Home / Doa & Amalan / Bukan Sekadar Tahun Baru Hijriyyah, Muharram Punya 12 Amalan dan Jejak Sejarah Panjang
Doa & Amalan

Bukan Sekadar Tahun Baru Hijriyyah, Muharram Punya 12 Amalan dan Jejak Sejarah Panjang

Bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Islam. Bulan pertama dalam penanggalan Hijriyyah ini menyimpan kemuliaan, tuntunan amalan, serta catatan sejarah panjang yang menjadi pelajaran penting bagi umat Islam.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, K.H. Achmad Chalwani menjelaskan terdapat 12 amalan utama yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Muharram.

Kiai Chalwani menerangkan, 12 amalan Muharram tersebut termaktub dalam kitab I’anatut Thalibin karya Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi.

Dalam kitab I’anatut Thalibin, ada 12 amal yang perlu kita amalkan pada bulan Muharram ini. Jelas Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah tersebut.

Kiai Chalwani menjabarkan, 12 amalan di bulan Muharram tersebut adalah berpuasa, melaksanakan shalat, menyambung silaturahim, ziarah kepada para ulama, menjenguk orang sakit, menggunakan celak mata, menyantuni anak yatim, bersedekah, mandi, memasak makanan lezat untuk orang lain, memotong kuku, dan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Amalan tersebut terangkum dalam syair Arab:

صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ# رَأْسَالْ يَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَوَسِيْعِ الْعِيَالَ قَلِّمْ ظُفْرَاكَ # وَصُورَةَ الْإِخْلاَصِ قُلْ أَلْفًا تَصِلْ

Syair tersebut berisi rangkaian pesan untuk memperbanyak amal kebajikan pada bulan Muharram, mulai dari puasa, shalat, menyambung silaturahim, menyantuni anak yatim, hingga membaca Surat Al-Ikhlas.

Kiai Chalwani juga menyampaikan amalan tersebut melalui syair berbahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat.

“Wulan Suro umat Islam lakonono, Kautaman cacah rolas perkoro. 
Poso sholat silaturrahim sowan ulomo, nganggo celak adus lan tilik wong loro.
Ngusap sirah bocah yatim sodaqoho, masak enak mayorake keluargo.
Ngetok kuku ojo diingu dowo-dowo,
Surat Ikhlas kaping sewu podo diwoco.”

Artinya, bulan Muharram menjadi momentum bagi umat Islam untuk menjalankan berbagai amal kebajikan yang memiliki nilai keutamaan.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Muharram, Bulan Mulia dalam Islam

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam (al-asyhur al-hurum). Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa bulan-bulan haram memiliki kedudukan khusus. Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan dan menjaga diri dari perbuatan yang dilarang.

Salah satu keutamaan Muharram adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. datang ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah Swt. menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

Rasulullah Saw. bersabda:

أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Aku lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah Saw. bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Muharram dan Jejak Sejarah Para Nabi

Selain menjadi bulan penuh ibadah, Muharram juga memiliki jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan para nabi terdahulu.

Kisah yang paling kuat berdasarkan hadis adalah penyelamatan Nabi Musa AS bersama Bani Israil dari kekejaman Fir’aun. Peristiwa tersebut menjadi tanda kemenangan kebenaran atas kezaliman dan menjadi dasar anjuran puasa Asyura.

Selain itu, sebagian kitab tafsir dan sejarah Islam juga menyebut beberapa kisah besar yang dikaitkan dengan bulan Muharram, seperti keselamatan Nabi Nuh AS setelah banjir besar.

Dalam sejumlah literatur tafsir, disebutkan bahwa setelah air bah yang menimpa kaum Nabi Nuh AS, bahtera beliau berlabuh sebagai tanda keselamatan bagi orang-orang yang beriman. Namun, riwayat tentang keterkaitan khusus peristiwa tersebut dengan tanggal 10 Muharram tidak sekuat riwayat Nabi Musa AS.

Begitu pula kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS menghadapi Raja Namrud yang menjadi simbol perlawanan terhadap kesyirikan dan kezaliman. Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan para nabi selalu dihiasi ujian, pengorbanan, dan keteguhan dalam menjaga tauhid.

Muharram dan Tragedi Karbala

Selain menyimpan kisah para nabi terdahulu, Muharram juga mencatat salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa Karbala.

Tragedi tersebut terjadi pada tahun 61 Hijriyyah ketika Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw., bersama keluarga dan para pengikutnya wafat dalam konflik di Karbala.

Dalam kitab sejarah klasik Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya Imam Ath-Thabari dijelaskan berbagai peristiwa yang melatarbelakangi perjalanan Sayyidina Husain hingga terjadinya tragedi tersebut.

Peristiwa Karbala menjadi catatan penting umat Islam. Ia tidak hanya dikenang sebagai peristiwa duka, tetapi juga sebagai pelajaran tentang keberanian, kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan mempertahankan prinsip.

Karena itu, Muharram memiliki makna yang luas bagi umat Islam. Ia bukan hanya tentang pergantian kalender, tetapi juga kesempatan untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, serta mengambil hikmah dari perjalanan panjang sejarah Islam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *