Home / Kajian Masyayikh / Isra dan Mikraj: Dialog Langit, Lahirnya Perintah Shalat dan Makna Dzikir yang belum diketahui
Kajian Kajian Masyayikh

Isra dan Mikraj: Dialog Langit, Lahirnya Perintah Shalat dan Makna Dzikir yang belum diketahui

Peristiwa Isra dan Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian. Namun, jika dicermati dengan saksama, Al-Qur’an hanya secara tegas menyebut peristiwa Isra, sementara Mikraj tidak dijelaskan secara eksplisit dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini bukan tanpa hikmah, melainkan mengandung pelajaran mendalam tentang iman, akal, dan kesiapan manusia dalam menerima perkara gaib.

Mengapa Al-Qur’an Hanya Menyebut Isra?

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. hanya menjelaskan peristiwa Isra, yakni perjalanan Nabi Muhammad Saw. pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Adapun peristiwa Mikraj -kenaikan Nabi ke langit hingga Sidratul Muntaha- tidak dijelaskan secara rinci dalam ayat Al-Qur’an.

Hikmah di balik hal ini adalah karena peristiwa Mikraj berada di luar jangkauan logika manusia. Perjalanan naik hingga langit ketujuh, bahkan bertemu langsung dengan Allah Swt. dalam waktu satu malam, merupakan peristiwa yang sangat berat diterima oleh akal. Jika Allah menjelaskannya secara detail dalam Al-Qur’an, niscaya akan semakin banyak orang yang menolak dan tidak mempercayainya.

Bahkan, dalam sejarah, terdapat orang-orang yang semula beriman, kemudian menjadi ragu dan berpaling karena tidak mampu menerima peristiwa Isra Mikraj secara utuh. Inilah ujian keimanan yang sangat halus namun mendalam.

Di tengah gelombang keraguan itu, muncul sosok sahabat yang sangat istimewa, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketika mendengar kabar Isra Mikraj, beliau tidak sedikit pun ragu. Dengan keyakinan penuh, beliau berkata bahwa apabila Nabi Muhammad Saw. menyampaikan peristiwa yang lebih dari itu, beliau tetap akan mempercayainya.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Keimanan Abu Bakar tidak dibangun di atas logika semata, melainkan atas kepercayaan mutlak kepada Rasulullah Saw. Dari sinilah beliau mendapatkan gelar ash-Shiddiq, orang yang membenarkan sepenuhnya. Sikap ini mengajarkan bahwa iman sejati terkadang menuntut kepasrahan hati di atas pertimbangan akal.

Mikraj dalam Penjelasan Kitab Al-Barzanji

Walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, peristiwa Mikraj diterangkan dalam berbagai kitab klasik, salah satunya Al-Barzanji. Dalam kitab tersebut disebutkan:

ثُمَّ رُفِعَ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى إِلَى أَنْ سَمِعَ صَرِيْفَ الْأَقْلَامِ بِالْأُمُوْرِ الْمَقْضِيَّةِ
‎إِلَى مَقَامِ الْمُكَافَحَةِ الَّذِيْ قَرَّبَهُ اللهُ فِيْهِ وَأَدْنَاهُ

“Kemudian beliau diangkat ke Sidratul Muntaha hingga mendengar deritan pena yang menuliskan ketetapan-ketetapan Allah, sampai pada maqam terbukanya tirai, di mana Allah mendekatkan Nabi dan memuliakannya.”

Dalam Mikraj ini, Nabi Muhammad Saw. menembus langit demi langit, hingga mencapai Sidratul Muntaha dan ‘Arsy, tempat yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk mana pun selain Nabi Muhammad Saw.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Adab Nabi di Hadapan Allah Swt.

Ketika Nabi Muhammad Saw. berada di hadapan Allah Swt., beliau tidak mengucapkan salam. Hal ini karena salam bermakna doa keselamatan, sedangkan Allah Swt. adalah sumber keselamatan itu sendiri. Oleh sebab itu, kepada Allah tidak diucapkan salam, melainkan tahiyyat, sebagaimana sabda Nabi:

‎لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللهِ بَلْ قُوْلُوْا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ لِأَنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ

“Kamu semua jangan mengucapkan salam kepada allah karena Allah Swt. pusat keselametan, karena salam itu mendoakan selamat. Maka kepada Allah Swt. jangan mengucapkan salam namun tahiyyat.”

Nabi Muhammad Saw. mengucapkan kalimat tahiyyat yang kemudian kita baca dalam tasyahud akhir salat. Dialog langit tersebut menjadi bagian penting dari ibadah salat yang hingga kini kita amalkan setiap hari.

Bacaan tahiyyat yang diucapkan Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Mikraj inilah yang kemudian menjadi bagian dari bacaan salat umat Islam hingga hari ini, yaitu:

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

‎التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ،
‎السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ،
‎السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
‎أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ،
‎وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
‎كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،
‎إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
‎اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
‎كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،
‎إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan hanyalah milik Allah. Keselamatan, rahmat, dan berkah Allah semoga tercurah kepadamu wahai Nabi. Keselamatan semoga tercurah kepada kami dan seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Shalat: Hasil Dialog Langit dan Kepemimpinan Nabi

Dalam peristiwa Mikraj, Nabi Muhammad Saw. mengusulkan kepada Allah Swt. agar umatnya menjadi umat yang saleh. Allah Swt. kemudian mensyaratkan kewajiban salat sebanyak 50 kali sehari semalam. Perintah ini diterima oleh Nabi, namun ketika turun, beliau bertemu Nabi Musa AS.

Nabi Musa AS., berdasarkan pengalamannya memimpin Bani Israil, menyarankan agar Nabi Muhammad Saw. memohon keringanan karena perintah tersebut sangat berat bagi umat. Nabi Muhammad Saw. pun kembali menghadap Allah Swt. untuk memohon keringanan. Proses ini terjadi hingga sembilan kali, dan setiap kali dikurangi lima waktu, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu salat dalam sehari semalam.

Peristiwa ini mengajarkan nilai kepemimpinan yang luhur: seorang pemimpin harus berani mengusulkan kebaikan bagi umatnya, tidak takut kehilangan kedudukan, selama yang diperjuangkan adalah kemaslahatan bersama.

Shalat dan Dzikir: Dua yang Tak Terpisahkan

Salat tanpa dzikir diibaratkan seperti kapal tanpa penumpang. Dzikir adalah ruh dari ibadah, pengikat hati dengan Allah Swt. Bahkan, dalam pandangan para ulama, dzikir memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Surga adalah hak manusia, sedangkan dzikir adalah hak Allah Swt. Karena itu, hak Allah lebih utama daripada hak manusia.

Oleh sebab itu, dzikir tidak boleh disepelekan. Dengan dzikir, hati menjadi hidup, iman terjaga, dan hubungan dengan Allah Swt. semakin kuat.

Peristiwa Isra dan Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad Saw., melainkan ujian iman, pelajaran adab, teladan kepemimpinan, dan pengingat pentingnya salat serta dzikir. Melalui peristiwa ini, umat Islam diajak untuk meneguhkan keyakinan, memperdalam ibadah, dan menjaga hubungan batin dengan Allah Swt. Semoga kita termasuk umat yang mampu mengambil hikmah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel ini disarikan dari materi ceramah KH. Achmad Chalwani.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *