Home / HISANDA / Estafet Bahagia: Sebuah Pamit

Lampu kristal di sudut ruang tunggu itu berpendar redup, memantulkan bayangan diriku yang terbalut kebaya putih suci. Hari ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, sebuah gerbang menuju babak baru. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan pernikahan ini, hatiku justru tertinggal di alam bawah sadar tadi malam.

Sejak hari berkabung itu—hari di mana tanah makam Ayah masih basah—Ayah seolah menolak untuk benar-benar pergi. Setiap malam, tanpa absen, ia hadir dalam mimpiku.

Mimpi-mimpi itu selalu indah, penuh dengan tawa dan langkah kaki yang ringan. Kami berjalan-jalan menyusuri taman, mencicipi jajanan pinggir jalan, atau sekadar duduk melihat senja.

Mimpi-mimpi itu adalah penebusan. Sebuah kompensasi atas bertahun-tahun yang terenggut oleh penyakit sialan yang menggerogoti tubuhnya hingga kurus kering. Selama bertahun-tahun, dunia Ayah hanya sebatas empat dinding kamar dan aroma obat yang menyengat. Maka, di alam mimpi, Ayah seolah ingin membayar semua waktu yang terbuang itu. Ia datang dengan raga yang bugar, senyum yang lebar, dan binar mata yang sudah lama hilang.

Namun, tadi malam, di penghujung penantianku menuju pelaminan, Ayah datang dengan cara yang berbeda.Tak ada lagi latar belakang pasar malam yang bising dengan komidi putar dan aroma gulali yang biasa kami kunjungi dalam mimpi. Tak ada raut jenaka saat ia menggoda pilihanku. Kali ini, ia hadir dalam sebuah ruang yang luas, putih, dan terasa begitu dingin—seolah menyentuh sumsum tulangku. Ayah berdiri di sana, mengenakan jubah putih panjang yang bersih, tampak agung namun sekaligus menyayat hati.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Wajahnya tak lagi memancarkan kebahagiaan yang meluap-luap. Ada gurat kesedihan yang mendalam di matanya, sebuah tatapan perpisahan yang selama ini ia sembunyikan dalam tawa mimpi-mimpi sebelumnya.
Ia mendekat, langkahnya tak bersuara. Di ruang yang sunyi itu, suaranya terdengar menggema, berat namun lembut.

“Nak,” ucapnya pelan, tangannya yang dingin seolah membelai pipiku.

“Selama ini Ayah mencoba tetap tinggal, memastikan setiap malammu tak merasa kehilangan. Tapi hari ini adalah batasnya.” Aku terpaku, tenggorokanku tercekat.

“Tugas Ayah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia kini akan digantikan oleh suamimu. Dia adalah dermaga barumu. Tugas Ayah di dunia ini benar-benar sudah selesai. Ayah pamit, Nak. Jangan cari Ayah lagi di mimpi besok malam.”Kalimat itu bagai sembilu.

Di ruang rias yang mewah ini, air mataku luruh tanpa bisa dibendung, merusak riasan yang baru saja selesai dipoles. Aku terisak, mengingat betapa nyatanya rasa dingin saat ia berbalik dan perlahan menghilang ditelan cahaya putih.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Ayah benar-benar pergi. Ia tak lagi “bersembunyi” di balik mimpi. Di hari sakral ini, ia menyerahkan tongkat estafet penjagaannya kepada laki-laki yang sebentar lagi akan menjabat tangan penghulu. Sebuah perpisahan yang paling sunyi, tepat sebelum aku memulai perjalanan baru.

Penulis: Alindia Shintia Yasin
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

  1. tbjee says:

    [4017]tbjee অফিসিয়াল লগইন | বিকাশ পেমেন্ট ও সেরা অনলাইন স্লট গেম,tbjee অ্যাপ ডাউনলোড করে সেরা অনলাইন স্লট গেমের অভিজ্ঞতা নিন। এখানে বিকাশ পেমেন্ট এবং আকর্ষণীয় ক্যাসিনো বোনাস নিয়ম সহজভাবে উপলব্ধ। আজই যোগ দিন। visit: tbjee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *