhkan dalam wisuda tahun ini.

Masing-masing wisudawan telah melewati proses akademik yang ketat. Banyak di antaranya berhasil meraih predikat cumlaude berkat capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. Suasana haru sempat menyelimuti lokasi saat penganugerahan gelar sarjana pendidikan secara anumerta diberikan kepada almarhumah Afifatul Hamidah sebagai bentuk apresiasi tinggi atas perjuangan akademiknya.

Dalam sambutannya, Rektor IAIAN Purworejo, Hj. Ashfa Khoirun Nisa’ memberikan pesan inspiratif dan menepis pandangan negatif terhadap generasi muda.

Generasi muda hari ini sering kali diberi banyak label. Generasi instan, generasi lemah, generasi rebahan, dan generasi yang sensitif. Padahal generasi muda sekarang adalah generasi yang mampu mengubah trend minum alkohol menjadi trend minum kopi. Generasi muda sekarang melek tentang kesehatan mental. Mengubah gaya hidup malam menjadi gaya hidup sehat. Ucap perempuan yang akrab disapa Irun.

Rektor IAI An-Nawawi sampaikan sambutan usai prosesi wisuda.

Irun juga mengungkapkan bahwa hal yang perlu disadari bersama adalah hampir setiap generasi pernah dipandang negatif oleh generasi sebelumnya.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Kami yang hari ini berdiri sebagai orang tua, dosen, guru, dan pimpinan lembaga pun dahulu pernah dianggap terlalu muda, terlalu berani, terlalu berbeda, and bahkan terlalu idealis. Because, every generation brings a new language to the world. (Karena, setiap generasi memiliki bahasa baru untuk dunianya). Memang ada tantangannya. Banyak dari generasi muda yang belajar lewat algoritma, mengaji melalui layar yang ringkas, kadang dangkal asal viral. Ungkapnya.

Oleh sebab itu, Irun menegaskan bahwa tugas generasi pendidik adalah merangkul generasi muda dan menjaga potensinya. Sementara itu, tugas generasi muda adalah membuktikan bahwa mereka tidak lemah, melainkan sedang melakukan pencarian makna yang mendalam di tengah arus informasi yang serba cepat.

Maka, tugas kami bukanlah menghakimi, melainkan membimbing, mendampingi, dan merangkul agar potensi besar itu tidak hilang. Dan tugas kalian adalah membuktikan bahwa generasi muda ini bukanlah generasi yang lemah, melainkan generasi yang sedang mencari makna. Tegas Irun.

Lebih dari itu, Irun mengajak seluruh wisudawan untuk senantiasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar almamater tersebut. Irun menekankan bahwa meskipun kampus ini memiliki akar pesantren yang sangat kuat, institusi tetap menanamkan semangat keterbukaan terhadap perkembangan dunia yang dinamis.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Banggalah menjadi alumni Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo, kampus dengan akar pesantren yang kuat, namun tetap terbuka terhadap perkembangan dunia. Ajak Irun.

Irun berpesan agar para lulusan tidak membiarkan latar belakang pendidikan menjadi batasan bagi masa depan. Sebaliknya, ia mendorong para wisudawan untuk berani berkembang sesuai dengan minat dan bidang masing-masing, baik di dunia akademik, publik, politik, maupun kewirausahaan.

Bagi yang tertarik di bidang akademik, jangan pernah berhenti belajar bahasa, baik bahasa Arab, bahasa Inggris, maupun bahasa internasional lainnya. Because language open civilization. (Karena bahasa membuka peradaban). Bagi yang tertarik di dunia publik dan politik, mulailah membangun relasi dan network sejak sekarang. Bagi yang tertarik menjadi enterpreneur, teruslah belajar membaca peluang, membangun kepercayaan dan memperluas jaringan. Dan bagi yang ingin menempuh jalan-jalan lain di kehidupan, silakan berkembang. Dunia ini luas, kesempatan tidak terbatas. Never think your background, limit your future. (Jangan pernah memikirkan latar belakangmu, sehingga hanya menghambat masa depanmu). Pesannya.

Dengan mengutip filosofi Lao Tzu, Irun menegaskan bahwa perjalanan seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama. Sehingga setiap wisudawan diharapkan dapat terus melangkah maju tanpa rasa takut karena dunia ini luas dan penuh dengan peluang tanpa batas.

Lao Tzu dalam Kitab Tao Te Ching mengatakan, ‘Qīan lǐ zhī xíng, shǐ yú zú xià,’ Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah pertama. Mungkin jika Anda melihat ada putri kiai menjadi desainer, itulah dunia tanpa batas. Pungkas Irun mengesankan.

Senada dengan hal tersebut, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan dan Moderasi Beragama RI, H. Farid Fakrudin Saenong dalam orasi ilmiahnya menekankan bahwa ijazah bukanlah akhir perjalanan menuntut ilmu, melainkan gerbang pengabdian.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Tentu saja wisuda ini bukan garis finish. Dalam konteks thalabul ‘ilmi tentu saja bukan garis finish untuk selesai belajar, ya. Justru malah menjadi tantangan baru buat kita untuk terus belajar, beraktualisasi dan pada akhirnya bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita semaksimal mungkin. Tegas H. Farid.

Staf Khusus Menteri Agama RI, H. Farid Fakrudin Saenong menjadi pengisi orasi ilmiah pada acara wisuda ke-XII.

Ketua Dewan Senat IAIAN Purworejo sekaligus pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, KH. Achmad Chalwani Nawawi turut memberikan pesan spiritual kepada para alumni untuk tetap menjaga tradisi keilmuan pesantren di mana pun mereka berada.

Mudah-mudahan kampus ini dapat segera menjadi universitas. Allahumma aamiin. Tapi tetap jangan sampai meninggalkan ngaji, betul? Karena ngaji ini penting sekali. Maka, mendoakan anak biar ngaji itu juga menjadi penting. Sebab anak-anak kita sekarang ini lebih taat kepada hp daripada orang tuanya, betul? Tutur Kiai Chalwani.

Kiai Chalwani juga menekankan pentingnya mendoakan anak agar rajin mengaji. Kiai Chalwani menceritakan pengalamannya mendapatkan do’a tersebut dari almarhum Simbah KH. Imam Yahya Mahrus Ali Lirboyo, Kediri.

Saya pernah dapat do’a supaya punya anak rajin ngaji dari almarhum Simbah KH. Imam Yahya Mahrus Ali Lirboyo, Kediri. Dan ini satu-satunya doa yang tertulis di Mimbar Rasul Madinah. InsyaAllah sudah pada hafal. Di kampung sini sering dibikin puji-pujian, yaitu:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ

Sekali lagi, ini penting sekali. Pesan Kiai Chalwani.

Sementara itu, Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah X Jawa Tengah, Prof. H. Musahadi menyoroti pentingnya tanggung jawab sosial bagi lulusan perguruan tinggi berbasis pesantren sebagai agen kemaslahatan umat.

Tanggung jawab sarjana, saya yakin bukan hanya untuk menghadirkan kebaikan diri sendiri, tetapi lebih dari itu, memiliki tanggung jawab sosial. Di mana dan siapapun sarjana, apalagi yang dari perguruan tinggi berbasis pesantren ini, maka dia harus bisa menghadirkan diri sebagai sumber kemaslahatan, sumber kebaikan bagi masyarakat sekitarnya. Khairunnas anfa’uhum linnas. Ujar Prof. H. Musahadi.

(Kopertais) Wilayah X Jawa Tengah, Prof. H. Musahadi tengah sampaikan sambutan.

Mewakili seluruh wisudawan, Usriya Hasna Agustin menyampaikan sambutan yang merefleksikan perjuangan panjang selama menempuh pendidikan di tengah ketatnya kewajiban pesantren. Bagi Usriya, ijazah merupakan bukti integritas yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Dunia di luar tidak akan bertanya berapa IPK-mu, melainkan apa yang bisa kamu lakukan. Mereka juga akan menilai seberapa tangguh karaktermu. Zaman ini tidak butuh orang pintar yang duduk manis dalam sangkar, tapi yang berani mengambil tanggung jawab, jujur di tengah gempuran ketidakpastian dan tetap memegang teguh akhlakul karimah sebagai kompas kehidupan. Wisuda bukanlah garis finish, ini adalah awal menuju pengabdian yang sesungguhnya. Teruslah tumbuh, teruslah belajar dan teruslah berkelana dengan senantiasa menanamkan nilai-nilai kepesantrenan dan menjaga identitas diri di mana pun kita berpijak. Pesan Usriya.

Acara ditutup dengan prosesi penyerahan ijazah bagi para wisudawan dan ikrar janji alumni sebagai bentuk komitmen pengabdian kepada agama, bangsa dan negara serta pengamalan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Comments

  1. References:

    B7 Casino Bonus ohne Einzahlung https://www.22cam.com

  2. References:

    Billybets Casino Bonus ohne Einzahlung http://oa.hist.edu.cn

  3. References:

    Beau Casino Bewertung https://www.play.net

  4. References:

    Steak Casino Bonus ohne Einzahlung https://jobteck.com.sg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *