Aku sekarang hampir berusia dua puluh tahun. Dua tahun lagi usiaku menginjak kepala dua. Namun, bertambahnya umur ternyata tidak menjamin seseorang menjadi lebih bijaksana. Tidak juga menjamin hatinya langsung pandai menerima segala keadaan.
Beberapa waktu lalu aku mendengar sebuah lagu dengan lirik, “Soal ikhlas, aku masih amatir.” Entah mengapa kalimat itu terasa seperti sedang menceritakan diriku sendiri. Ya, benar. Soal ikhlas, aku memang masih amatir.
Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa siapa yang berbuat baik pasti akan diperlakukan baik. Siapa yang tulus pasti akan menuai ketulusan. Doktrin itu begitu lama tinggal di kepalaku. Hingga ketika kenyataan berjalan berbeda, aku mulai kecewa. Aku bertanya-tanya, “Bukankah aku sudah berusaha menjadi orang baik?” Lucu memang. Ternyata aku belum benar-benar ikhlas. Aku masih menyimpan harapan agar setiap kebaikan dibalas dengan kebaikan. Ketika balasan itu tidak datang, aku gelisah. Bahkan, kadang cukup stres memikirkannya. Begitulah aku. Masih amatir.
Begitu pula ketika ada sesuatu yang sangat kusayangi. Sesuatu yang sudah begitu dekat, yang kurawat dengan penuh harapan, lalu tiba-tiba datang orang lain yang ingin mengambilnya. Rasanya sesak. Sulit menerima. Ada marah, ada kecewa, ada takut kehilangan. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku benar-benar ikhlas?” Jawabannya mungkin, iya… tetapi hanya sedikit. Sisanya masih dipenuhi ego yang belum selesai berdamai.
Barangkali selama ini aku terlalu sibuk meminta hidup berjalan sesuai keinginanku. Padahal hidup tidak pernah berjanji akan selalu berpihak kepada siapa yang paling ingin. Hidup hanya mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk kita miliki.
Aku teringat sebuah maqalah dari Imam Ibn ‘Atha’illah As-Sakandari:
ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ
“Kuburlah dirimu di tanah ketidaktenaran. Sebab, sesuatu yang tumbuh tanpa lebih dahulu tertanam, tidak akan menghasilkan buah yang sempurna.”
Mungkin maqalah ini bukan hanya berbicara tentang ketenaran. Bisa jadi ia juga mengajarkan kita untuk mengubur ego, mengubur rasa memiliki, dan mengubur tuntutan agar segala sesuatu selalu sesuai dengan keinginan kita. Sebab sering kali yang membuat kita sulit ikhlas bukan karena kehilangan itu sendiri, melainkan karena kita merasa paling berhak untuk memilikinya.
Aku masih amatir. Masih belajar menerima tanpa banyak bertanya. Masih belajar melepaskan tanpa membenci. Masih belajar percaya bahwa apa yang ditakdirkan pergi memang tidak pernah benar-benar menjadi milikku. Dan kepada Tuhan, aku hanya ingin berdoa, “Jika memang itu bukan untukku, lapangkanlah hatiku untuk merelakan. Namun jika itu memang telah Engkau tuliskan untukku, kuatkan langkahku untuk memperjuangkannya.” Sebab aku percaya, Tuhan tidak sedang memainkan dadu untuk menentukan nasib manusia. Dia Maha Mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh, siapa yang bersabar, dan siapa yang tetap berjalan meski berkali-kali kecewa.
Maka hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sudah ikhlas. Aku hanya ingin jujur. Soal ikhlas, aku masih amatir.

Comment