Home / Kajian Masyayikh / Ketika Ulama Mulai Ditinggalkan, 3 Petaka Ini Diam-Diam Mengintai Umat
Artikel Kajian Masyayikh

Ketika Ulama Mulai Ditinggalkan, 3 Petaka Ini Diam-Diam Mengintai Umat

Di tengah perkembangan media massa dan media sosial, masyarakat juga perlu semakin kritis dalam menerima informasi.

Tayangan televisi, pemberitaan, maupun konten digital memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Sebuah informasi yang ditampilkan secara berulang dengan sudut pandang tertentu dapat memengaruhi cara masyarakat memandang suatu kelompok atau lembaga.

Dalam konteks kehidupan umat Islam, muncul kekhawatiran ketika terdapat tayangan atau pemberitaan yang dinilai menyudutkan pesantren dan ulama. Framing negatif terhadap ulama dapat menggiring sebagian masyarakat untuk memandang buruk, menjauhi, bahkan menghina orang-orang yang selama ini menjadi rujukan keagamaan.

Kritik terhadap lembaga maupun tokoh agama tetap dimungkinkan apabila terdapat persoalan yang memang harus dikritisi. Namun, kritik hendaknya dibangun berdasarkan fakta, dilakukan secara adil, dan tidak digeneralisasi sehingga seluruh ulama atau pesantren dipandang buruk karena kesalahan oknum tertentu.

Sebab, ketika umat semakin jauh dari ulama, yang dikhawatirkan bukan hanya hilangnya figur yang memberikan nasihat keagamaan, tetapi juga melemahnya tradisi keilmuan dan adab dalam kehidupan masyarakat.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Dalam sebuah hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw. disebutkan:

سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي يَفِرُّونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيهِمُ اللَّهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ أُولَاهَا يَرْفَعُ اللَّهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيمَانٍ

Artinya:“Akan datang suatu masa kepada umatku ketika mereka lari dari para ulama dan fuqaha. Maka Allah akan menimpakan kepada mereka tiga macam musibah. Pertama, Allah menghilangkan keberkahan dari penghasilan mereka. Kedua, Allah memberikan kepada mereka penguasa yang zalim. Ketiga, mereka keluar dari dunia tanpa membawa iman.”

Hadis tersebut memberikan peringatan yang sangat serius tentang bahaya menjauh dari para ulama dan ahli ilmu.

Pesan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi bahan renungan bagi umat Islam agar tidak memandang sebelah mata keberadaan ulama. Sebab, ulama memiliki peran penting dalam menjaga ilmu, membimbing umat, dan meneruskan ajaran agama kepada generasi berikutnya.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Pertama: Hilangnya Keberkahan dari Rezeki

Musibah pertama yang disebutkan adalah hilangnya keberkahan dari penghasilan.

Keberkahan tidak selalu identik dengan banyaknya jumlah harta. Seseorang mungkin memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi belum tentu hartanya memberikan ketenteraman dan kemanfaatan.

Harta yang banyak dapat habis untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Penghasilan yang besar dapat menjadi sumber kegelisahan apabila tidak digunakan dengan benar. Bahkan, kekayaan yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru dapat menjadi sebab seseorang semakin jauh dari-Nya.

Karena itu, persoalan rezeki bukan hanya tentang berapa banyak yang diperoleh, tetapi juga bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa ia digunakan.

Kondisi kehidupan modern semestinya menjadi bahan introspeksi. Ketika seseorang merasa rezekinya banyak tetapi selalu merasa kurang, memperoleh penghasilan tetapi tidak merasakan ketenteraman, atau memiliki harta tetapi tidak mampu menghadirkan kemanfaatan, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya jumlah hartanya, melainkan keberkahannya.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Kedua: Munculnya Penguasa yang Zalim

Musibah kedua yang disebutkan adalah munculnya penguasa yang zalim.
Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Kekuasaan seharusnya digunakan untuk menjaga amanah, memberikan keadilan, serta memperjuangkan kepentingan rakyat.

Namun, ketika kepemimpinan kehilangan nilai amanah dan keadilan, masyarakat dapat merasakan berbagai dampaknya. Kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, maupun berbagai tindakan sewenang-wenang dapat menjadi persoalan serius dalam kehidupan berbangsa.

Berbagai pemberitaan di media sosial mengenai persoalan korupsi dan kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat semestinya tidak hanya menjadi bahan kemarahan, tetapi juga bahan introspeksi.

Bukan berarti setiap persoalan kepemimpinan harus langsung disimpulkan sebagai akibat masyarakat menjauhi ulama. Namun, pesan hadis tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kualitas masyarakat dan kualitas kepemimpinan memiliki hubungan yang erat dengan nilai moral dan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Ketiga: Kekhawatiran Kehilangan Iman

Musibah ketiga sekaligus yang paling mengkhawatirkan adalah seseorang meninggalkan dunia tanpa membawa iman.

Menjauhi ulama dikhawatirkan dapat membuat seseorang semakin jauh dari nasihat agama. Ketika seseorang tidak lagi memiliki tempat untuk bertanya, belajar, dan mendapatkan bimbingan, ia dapat lebih mudah mengikuti hawa nafsu atau informasi keagamaan yang tidak jelas sumbernya.

Pada titik inilah keberadaan guru dan ulama menjadi sangat penting. Mereka bukan manusia yang terbebas dari kesalahan, tetapi selama mereka memiliki kapasitas keilmuan dan akhlak yang baik, nasihat serta bimbingan mereka dapat menjadi jalan bagi umat untuk menjaga keimanan.

Kekhawatiran tentang su’ul khatimah juga seharusnya mendorong setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh, menjaga pergaulan, memperbaiki akhlak, serta terus belajar agama kepada orang-orang yang memiliki kompetensi keilmuan.

Jangan Mudah Menghina Ulama

Fenomena sebagian masyarakat yang menyepelekan atau bahkan menghina ulama perlu menjadi bahan renungan bersama.

Ada kalanya sikap tersebut muncul karena seseorang merasa sudah mampu mendapatkan semua informasi melalui internet. Dengan mesin pencari, media sosial, dan berbagai platform digital, seseorang dapat menemukan jawaban atas hampir semua pertanyaan dalam waktu singkat.

Namun, mendapatkan informasi tidak selalu berarti memahami ilmu. Ilmu agama memiliki dimensi yang lebih luas. Ada teks yang harus dipahami konteksnya, ada perbedaan pendapat ulama yang perlu diketahui, ada kaidah yang harus dikuasai, dan ada adab yang harus dijaga.

Karena itu, seorang pencari ilmu perlu memiliki sikap rendah hati. Jangan sampai kemudahan memperoleh informasi justru melahirkan kesombongan intelektual.

Internet dapat memberikan banyak jawaban. Akan tetapi, ulama membantu seseorang memahami jawaban mana yang tepat, bagaimana konteksnya, dan bagaimana mengamalkannya.

Jangan Sampai Kemajuan Informasi Yang Membuat Kita Kehilangan Adab

Jangan sampai kemudahan mengakses ilmu membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan ulama.

Sebab, ilmu bukan hanya tentang mengetahui. Ilmu juga tentang memahami, mengamalkan, dan membawa seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Mendekat kepada ulama bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Menghormati ulama juga bukan berarti membenarkan setiap tindakan mereka. Namun, menjaga kehormatan ilmu dan menghargai orang-orang yang mendalami agama merupakan bagian dari adab yang perlu dipelihara.

Di tengah derasnya arus informasi, umat justru perlu semakin dekat dengan guru dan ulama yang terpercaya. Sebab, ketika informasi begitu banyak, yang paling dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak informasi, melainkan bimbingan untuk memahami mana yang benar dan bagaimana mengamalkannya.

Semoga kita tidak menjadi generasi yang kaya informasi tetapi miskin adab, banyak membaca tetapi kehilangan guru, dan pandai berbicara tentang agama tetapi jauh dari akhlak agama.

Artikel ini disarikan dalam Pengajian K.H. Achmad Chalwawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *