Biodata
Mas H. M. Khoirul Fata Putra dari KH. Ahmad Chalwani Nawawi dan Ibu Ny. Hj. Siti Sa’adah Achmad, akrab disapa Mas Fata, lahir pada tanggal 9 Maret 1986. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren dengan hubungan persaudaraan yang sangat erat, salah satunya dengan kakak beliau Hj. Ashfa Khoirun Nisa yang hanya terpaut usia dua tahun. Sejak kecil, keduanya sering bermain dan mengaji bersama di bawah bimbingan bapak Aziz dari Muntilan, Gunungpring.
Masa Kecil
Dalam bidang keilmuan, mas Fata menunjukkan bakat intelektual yang menonjol sejak dini. Proses belajarnya dinilai lebih unggul, cepat paham, dan fasih dalam melafalkan ayat-ayat suci. Ketekunannya terbukti saat beliau berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an pada usia sekolah dasar, kemudian saat Tsanawiyah mengikuti khataman bersama para santri di pondok. Setelah didikan awal bersama bapak Aziz, pendidikan beliau dilanjutkan secara intensif oleh sang nenek, Ibu Ny. Hj. Saodah Nawawi.
Kegiatan mengaji dilakukan secara rutin, terutama selepas shalat Magrib. Dalam suasana sederhana namun khidmat, beliau membimbing bacaan Al-Qur’an dengan penuh kesabaran. Kesalahan dibenarkan, kelalaian ditegur, namun semuanya dilakukan dengan kelembutan seorang ibu.
Menariknya, seusai pengajian dengan cucu-cucu, Nyai Saodah Nawawi kerap memberikan uang saku sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Pada era 1990-an, uang sebesar lima ratus rupiah bukanlah jumlah besar, tetapi, hal tersebut menjadi kenangan yang membekas. Lebih dari sekadar nilai materi, uang saku tersebut menjadi simbol perhatian, penghargaan, dan cinta.
Sosok Pribadi Mas Fata
Perilaku Keseharian
1. Disiplin dan Tegas
Dalam hal penampilan, beliau memiliki standar kerapian yang sangat rapi, beliau tidak menyukai santri yang berpenampilan kumal atau berambut gondrong tidak teratur. Meski santri kerap beralasan ingin memanjangkan rambut sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi, mas Fata tetap menekankan bahwa seorang penuntut ilmu harus terlihat rapi dan pantas, sehingga beliau tetap memerintahkan untuk memotong rambut tersebut secara tertib.
Kedisiplinan ini berlanjut pada pantangan terbesar beliau, yaitu sikap menyepelekan aktivitas mengaji. Beliau sangat tidak menyukai santri yang tidur saat pengajian berlangsung, karena bagi beliau, ilmu tidak bisa diraih dengan kelalaian. Beliau secara tegas mendobrak pemahaman umum yang keliru bahwa “tidur saat ngaji pun tetap mendapat berkah”, mas Fata justru menekankan bahwa keberkahan sejati hanya bisa dicapai melalui keseriusan dan kesadaran penuh dalam memahami ilmu.
Dalam ranah organisasi dan pendidikan, mas Fata dikenal sebagai pemimpin yang terjun langsung melakukan monitoring dan evaluasi. Beliau bukan tipe tokoh yang hanya memberikan instruksi manis, melainkan pengawal program yang detail; setiap langkah yang dirasa melenceng akan langsung beliau benahi dan evaluasi saat itu juga. Ketegasan beliau juga kerap disampaikan melalui teguran langsung maupun pesan singkat (SMS) jika mendapati pengurus pondok yang bertindak tidak kompak atau melampaui prosedur yang ada.
Selain itu, beliau sangat menjunjung tinggi kejujuran intelektual dan sportivitas dalam berpendapat, beliau akan sangat marah jika mendapati santri yang melakukan manipulasi data atau “pencurian intelektual” dengan menyampaikan argumen tanpa merujuk pada teks kitab asli. Selain itu, disiplin beliau mencakup aspek amanah dalam hal-hal kecil sekalipun, seperti yang terlihat saat beliau menguji integritas santri dalam menjalankan tugas sederhana. Bagi beliau, ketepatan dalam menjalankan amanat adalah cerminan dari kelurusan hati seorang santri.
Mas fata juga sangat tertib mengikuti jadwal pelajaran dan secara sadar menahan diri untuk tidak melakukan hobi. Beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi mencontohkan langsung. Misalnya, dalam hal kedisiplinan sekolah dan madrasah, beliau tetap tertib meskipun merupakan putra dari pengasuh pesantren. Hal itu sebagai teladan untuk para santri.
Prinsip disiplin ini juga terpancar dari kegigihannya dalam menguasai sebuah keahlian; bagi beliau, mempelajari sesuatu baik itu belajar menyetir mobil, musik, hingga belajar keilmuan harus dilakukan dengan fokus mendalam hingga benar-benar tuntas dan ahli tanpa kata setengah-setengah. Beliau memiliki prinsip bahwa jika menginginkan atau mempelajari sesuatu, harus dilakukan secara totalitas dan sungguh-sungguh hingga tuntas ke akar-akarnya.
Beliau pun dikenal tegas dalam menegakkan aturan, beliau tidak segan memberikan sanksi atau takzir kepada siapa pun yang melanggar kesepakatan ataupun meninggalkan ngaji. Ketegasan beliau juga ditujukan pada diri sendiri. Jika beliau menetapkan target untuk menguasai sebuah kitab atau keahlian tertentu, beliau akan memaksakan dirinya untuk disiplin hingga target tersebut tercapai tanpa toleransi terhadap kemalasan pribadi.
2. Tawaduk dan Menghargai Ilmu
Mas Fata menunjukkan bahwa ketawadukan seorang penuntut ilmu bukan berarti pasif, melainkan kerendahan hati untuk terus merasa kurang di hadapan samudera ilmu. Hal ini paling nampak pada sikap beliau terhadap status sosialnya sebagai seorang “Gus” atau putra kiai. Beliau dengan tegas pernah mengatakan
Gus itu dihormati karena kealimannya, bukan hanya sebatas karena putra kiai.
Beliau menolak untuk menggunakan hak istimewa (privilege) tersebut untuk mendapatkan penghormatan instan. Bagi beliau, kehormatan tidak diwariskan melalui darah, melainkan harus diperjuangkan melalui proses belajar. Beliau meyakini bahwa martabat seorang tokoh agama harus dibangun di atas fondasi keilmuan, sehingga beliau memilih untuk melebur bersama santri lain dalam pengajian dan musyawarah demi meraih ilmu tersebut secara mandiri.
Sikap tawaduk mas Fata tercermin kuat dari pribadi beliau yang egaliter dan enggan menonjolkan status sosial beliau sebagai putra kiai besar. Dalam suatu kesempatan, beliau tidak ragu bepergian menggunakan angkutan umum (angkot) dan bersikap layaknya penumpang biasa.
Sikap menghargai ilmu juga beliau manifestasikan melalui penghormatan yang luar biasa terhadap literasi dan rujukan orisinal. Mas Fata sangat memuliakan kitab sebagai wasilah ilmu, beliau kurang berkenan mengaji menggunakan kitab dengan kualitas cetakan yang buruk atau kertas yang tidak layak.
Baginya, memiliki kitab cetakan terbaik (seperti cetakan Beirut) bukan bentuk kemewahan, melainkan bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada karya para ulama agar semangat dalam mempelajarinya tetap terjaga. Selain itu, beliau sangat menghargai kejujuran intelektual. Dalam setiap diskusi atau musyawarah, beliau mendidik santri untuk selalu sportif dan jujur dalam menyampaikan pendapat, serta melarang keras tindakan memanipulasi argumen hanya untuk memenangkan perdebatan.
Penghargaan beliau terhadap ilmu juga terlihat dari caranya memandang sumber pengetahuan. Beliau tidak merasa cukup dengan satu guru atau satu sudut pandang saja. Ketawadukannya membawa beliau untuk terus mencari ulama-ulama spesialis di bidangnya, jika ingin mendalami ilmu nahwu, beliau akan mencari ulama nahwu di Purworejo, lalu menjadwalkan kunjungan rutin bersama pendereknya.
Beliau diketahui sering berguru kepada ulama-ulama besar seperti mbah Kiai Sodiq Purwodadi (Ayah Kiai Harun), mbah Kiai Kholil, dan mbah Kiai Mahin Sandali Butuh. Selain itu, beliau sangat menghargai proses pemahaman ilmu di atas segalanya, mas Fata saat dalam kelas madrasah maupun kuliah sangat aktif dalam berdiskusi, beliau selalu bertanya terkait mata pelajaran baik yang sudah beliau pahami ataupun belum hingga sampai ke akar akarnya, hal ini membuat para guru maupun dosen takjub kepada beliau yang sangat kritis.
Mas Fata menolak hanya formalitas atau simbol-simbol luar seperti seragam kelompok diskusi atau musyawarah, karena bagi beliau, yang paling utama dan harus dimuliakan adalah esensi dari ilmu dan musyawarah itu sendiri. Totalitas mas Fata tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga pada pembuktian visual yang nyata. Hal ini terlihat saat beliau menunaikan ibadah haji; beliau secara khusus membeli Muzah (kaus kaki yang terbuat dari kulit) untuk dibawa pulang ke tanah air.
Tujuannya adalah agar para santri dapat melihat secara langsung bentuk fisik dan cara penggunaan nyata dari objek yang selama ini sering mereka pelajari dan diskusikan di dalam kitab-kitab fiqih. Langkah ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap detail edukasi, memastikan bahwa pemahaman santri tidak hanya berhenti pada teks, melainkan mencapai pemahaman yang konkret dan akurat.
3. Terbuka dan Egaliter
Metode dakwah mas Fata dikenal sangat humanis melalui pendekatannya yang merangkul tanpa menghakimi, terutama terhadap santri yang dianggap “nakal”. Beliau secara sengaja masuk ke dunia mereka dengan mengikuti hobi atau kesenangan santri tersebut, seperti aktivitas isen-isen atau ilmu kanuragan, agar dapat membangun kedekatan emosional sebelum perlahan mengarahkan mereka kembali ke jalan yang benar.
Pesantren beliau bahkan menjadi rumah perlindungan bagi anak-anak yang sudah tidak sanggup dididik oleh orang tuanya, termasuk mereka yang datang sebagai pelarian dari luar Jawa, yang beliau terima dengan tangan terbuka tanpa memandang masa lalu kelam mereka. Beliau sering memberikan tanggung jawab khusus kepada mereka. sebuah langkah taktis yang membuat mereka merasa dihargai dan memiliki motivasi moral untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Keterampilan intelektualnya yang tajam memungkinkan beliau menyederhanakan persoalan agama yang rumit menjadi logika yang mudah dicerna, yang sering beliau sampaikan secara santai di sela-sela “jagongan” atau saat menjalankan hobi bersama santri, sehingga dakwahnya meresap secara natural tanpa kesan menggurui. Bahkan di sela-sela “jagongan” ini tercermin dari keberaniannya membawa isu-isu eksternal yang dianggap sensitif ke dalam lingkungan pesantren untuk dibedah secara intelektual.
Beliau tidak menutup diri dari pemikiran modern; sebaliknya, beliau mengajak para santri untuk mengkaji paham-paham seperti liberalisme, sekularisme, hingga pemikiran paham kiri agar santri dapat mengetahui kelemahannya dan dapat memiliki filter yang kuat serta tidak terkejut saat berhadapan dengan realitas di luar pesantren.
Salah satu prinsip hidup yang selalu ditekankan oleh mas Fata adalah pentingnya menjaga hati agar tetap gembira dalam menjalani segala sesuatu. Beliau sering berpesan,
Sing penting seneng. (Yang penting bahagia).
Sebuah filosofi sederhana namun mendalam yang juga beliau terapkan dalam segala hal apapun.
Bagi beliau, jika segala aktivitas dilandasi dengan rasa senang dan tulus, maka hasil yang dirasakan pun akan membahagiakan. Mas Fata mengingatkan agar kita tidak membebani diri sendiri sejak awal dengan pikiran-pikiran berat, karena kunci dari keberhasilan dan keberkahan sebuah amal bermula dari hati yang gembira.
Dalam hal konsumsi sehari-hari, mas Fata menunjukkan kesederhanaan yang konsisten dengan menu favorit yang jauh dari kesan mewah. Beliau menyukai hidangan sederhana seperti oseng kacang panjang, kering tempe, dan emping manis sebagai pelengkap makan. Beliau juga menyukai kopi dan rokok Sampoerna A Mild 12.
Hobi
Di luar kesibukan akademis dan pengelolaan pesantren yang padat, mas Fata memiliki sisi personal yang sangat manusiawi melalui hobi yang beliau tekuni, terutama memancing, di mana beliau sering menjelajahi laut selatan hingga ke Cilacap dan Gunung Kidul. Begitu totalnya, beliau bahkan pernah menyewa tenda militer (tenda 412) untuk menginap di lokasi mancing agar dapat lebih dekat dengan alam bersama para pendereknya. Aktivitas memancing ini juga menjadi ruang interaksi yang egaliter di mana beliau bisa bersosial secara santai dan cair dengan rekan-rekan maupun para santrinya di sela-sela waktu menunggu umpan dimakan ikan.
Selain memancing, mas Fata juga tertarik dalam dunia musik. Beliau merupakan seorang gitaris melodi yang serius mempelajari teknik-teknik sulit dari gitaris dunia seperti Joe Satriani. Selain mengagumi gitaris dunia, mas Fata juga memiliki kecintaan terhadap musik berkualitas dari dalam negeri yang menonjolkan komposisi instrumen dan lirik yang kuat. Beliau sangat menyukai karya-karya dari KLa Project dan Ada Band, dua grup musik yang dikenal dengan aransemen gitar yang khas dan melodi yang elegan.
Kegemaran ini tidak hanya dinikmati sendiri; aura musisi beliau begitu melekat hingga ke lingkungan pesantren. Pada masa itu, tidak jarang para santri putri secara spontan melontarkan permintaan atau request lagu-lagu favorit mereka saat beliau sedang memainkan gitarnya. Momen ini menunjukkan betapa cair dan harmonisnya hubungan beliau dengan para santri, di mana musik menjadi bahasa universal yang menyatukan sosok Gus sebagai pendidik sekaligus figur yang inspiratif dan modern bagi mereka.
Awal mula perjalanan bermusik mas Fata dimulai dari panggung sederhana namun bersejarah dalam sebuah acara pentas perayaan 17-an di Pelaosan. Pada momen tersebut, beliau tampil untuk pertama kalinya di hadapan publik sebagai pemain gitar utama, membawakan komposisi instrumen musik gitar yang menunjukkan kemahiran teknisnya sejak usia muda. Penampilan ini menjadi tonggak awal identitasnya sebagai seorang gitaris melodi yang serius.
Dalam mengembangkan bakatnya, mas Fata juga bersinergi dengan talenta lokal, di mana salah satu tim band yang pernah mengiringi atau berkolaborasi dengan beliau adalah Beda Band, sebuah grup band lokal asal Purworejo. Kolaborasi ini menunjukkan keterbukaan beliau untuk bergaul dan berkarya bersama komunitas musisi lokal tanpa memandang batasan status. Bagi mas Fata, musik bukan hanya hiburan, melainkan instrumen dakwah yang efektif untuk merangkul berbagai kalangan.
Kegemaran beliau pun mencakup aspek intelektual dengan mengoleksi kitab-kitab referensi cetakan Beirut yang dikenal dengan kualitas terbaik sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Mas Fata memiliki banyak sekali kitab-kitab klasik dan kontemporer bahkan juga banyak dari cetakan Beirut yang dikenal memiliki kualitas cetakan terbaik sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu.
Di waktu senggang, beliau tetap membumi dengan bermain sepak bola baik di lapangan maupun di PlayStation (PS) bersama penderek, bahkan menikmati bepergian menggunakan angkot untuk tetap merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat biasa.
Sosial dan Organisasi
Kiprah organisatoris mas Fata bermula dari lahirnya Barisan Rakyat Kelingan Akhirat “BERKAT”, sebuah wadah yang tumbuh secara organik dari tradisi jagongan atau diskusi santai pada tahun 1998. Sebagai ketua pertama, beliau mengawal organisasi ini hingga merayakan hari lahir (harlah) pertamanya kisaran pada tahun 1999, menjadikannya simbol soliditas pemuda yang lahir dari akar rumput.
Mas Fata secara tegas meyakini bahwa martabat seorang Gus (putra kiai) tidaklah terletak pada garis keturunan atau nasab semata, melainkan sepenuhnya pada kualitas kealiman dan kedalaman ilmunya. Prinsip inilah yang membuat beliau cenderung enggan untuk sekadar bergabung dalam sebuah forum jika tidak ada landasan intelektual yang jelas.
Dalam kumpulan putra kiai yang dikenal dengan istilah Gawagis di Purworejo, Mas Fata merupakan sosok penggerak yang memiliki visi kuat. Beliau tidak ingin kumpulan putra kiai tersebut hanya menjadi ajang silaturahmi pasif atau sekadar “kumpul-kumpul” tanpa arah. Sebaliknya, beliaulah yang mencetuskan usulan bahwa setiap pertemuan harus diisi dengan pembahasan isu-isu penting dan diskusi yang mendalam. Gagasan beliau ini menjadi motor penggerak yang berhasil memotivasi anggota lain untuk menjadikan forum tersebut lebih bermakna.
Mas Fata juga membangun budaya musyawarah dimulai dengan menjaring 100 santri, yang kemudian mengerucut menjadi kelompok inti berjumlah 30 hingga 35 orang untuk membahas fiqih. Kelompok inilah yang kini dikenal dengan Majelis Musyawarah Malam Selasa (M3S), sebuah forum diskusi dengan referensi kitab kuning yang membahas permasalahan terkait hukum-hukum fiqih maupun pendalaman pemahaman kitab.
Tidak berhenti di lingkup internal, mas Fata juga sangat progresif mendorong santri untuk aktif di organisasi mahasiswa seperti PMII. Beliau memandang aktivis sebagai sarana agar santri memiliki tradisi membaca buku yang kuat dan wawasan umum yang luas.
Meski demikian, dukungan terhadap aktivis luar tersebut diberikan dengan prinsip keseimbangan tugas yang ketat. Mas Fata memberikan batasan organisasional yang tegas bahwa aktivitas di luar tidak boleh mengganggu kewajiban utama di madrasah dan pesantren. Bahkan beliau pernah menjadi pemateri MAPABA dan sempat memiliki keinginan menjadi ketua komisariat.
Bagi mas Fata, seorang santri yang aktif berorganisasi harus tetap menunjukkan keunggulan dalam disiplin mengaji, sehingga intelektualitas yang diperoleh dari luar tetap berpijak pada fondasi karakter santri yang kuat.
Karya
Dedikasi mas Fata terhadap ilmu pengetahuan beliau adalah pembuatan buku pedoman manasik haji, yang beliau susun dengan merujuk langsung pada puluhan sumber-sumber primer di dalam kitab kuning guna menjamin otentisitas dan akurasi hukumnya bagi para jamaah.
Mas Fata adalah sosok pemuda yang disiplin, cerdas, tegas, perhatian, sosok mentor yang selalu mengawasi serta mendampingi dan bisa masuk disemua kalangan tanpa membeda-bedakan. Beliau menjadi ruang bagi para santri yang haus akan keilmuan melalui forum musyawarah, sekaligus menjadi pendamping bagi kelompok yang dianggap “nakal” dengan merangkul mereka lewat hobi dan tradisi jagongan dan kedisiplinan di organisasi BERKAT.
Jejaring beliau membentang luas tanpa sekat, mulai dari merangkul anak band, kalangan Gus (Gawagis), hingga mendorong intelektualitas mahasiswa PMII. Dengan karakter yang egaliter, mas Fata berhasil menyelaraskan berbagai latar belakang tersebut ke dalam satu visi pengabdian yang harmonis dan humanis.
Sumber Referensi:
- Wawancara dengan Ibu Hj. Ashfa Khoirun Nisa, S.Pd.I., M.S.I.
- Wawancara dengan Bapak H. Nurrohman, S.Pd.I.
- Wawancara dengan Bapak Ahmad Syukur, S.H.I., M.S.I.
- Wawancara dengan Bapak Arifuad Marzuki, S.H.I., M.H.

Comment
Pribadi yang tegas santun berilmu dan berwawasan luas