Akhir-akhir ini, kata healing sering sekali kita dengar. Entah dari media sosial, obrolan teman, atau sekadar seliweran di linimasa. Kata itu seperti mewakili satu perasaan yang sama: capek. Capek dengan rutinitas, capek dengan tuntutan, capek juga dengan pikiran sendiri. Bahkan di lingkungan pondok sekalipun, rasa lelah itu kadang datang diam-diam.
Bagi sebagian anak muda, healing berarti menjauh sebentar dari keramaian. Ada yang ingin pulang, ada yang memilih diam, ada pula yang sekadar ingin tidak ditanya apa-apa. Dan itu wajar. Manusia memang tidak selalu kuat. Masalahnya, ketika healing hanya dipahami sebagai kabur sejenak dari masalah, rasa lega itu sering tidak bertahan lama. Setelahnya, beban yang sama bisa datang kembali.
Dalam agama, rasa lelah bukan sesuatu yang memalukan. Sejak awal, Islam mengakui bahwa manusia punya batas. Ketenangan pun tidak selalu datang dari luar diri kita. Al-Qur’an mengingatkan,
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ٢٨
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)
Dari ayat ini menjelaskan dengan zikir dapat menenangkan, bahwa di tengah ributnya pikiran, masih ada ruang sunyi tempat hati bisa beristirahat dan berzikir (mengingat Allah).
Di pesantren, kita akrab dengan istilah ikhtiar. Ikhtiar bukan berarti memaksa diri untuk selalu kuat. Ia adalah usaha yang dijalani sambil sadar bahwa hasil bukan sepenuhnya ada di tangan kita. Nabi Muhammad saw. pernah berpesan,
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)
Pesan ini terasa dekat dengan kehidupan santri yang belajar terus berjalan, meski kadang langkah terasa berat.
Sering kali healing dan ikhtiar diposisikan seolah bertolak belakang. Healing dianggap berhenti, sementara ikhtiar dipahami sebagai terus maju tanpa jeda. Padahal, keduanya bisa saling melengkapi. Berhenti sejenak untuk menata hati, memperbanyak doa, atau sekadar muhasabah justru bagian dari ikhtiar batin. Dari situ, langkah berikutnya bisa terasa lebih ringan.
Santri hari ini hidup di tengah zaman yang serba cepat. Perbandingan hidup, tuntutan berhasil, dan standar “harus jadi apa” tidak selalu berhenti di luar pagar pondok. Semua itu bisa ikut masuk ke kepala dan hati. Di sinilah pesantren punya peran penting: mengajarkan bahwa proses lebih utama daripada pamer hasil, dan bahwa lelah bukan tanda gagal, melainkan bagian dari perjalanan.
Akhirnya, healing dan ikhtiar tidak perlu dipilih salah satu. Healing membantu kita bernapas, ikhtiar mengajarkan kita tetap melangkah. Keduanya bisa berjalan bersama dalam doa yang pelan, belajar yang sabar, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya yang sedang berusaha.
Lelah dalam proses adalah hal yang wajar. Yang penting, kita tidak berhenti melangkah dan tidak kehilangan arah. Sebagaimana mahfudzat pesantren mengingatkan:
مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
“Siapa yang bersabar, ia akan menang.”
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment