Purworejo – Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang digelar Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Kabupaten Purworejo, Minggu, (20/09/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Syaikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jilani Al-Hasani, cicit Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.
Jamaah telah memadati halaman Gedung Pendidikan Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan sejak pagi. Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan rangkaian pembukaan, khataman Khuwwajikan, serta mujahadah Waqiah bersama.

Sebelum memulai Mau’idhotul Hasanah, Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani menyerahkan sejumlah karya kepada Kiai Achmad Chalwani. Salah satunya merupakan kitab tafsir Surah Yusuf yang ditelaah berdasarkan tiga manuskrip asli. Di dalam kitab tersebut juga terdapat syiir yang ditulis Syaikh Fadhil untuk Kiai Achmad Chalwani.
Di tafsir Surah Yusuf ini beliau telaah dan teliti berdasar tiga kitab manuskrip asli, ujar Syaikh Fadhil melalui penerjemah.
Syaikh Fadhil juga memperkenalkan karya terbarunya yang membahas persoalan perempuan dalam perspektif Islam. Kitab tersebut berjudul Haqqul Mar’ah fil Islam dan disusun berdasarkan hasil diskusi serta permintaan Dr. (H.C.) Hj. Khofifah Indar Parawansa.
Dan ini adalah kitab karya terbaru, hasil dari diskusi dan permintaan Hj. Khofifah, Haqqul Mar’ah fil Islam,” ujar Syaikh Fadhil melalui penerjemah.
Menurut Syaikh Fadhil, kitab tersebut memuat argumentasi dan dalil mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan perempuan serta telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kitab Haqqul Mar’ah fil Islam diluncurkan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1448 H. yang diselenggarakan Pengurus Pusat Muslimat NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 19 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Fadhil juga menyampaikan rencana penyusunan kitab manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.
Insyaallah juga membuat manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan nanti dalam kitab tersebut akan disertakan persembahannya untuk Syaikh Chalwani. Kita akan menambahkan sedikit perjalanan hidup Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang boleh jadi belum pernah kita dengarkan, ujar Syaikh Fadhil melalui penerjemah.
Puncak kegiatan kemudian diisi dengan Mau’idhotul Hasanah oleh Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan sejumlah hal yang berkaitan dengan perjalanan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dalam menuntut ilmu.
Kedudukan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani sebagai Sulthanul Auliya dicapai melalui kesungguhan dalam belajar dan menuntut ilmu agama, tutur Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani.
Dalam Mau’idhotul Hasanah tersebut, Syaikh Fadhil juga menyampaikan wasiat ibu Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani ketika putranya masih remaja dan hendak berangkat menuntut ilmu ke Baghdad.
Wahai putraku, jangan kamu pernah berbohong sekalipun. Sekali-kali jangan bohong, tambah Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani.
Selain menyampaikan pesan tentang kejujuran, Syaikh Fadhil menjelaskan mengenai keimanan dengan merujuk pada kitab Al-Ghunyah karya Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.
Iman bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berkurang karena kemaksiatan.
Sementara itu, Kiai Achmad Chalwani menyampaikan pentingnya meneladani sifat-sifat baik guru dengan niat yang tulus.
Syukur, pak kiai kagungan mobil apik tiru, tuku mobil ojo niat madani. Nek niat madani ilang barokahe, niatono tiru. (Syukur, jika pak kiai mempunyai mobil bagus, dicontoh. Beli mobil jangan berniat menyamai. Jika berniat menyamai, hilang berkahnya, tetapi niatkanlah untuk mencontoh), tutur Kiai Achmad Chalwani dalam Mau’idhotul Hasanah.
Kiai Achmad Chalwani juga menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu serta melihat dan menyebut orang alim sebagai bagian dari amal yang mendatangkan pahala.
Jika orang saleh disebut, maka rahmat Allah akan turun, imbuh Kiai Achmad Chalwani.
Kegiatan berlangsung dengan pengamanan dan dukungan dari berbagai pihak. Sejumlah pelaku UMKM juga membuka usaha di area sekitar lokasi kegiatan.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani.

Comment