Meluruskan Makna Keteladanan dan Tanggung Jawab Santri
Di banyak lingkungan pesantren dan asrama pendidikan, pengampu sering berada pada posisi yang serba salah. Ketika tegas dan memilih mengoordinasikan, ia dianggap kurang peduli. Namun ketika turun tangan terlalu jauh ikut menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, bahkan mengerjakan piket santri, ia justru dipuji dan dikagumi. Fenomena ini sekilas tampak positif, tetapi jika ditelaah lebih dalam, menyimpan persoalan mendasar kesalahpahaman terhadap makna mengampu itu sendiri.
Pengampu sejatinya hadir untuk mendidik, bukan menggantikan. Mengampu bukan membatu dan keteladanan bukan berarti mengambil alih seluruh tanggung jawab santri. Secara esensial, mengampu berarti membimbing, mengarahkan, dan membersamai proses tumbuh santri baik secara moral, emosional, maupun sosial. Pengampu adalah figur pendidik non-formal yang bekerja di ruang keseharian, tempat karakter justru paling nyata dibentuk.
Peran pengampu meliputi:
- Membangun kesadaran tanggung jawab.
- Menanamkan disiplin dan adab.
- Mengoordinasikan kehidupan bersama.
- Menjadi teladan dalam sikap, bukan sekadar tindakan fisik.
Mengampu bukan tentang seberapa banyak pekerjaan santri yang bisa diambil alih, melainkan seberapa jauh santri didorong untuk berdiri di atas tanggung jawabnya sendiri. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak santri justru lebih kagum kepada pengampu yang mau ikut turun tangan langsung dalam piket. Ikut bersih-bersih, mengangkat galon, menyikat kamar mandi.
Pengampu semacam ini dipersepsikan sebagai sosok yang “baik”, “peduli”, dan “rendah hati”. Sebaliknya, pengampu yang memilih mengoordinasikan pembagian tugas, mengawasi, menegur, dan mengevaluasi sering dianggap hanya pandai menyuruh, kurang empati, atau tidak mau capek. Kekaguman ini bukan sepenuhnya salah santri, tetapi menunjukkan bahwa keteladanan dipahami secara dangkal, sebatas apa yang terlihat oleh mata.
Turun tangan pada momen tertentu dapat menjadi simbol kebersamaan dan empati Namun ketika dilakukan terus-menerus, tanpa batas yang jelas, justru melahirkan dampak negatif santri kehilangan rasa memiliki tanggung jawab. Mereka terbiasa melihat pengampu bekerja, sementara kewajiban mereka sendiri menjadi kabur.
Dalam konteks pendidikan, pengampu yang mengoordinasikan sebenarnya sedang memberi teladan yang lebih substansial:
- Teladan keadilan dalam pembagian tugas.
- Teladan ketegasan dalam aturan.
- Teladan konsistenst dalam tanggung jawab.
Kerja pengampu semacam ini sering tidak terlihat, sunyi, dan tidak populer, namun justru di situlah pendidikan karakter bekerja.
Kekaguman berlebihan pada pengampu yang “selalu ikut kerja”, juga lahir dari budaya instan santri yang lebih mudah menghargai hasil cepat daripada proses. Padahal, koordinasi, pengawasan, dan evaluasi adalah proses pendidikan yang efeknya jangka panjang.
Jika budaya ini dibiarkan, akan terjadi pembalikan nilai pengampu yang mendidik kemandirian dianggap dingin, sementara pengampu yang mengambil alih tugas santri dianggap ideal. Akibatnya, santri tumbuh dengan mental bergantung dan minim tanggung jawab
Santri perlu diajak memahami bahwa:
- Piket adalah latihan karakter, bukan hukuman.
- Pengampu bukan rekan piket, tetapi pendidik.
- Kepemimpinan bukan soal ikut capek, melainkan mampu menggerakkan dan menumbuhkan kesadaran.
Pengampu boleh turun tangan, tetapi tidak kehilangan posisi. Dekat, namun tetap berwibawa. Hangat, namun tidak menghapus batas peran. Pengampu itu mengampu, bukan membabu. la hadir untuk membentuk, bukan mengambil alih. la mendidik dengan kesabaran, ketegasan, dan konsistensi meski sering tidak terlihat dan jarang dipuji.
Sudah saatnya kekaguman diarahkan bukan pada siapa yang paling sibuk bekerja, tetapi pada siapa yang berhasil menumbuhkan santri yang bertanggung jawab, mandiri, dan beradab. Sebab tujuan pendidikan bukan melahirkan pengampu yang paling capek, melainkan santri yang paling bertumbuh.
Penulis: Shevinda Hukma S.
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment