Home / IAI An-Nawawi / Seminar Internasional Bahas Quarter Life Crisis Warnai Pembukaan Dies Natalis ke-25 IAI An-Nawawi Purworejo
Berita IAI An-Nawawi

Seminar Internasional Bahas Quarter Life Crisis Warnai Pembukaan Dies Natalis ke-25 IAI An-Nawawi Purworejo

Purworejo, annawawiberjan.id (16/05/2026) Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo resmi menggelar International Seminar sekaligus pembukaan Dies Natalis ke-25 pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung secara luring di Auditorium KH. Nawawi Shiddieq IAI An-Nawawi Purworejo dan daring melalui Zoom Meeting dengan mengusung tema “Quarter-Life Crisis: Who Am I Outside of My GPA?”.

Seminar dihadiri oleh civitas akademika, mahasiswa, serta peserta umum dengan menghadirkan narasumber nasional dan internasional. Adapun narasumber yang menyampaikan materi yaitu Mr. Mangesh B.E. (Project Manager – India), Dr. Lilis Fauziah Balgis (Chairperson of PC Pergunu Kabupaten Bogor), serta Fetra Nur Hikmah (Pemateri Psikologi dan Pengembangan Diri) Kegiatan dipandu oleh moderator.

Rektor IAI An-Nawawi Purworejo, Hj. Ashfa Khoirun Nisa, menyampaikan dalam sambutan bahwa mahasiswa saat ini hidup di tengah tekanan angka, target, pencapaian, dan standar sosial yang sering kali membuat seseorang kehilangan arah serta mempertanyakan jati dirinya.

Jika nilai, gelar, dan pencapaian hilang, lalu siapa diri kita sebenarnya?

Ibu Rektor menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun adab, ketangguhan, dan kebermanfaatan bagi sesama.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Rektor IAI An-Nawawi sampaikan sambutan dalam Seminar Nasional sekaligus pembukaan Dies Natalis.

Menurutnya, IPK hanyalah sarana dalam perjalanan akademik, sedangkan karakter merupakan fondasi utama pembentuk manusia.

Akar yang kuat membuat pohon tahan terhadap badai, dan sayap yang kuat membuat burung mampu menjelajahi langit. Begitu pula pendidikan Islam harus berakar pada nilai pesantren dan berkembang melalui kolaborasi untuk menjawab tantangan zaman.

Rektor IAI An-Nawawi juga berharap seminar tersebut menjadi ruang diskusi akademik yang mampu menghadirkan semangat saling mendengarkan, saling menguatkan, dan memahami perjuangan hidup masing-masing mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor turut mengutip perkataan Presiden India ke-11 dan ilmuwan ternama, Dr. A. P. J. Abdul Kalam:

Dream is not what you see in sleep, dream is something that does not let you sleep. (Mimpi bukanlah sesuatu yang kita lihat ketika tidur, tetapi sesuatu yang membuat kita tidak bisa tidur).

Kutipan tersebut dimaknai sebagai dorongan agar mahasiswa terus berproses dan berjuang mewujudkan mimpi yang dimiliki.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Sebelum membuka rangkaian Dies Natalis dengan bacaan Basmallah dan pemukulan Bedug, Rektor menutup sambutan dengan menyampaikan bahwa dalam kehidupan, kecerdasan memang penting untuk meraih kesempatan. Namun akhlak yang baik merupakan kunci agar seseorang dapat diterima dan dihargai di mana pun berada.

Beliau juga menegaskan sebuah ungkapan:

Nilai bisa membuka pintu kesempatan, tetapi akhlak membuat semua orang diterima di mana pun berada.

Materi Seminar

1. Psikologi dan Pengembangan Diri

Dalam pemaparannya, Fetra Nur Hikmah menjelaskan bahwa manusia hidup dalam sunnatullah Allah dan memiliki energi yang memengaruhi pola pikir maupun kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti banyaknya mahasiswa yang mengalami insecure, quarter life crisis, dan kebingungan menentukan arah hidup.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Fetra Nur Hikmah sebagai salah satu pemateri Seminar, menekankan pentingnya pengembangan diri.

Dalam penyampaian materinya, narasumber menekankan pentingnya kesamaan visi dan cara pandang dalam membangun keberhasilan, baik di lingkungan akademik maupun organisasi. Menurutnya, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekuatan energi kolektif yang lahir dari persamaan tujuan.

Ketika anda sebagai individu tidak memiliki perspektif yang sama, maka tidak akan ada ikatan untuk menarik kesuksesan mendekat pada diri kita. Karena kita semua adalah sebuah energi dan itu sunnatullah. Kita belajar sebagai akademisi untuk belajar itu.

Pokok Pembahasan memuat:

  • Pentingnya afirmasi positif dalam kehidupan sehari-hari.
  • Membangun keyakinan diri dan pola pikir optimis.
  • Menanamkan sugesti positif bahwa diri mampu, bahagia, dan sukses.
  • Mengelola tekanan mental di usia muda.

2. Quarter Life Crisis dan Identitas Diri

Dr. Lilis Fauziah Balgis mengajak mahasiswa memahami fase quarter life crisis sebagai bagian dari proses pendewasaan hidup. Mahasiswa diajak membayangkan berbagai kemungkinan masa depan setelah lulus kuliah.

Adapun pokok pembahasannya meliputi:

  • Pilihan hidup pasca kuliah:
  1. Melanjutkan beasiswa,
  2. Menikah,
  3. Bekerja sambil kuliah,• Langsung bekerja,
  4. Membangun mimpi dan usaha sendiri.
  • Gejala quarter life crisis:
  1. Kecewa terhadap ekspektasi,
  2. Merasa sendiri,
  3. Depresi,
  4. Menyalahkan keadaan.
  • Penyebab quarter life crisis:
  1. Tidak toleran terhadap diri sendiri,
  2. Lemahnya iman,
  3. Pengaruh flexing media sosial,
  4. Tidak siap menghadapi kebebasan,
  5. Tidak mau berproses,
  6. Tidak mampu mengukur diri,
  7. Tekanan lingkungan dan komentar netizen.

Ia juga menegaskan bahwa IPK hanyalah sarana, sedangkan ukuran kemuliaan seseorang terletak pada ketakwaan, ibadah, akhlak, dan manfaat bagi orang lain.

3. Pentingnya Organisasi dan Relasi

Dr. Lilis Fauziah Balgis juga menekankan pentingnya membangun jaringan dan aktif dalam organisasi. Menurut beliau, tidak semua orang terlahir dengan privilege ataupun memiliki “orang dalam”, sehingga relasi dan pengalaman organisasi harus dibangun sendiri sejak dini.

Ia menyampaikan bahwa ketika lulus nanti, akan terlihat perbedaan antara mereka yang aktif berjam’iyah dengan yang berjalan sendiri sebagai individu.

Kalau kita bukan terlahir dari privilege dan tidak punya orang dalam, maka kita harus membangun itu sendiri. Karena itu, teman-teman harus berorganisasi.

Dr. Lilis Fauziah Balgis mengibaratkan hal tersebut seperti sapu lidi yang menjadi kuat karena bersatu, pentingnya organisasi sebagai sarana membangun jaringan, memperluas relasi, serta memperkuat perjuangan bersama.

Sapu lidi dapat membersihkan karena bersatu. Jika hanya satu lidi, maka tidak memiliki kekuatan.

Pokok pembahasan terdiri dari:

  • Organisasi sebagai tempat membangun jejaring sosial.
  • Pentingnya solidaritas dan kerja sama.
  • Melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
  • Memperkuat perjuangan kolektif mahasiswa.

4. Quarter Life Crisis dan Arti Kesuksesan

Dalam materinya, Mr. Mangesh, B.E. menekankan bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai melalui konsistensi, disiplin, dan kemauan untuk terus berkembang.

Dalam pemaparannya, narasumber juga menjelaskan bahwa makna kesuksesan tidak selalu diukur dari materi atau uang semata. Menurutnya, kesehatan, ketenangan hidup, serta kemampuan berpikir dan memahami realitas juga merupakan bagian penting dari kesuksesan.

Ia turut menyoroti perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang memiliki dampak positif sekaligus tantangan bagi kehidupan manusia.

Definisi sukses itu tidak selalu tentang uang. Bisa jadi badan yang sehat juga sebuah kesuksesan. Teknologi itu bagus, tetapi tidak sepenuhnya baik. Di satu sisi memberi kemudahan, namun di sisi lain juga bisa berbahaya. Jika otak kita terlalu bergantung pada AI, ketika ada yang membicarakan matematika, sejarah, atau Pancasila, kita justru tidak tahu.

Pokok pembahasannya berikut ini:

  • Meninggalkan kemalasan dan kebiasaan mencari alasan.
  • Pentingnya konsistensi proses dan target hidup.
  • Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan diri.
  • Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus akan menghasilkan perubahan besar.
  • Perbedaan personal branding dan flexing media sosial.
  • Menjaga kesehatan mental dan lingkungan sosial yang sehat.
  • Memanfaatkan waktu untuk pengembangan diri dibanding gaya hidup tanpa arah.

Mr. Mangesh, B.E. juga menegaskan bahwa kesuksesan tidak selalu tentang uang, tetapi juga tentang kesehatan, pola pikir, kemampuan belajar, dan kebermanfaatan bagi orang lain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *