Home / Narasi Santri / Kenapa Kita Lebih Tertarik Pada Hal Negatif
Artikel Himpunan Daerah HISBAN Narasi Santri

Kenapa Kita Lebih Tertarik Pada Hal Negatif

Prolog

Semakin panas informasi yang kita dapat, biasanya akan semakin susah bagi kita untuk memendamnya, ya enggak sih? Hahaha. Hiraukan saja dengan pesan “cukup kamu saja yang tahu”. Saat malam tiba dan kitab sudah tidak lagi terbuka, di sinilah biasanya hal buruk ini dimulai.

Namun, pernahkah terpikir kenapa kita lebih betah menerima informasi negatif daripada membahas hal-hal positif? Dalam dunia jurnalistik pun, media berita sudah lama mengenal prinsip bad news is good news. Nah, ternyata dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai negativity bias.

Definisi Negativity Bias

Negativity bias atau bias negatif adalah kecenderungan alami otak manusia untuk lebih fokus, mengingat, dan bereaksi lebih kuat terhadap peristiwa, emosi, atau informasi negatif dibandingkan terhadap hal positif dengan intensitas yang setara.

Warisan Nenek Moyang

Lucunya, kecenderungan kita untuk lebih mudah tertarik dan memikirkan hal-hal negatif ini sebenarnya merupakan warisan dari nenek moyang kita dahulu. Di zaman purba, manusia harus sangat peka terhadap suara semak-semak yang mencurigakan demi menghindari terkaman predator.

Jadi, otak kita memang dirancang memiliki alarm bahaya yang sangat sensitif supaya manusia bisa bertahan hidup. Masalahnya, kita hidup di zaman modern, tetapi setelan otak kita masih memakai “mode purba” tersebut. Alhasil, kita menjadi sangat mudah terpikat pada berita duka, gosip hangat, atau drama di media sosial.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Secara Sains

Secara ilmiah, bagian otak yang bernama amigdala memang memproses informasi negatif dengan jauh lebih cepat dan intens. Itulah sebabnya kita sering terjebak dalam lingkaran rasa penasaran. Tahu kalau berita itu membuat cemas atau kesal, tetapi mulut kita tetap saja tidak bisa berhenti membicarakan dan membacanya sampai habis.

Kita seperti memiliki magnet tersembunyi yang selalu tertarik pada hal-hal yang membuat pikiran menjadi mendung.

Tameng Diri

Kunci utama agar tidak terjerat jebakan otak ini adalah kesadaran. Sadar bahwa mengulik informasi negatif terlalu lama tanpa mengambil hikmah dari suatu kejadian tidak akan pernah memperbaiki diri kita sendiri.

Hari ini mungkin dia, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa besok bukan kita?

Mudahnya, ketika menerima informasi negatif ya “cukup tahu” saja. Berkaca pada diri sendiri dan bertanya, “apa yang harus dibenahi darimu, wahai aku?”

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Sumber Referensi:

  1. https://psychology.binus.ac.id/2022/07/28/waspada-negativity-bias-menurunkan-kualitas-hidup/
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Bias_negatif

Penulis: Alfan Shidqi

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *