Awalnya saya mengira pesantren adalah tempat membatasi. Bangun saat orang lain masih tidur, makan dengan menu sederhana, dan hari-hari yang diatur oleh jadwal. Pernah suatu pagi, ketika alarm belum berbunyi tapi kentongan sudah terdengar, rasanya ingin pura-pura tidak dengar dan kembali menarik selimut. di momen seperti itu, pesantren memang terasa berat.
Namun pelan-pelan saya sadar, pesantren bukan sedang membatasi langkah, melainkan menjaga arah. Di luar sana, banyak orang bebas menentukan apa saja, tapi justru bingung harus ke mana. Di pesantren, pilihan memang sedikit, tapi tujuannya jelas.
Allah berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya….” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ayat ini terasa nyata ketika duduk di majelis ngaji. Kitab yang sama, ustaz yang sama, bahkan kadang penjelasan yang terasa berulang. Tapi dari situlah kesabaran dilatih. Bukan sekali dua kali saya melihat teman mengantuk, bahkan hampir tertidur, lalu saling menyenggol pelan agar tetap sadar. Sederhana, tapi hangat.
Sebagai santri, godaan terbesar bukan hanya malas, tapi ingin cepat sampai. Cepat lulus, cepat sukses, cepat diakui. Pernah ada rasa iri saat melihat teman sebaya di luar pesantren sudah sibuk dengan dunia mereka -organisasi, kerja, atau media sosial yang tampak gemerlap. Sementara kami masih berkutat dengan kitab dan rutinitas yang itu-itu saja. Tapi pesantren mengajarkan satu hal penting yang kuat bukan yang cepat, tapi yang tahan.
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Mencari ilmu di pesantren bukan cuma soal paham isi kitab. Ia tampak saat kita belajar menahan emosi ketika berbeda pendapat, belajar ikhlas saat tugas kebersihan terasa tidak adil, dan belajar disiplin meski tidak diawasi. Bahkan antri kamar mandi pagi hari pun menjadi latihan sabar yang tidak tertulis di buku mana pun.
Pesantren juga mengajarkan kebersamaan. Saat satu teman sakit, yang lain bergantian menjaga. Saat satu melanggar aturan, yang lain ikut menasihati. Tidak selalu nyaman, tapi justru di situlah rasa memiliki tumbuh.
Pesantren bukan tempat mematikan mimpi. Ia adalah ruang sunyi tempat mimpi dirapikan -agar tidak hanya besar, tapi juga punya arah. Kita mungkin sering ingin pulang ke rumah, tapi tanpa sadar sedang dibentuk agar tahu arti pulang yang sesungguhnya.
Hari ini saya mengerti, pesantren bukan penjara. Ia adalah rumah yang menguatkan. Tempat seseorang belajar menjadi manusia -sebelum benar-benar diuji oleh dunia dan mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua kebaikan harus cepat terlihat. Kadang cukup bertahan, tetap belajar, dan tidak menyerah. Karena yang pelan tapi istiqamah, sering kali sampai dengan selamat.
Dan mungkin, pengalaman itu tidak selalu menyenangkan, tapi sangat menenangkan untuk dikenang.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment