Di bawah langit Berjan yang mulai beranjak siang, tepat saat jarum jam menunjuk angka dua, sebuah ritme pengabdian yang sunyi dimulai. Di depan kamar mandi pengurus putra, beberapa santri putra dari kalangan pengurus dan 3 MDR mulai menyingsingkan lengan baju. Mereka adalah orang-orang yang secara jenaka, namun brutal secara fakta, yang kerap dijuluki sebagai “Mas-Mas Sampah”, yang sudah menjamak takdim salat Asarnya di waktu Zuhur.
Sebuah mobil pikap Panther yang terbuka telah bersiap. Di dalamnya, ada pembagian kerja yang lahir dari kebiasaan. Satu orang duduk di balik kemudi, sementara dua orang lainnya naik ke atas bak. Tugas mereka yang di atas tidaklah mudah. Mereka adalah arsitek tumpukan limbah, memastikan setiap kantong sampah tertata presisi agar tidak ada ruang yang terbuang percuma, sekaligus menjadi garda terdepan saat pembuangan nanti. Sisanya bergerak lincah di darat, menyisir tong-tong sampah dari satu asrama ke asrama lainnya.
Aroma pajegan bosok dan sisa konsumsi harian menjadi kawan akrab indra penciuman mereka. Namun, di antara tumpukan yang dianggap menjijikkan oleh sebagian besar orang, para petugas ini sering menemukan kejutan. Ada sandal yang masih layak pakai, hanger yang masih kokoh, bahkan sabun atau kipas angin yang dibuang tanpa alasan jelas.
Di sinilah kita belajar tentang hakikat kecukupan. Di atas bak mobil itu, sebuah renungan sering kali muncul tanpa diundang: bahwa apa yang menurut seseorang adalah kekurangan dan layak dibuang, bagi orang lain justru merupakan rezeki yang patut disyukuri. Namun, jika barang-barang itu sudah terlampau kotor dan menyatu dengan limbah yang membusuk, mereka hanya bisa berbisik, “Wallahu a‘lam.” Biarlah itu menjadi jatah rezeki bagi mereka yang mengadu nasib di gunungan TPA nanti.
Perjalanan pun dimulai, membelah jalan menuju TPA Berjan yang cuma-cuma, atau terkadang harus merogoh kocek menuju TPA Purworejo. Tak jarang, setelah membuang beban di Berjan, mereka masih harus mengangkut “residu” -sampah yang benar-benar telah kehilangan manfaatnya- untuk dibuang lebih jauh ke Purworejo.
Dari tumpukan residu inilah lahir sebuah quotes dari pendekar kebersihan di Berjan ini:
Sak sampah-sampahe dewe neng pondok, minimal ojo sampek dadi residu. (Sesampah-sampahnya diri kita di pondok, minimal jangan sampai menjadi residu).
Kalimat itu menjadi cambuk. Seburuk apa pun proses belajar kita, jangan sampai kita menjadi manusia residu, manusia yang tidak lagi memiliki sisi manfaat bagi sesama.
Waktu terus bergulir. Jika sampah sedang menggunung, ritual ini tak cukup sekali jalan. Dua kali putaran hingga senja menyapa pada pukul 17.30, atau bahkan berkali-kali putaran sampai lampu-lampu jalan sudah benderang dan waktu Isya telah masuk sebelum pekerjaan benar-benar tuntas.
Lelah itu baru terbayar saat mereka sampai di dapur ndalem. Di sana, piring-piring nasi telah menanti sebagai penawar letih. Tergantung komando sang sopir, terkadang mereka makan dulu untuk mengisi tenaga, atau mencuci mobil dan sepatu bot lebih awal agar bau sisa perjuangan tidak melekat terlalu lama.
Begitulah cara mereka mencintai pondok. Bukan dengan retorika, melainkan dengan tangan yang kotor agar lingkungan tetap bersih, dan dengan hati yang lapang agar makna rezeki tak pernah mati.
Penulis: Alfan Shidqi
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment