Puasa Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi jauh lebih dari itu, puasa adalah salah satu jalan khusus atau karpet merah yang diberikan oleh Allah Swt. untuk umat Islam berlomba-lomba meraih gelar derajat tertinggi pencapaian sebagai umat manusia yaitu derajat orang bertakwa.
Namun, kemuliaan yang didapat sesuai dengan tingkatan puasa yang dijalani. Lalu apa saja tingkatan orang yang berpuasa?
Syaikh Imam Abu Hamid Al Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin Jilid II, tentang tiga tingkatan puasa:
اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوْصِ وَصَوْمُ خُصُوْصِ الْخُصُوْصِوَأَمَّا صَوْمُ الْعُمُومِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ كَمَا سَبَقَ تَفْصِيْلُهُوَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِوَأَمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الْخُصُوْصِ فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
“Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah Swt. (Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin Jilid II, Syirkat Al-Quds, Al-Qaherah)
Tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya.
Tingkatan pertama adalah puasa orang kebanyakan, yang seringkali hanya sekadar menahan perut dari makan dan minum serta menahan syahwat. Puasa ini adalah puasa yang paling sering dilakukan oleh umat Islam, namun seringkali tanpa ada perubahan nyata dalam perilaku dan kebiasaan sehari-hari antara saat puasa Ramadhan dan di luar bulan puasa.
Pada tingkatan ini, seseorang menjalani puasa dengan menyadari bahwa ia harus menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang hari. Akan tetapi, banyak orang yang terjebak dalam kebiasaan buruk, seperti berbicara kotor, menggunjing, atau melakukan perbuatan dosa lainnya. Ini adalah puasa yang hanya sekadar menahan fisik, tetapi tidak disertai dengan kontrol terhadap anggota tubuh lainnya.
Tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang sholih. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.
Berkaitan dengan puasa tingkatan kedua, adalah dalam sebuah hadis Nabi Saw. yang menerangkan tentang lima perkara yang dapat menghilangkan pahala puasa.
Hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra:
خَمْسَةُ اَشْيَاءَ تُحْبِطُ الصَّوْمَ الْكَذِبُ والْغِيْبَةُ والنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْغُمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
“Lima hal atau perkara yang dapat menghapus atau menghilangkan pahala puasa yaitu berbohong, gibah (ngerasani) orang, mengadu domba, sumpah palsu, melihat perempuan lain dengan syahwat.”
Orang-orang yang sholih adalah puasanya orang-orang yang selain meninggalkan hal-hal yang tersebut di atas pada tingkatan puasanya orang awam. Puasa pada tingkatan kedua ini juga menjaga seluruh anggota tubuh agar terhindar dari melakukan perbuatan dosa seperti :
- Menjaga mata agar jangan sampai melihat hal-hal yang diharamkan.
- Menjaga mulut, lisan atau perkataan seperti menjaga lisan dari gibah (ngerasani) orang, berbohong, mengadu domba (namimah).
- Menjaga telinga agar jangan sampai mendengarkan hal-hal yang dilarang atau makruh.
- Menjaga perut, dijaga agar ketika makan, berbuka puasa adalah dengan makanan dan minuman yang halal dan hanya secukupnya saja dan tidak berlebih-lebihan.
Selanjutnya tingkatan ketiga yaitu puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah Swt. Bahkan, pikiran selain Allah Swt dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.
Demikianlah tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali. Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk menempatkan puasa kita pada tingkatan puasa orang-orang yang terkhusus dengan mengikuti cara puasanya para Nabi dan Rasulullah Saw.
Artikel ini disarikan dari materi ceramah KH. Achmad Chalwani.

Comments
References:
Irwin Casino Auszahlung images.google.at
References:
Bwin Casino Einzahlung http://www.nwnights.ru/
References:
Amunra Casino Bonus https://forum.teacode.com/registration.jsp;jsessionid=D579B0F049C6CE59BE64BEFA834A13DB?backurl=http://ekardz.com/zlcjamal54291
References:
777 Casino Einzahlung http://sc.afcd.gov.hk/gb/jobs.khtp.com.my/employer/91100/1go-casino-bonus-2026-50-freispiele-ohne-einzahlung/
References:
Instant Casino Auszahlung sandlotminecraft.com
References:
Joo Casino Bonus ohne Einzahlung formation.opto-aof.com
References:
Venlo Casino App https://edudigital.xyz/employer/1go-casino-bonus-test-2026-150-startguthaben-50-free-spins-ohne-einzahlung/
References:
Ameristar casino east chicago https://1gocasinotest.onlinespielhallende.workers.dev/
References:
Casino Of Gold Bonus analyticsjobs.in