Purworejo, annawawiberjan.id (12/06/2026) Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, sukses menyelenggarakan puncak Haflah Khataman Akhirus Sanah ke-47 yang dirangkaikan dengan Khataman Al-Qur’an Bin-Nadhor pada Jumat malam.
Acara yang berlangsung khidmat di kompleks pesantren ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghozali Bolu, Tulungagung, K.H. Muslih Ghozali, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Magelang, K.H. Muhammad Azhari Al-Hafidz, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Muhajirin, K.H. Sarjono, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, K.H. Achmad Chalwani, Ketua Yayasan An-Nawawi, K.H.R. Muhammad Maulana Alwi, Rektor IAI An-Nawawi, Hj. Ashfa Khoirun Nisa’, segenap alim ulama, wali santri, serta ribuan santri dari berbagai daerah tanah air.
Dalam sambutannya, ketua panitia, Muhammad Khoirul Anam menyampaikan motivasi bagi para santri agar senantiasa optimis dalam meraih masa depan.
Ada banyak cara untuk mencapai angka 10. Begitu pun untuk mencapai kesuksesan. Maka jadilah 10 dengan versi terbaikmu. Jangan takut untuk jatuh dan jika jatuh, jangan ragu untuk bangkit kembali. Mari kita menjadi orang-orang yang berani berkata pasti bisa. Pasti bisa untuk beribadah kepada Tuhan, untuk mewujudkan cita-cita bangsa, untuk keluarga, dan untuk almamater Pondok Pesantren An-Nawawi tercinta ini. Ucapnya.
Mewakili wali santri, K.H. Sarjono menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada K.H. Achmad Chalwani Nawawi dan seluruh jajaran asatidz yang telah membimbing anak-anak mereka dengan penuh kesabaran.
Berkat jerih payah K.H. Achmad Chalwani beserta para guru dan asatidz, anak-anak kami kini telah memahami hal-hal yang sebelumnya tidak mereka mengerti, khususnya mengenai ilmu agama. Alhamdulillah, anak-anak kami semua telah sampai di titik ini berkat para guru. Ungkapnya.
Kiai Sarjono juga menekankan pentingnya bagi para santri yang telah lulus untuk tetap menjaga kedisiplinan, ketaatan pada aturan pesantren, serta terus berkhidmat kepada kiai agar ilmu yang didapatkan menjadi berkah dan bermanfaat di dunia maupun akhirat.
Dalam menuntut ilmu, silakan bersungguh-sungguh. Namun, meskipun kalian sangat pintar, jika tidak menaati aturan pesantren dan guru, akan sangat sulit meraih ilmu yang manfaat dan berkah. Maka, setelah diwisuda, teruslah berkhidmah di pondok. Dengan menaati aturan guru, insyaallah kalian akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Pesannya.
Prosesi wisuda kelas 3 Madrasah Diniyah Ulya dan kelas 3 Madrasah Diniyah Robithoh dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, K.H. Achmad Chalwani Nawawi sekaligus penyerahan ijazah kelulusan.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Chalwani menegaskan agar para santri senantiasa menjaga akhlak kepada guru dan tidak sekali-kali menyepelekan guru yang telah mendidik mereka.
مَنِ اسْتَخَفَّ بِأُسْتَاذِهِ ابْتَلَاهُ اللهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ: كَلَّ لِسَانُهُ، وَنَسِيَ مَا حَفِظَ، وَافْتَقَرَ فِي آخِرِهِ.
Kanjeng Nabi ngendiko, barang siapa menyepelekan guru, tidak hormat, meremehkan guru, maka Allah Swt. akan menimpakan tiga penyakit kepadanya. Satu, sulit untuk bicara. Yang kedua, cepat lupa apa yang dia sudah hafal. Yang paling ngeri yang ketiga, akhir hidupnya jadi orang yang hina dina, tegas Kiai Chalwani.
Selain prosesi wisuda, acara ini juga dimeriahkan dengan pemberian penghargaan bagi santri berprestasi yang berhasil menuntaskan hafalan serta mengkhatamkan Kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam satu kali duduk.
Suasana haflah semakin khidmat dengan hadirnya K.H. Muhsin Ghozali dari Tulungagung yang menyampaikan mau‘idhotul hasanah. Dalam tausiyahnya, Kiai Muhsin ngungkapkan bahwa Pesantren An-Nawawi merupakan pesantren yang serba komplit.
Pesantren ini pesantren yang komplit, ada syariatnya, ada diniyahnya, ada Al-Qur’annya, dan juga ada thariqahnya
Tutur beliau saat menyoroti kekayaan khazanah keilmuan yang diajarkan di An-Nawawi Berjan.
Kiai Muhsin juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan ulama dan sesama sebagai cerminan akhlak santri. Terdapat satu hikayat yang menjelaskan:
مَنْ أَهَانَ خَمْسَةً خَسِرَ خَمْسَةً: مَنْ أَهَانَ الْعُلَمَاءَ خَسِرَ الدِّيْنَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأُمَرَاءَ خَسِرَ الدُّنْيَا، وَمَنْ أَهَانَ الْجِيْرَانَ خَسِرَ الْمَنْفَعَةَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأَقْرِبَاءَ خَسِرَ الْمَوَدَّةَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأَهْلَ خَسِرَ طِيْبَ الْمَعِيْشَةِ.
Barang siapa menghina ulama, maka ia rugi dalam urusan agamanya, barang siapa menghina umara’/pemerintah, maka ia rugi dalam urusan dunianya, barang siapa menghina tetangga, maka ia rugi karena kehilangan manfaat dari tetangganya, barang siapa menghina kerabat, maka ia rugi karena kehilangan kasih sayang/persaudaraan, dan barang siapa menghina keluarga/istri, maka ia rugi karena kehilangan kenyamanan dalam rumah tangganya. Tegas Kiai Muhsin.
Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa bersama sebagai bentuk syukur atas kelancaran acara dan harapan agar ilmu yang diperoleh para santri membawa manfaat bagi umat serta bangsa.

Comment