Home / Narasi Santri / “Barokah” Bukan Keajaiban untuk Si Pemalas
Himpunan Daerah HISBAN Kajian Narasi Santri

“Barokah” Bukan Keajaiban untuk Si Pemalas

​Dalam diskursus keagamaan, istilah “barokah” atau berkah sering kali menjadi pusat harapan bagi setiap muslim. Namun, dalam praktiknya, pemahaman mengenai barokah sering kali mengalami penyimpangan makna. Banyak orang terjebak pada pemahaman fatalistik, di mana barokah dianggap sebagai pengganti dari usaha fisik maupun intelektual.

Definisi Barokah: Ziyadatul Khoir

​Secara esensial, barokah didefinisikan sebagai ziyadatul khair, yakni bertambahnya nilai kebaikan dalam suatu hal. Namun, ada satu logika fundamental yang harus dipahami, sebagaimana ditegaskan oleh KH. Ahmad Afif Bruno, “Jika kebaikan saja kamu tidak punya, lantas apa yang akan ditambah?”

​​Pernyataan ini menegaskan bahwa barokah menuntut adanya “modal dasar” berupa amal sholih, ilmu, maupun kerja keras. Tanpa adanya tindakan nyata, mengharapkan barokah adalah sebuah kesia-siaan logika.

Kritik Terhadap Ketergantungan Pasif

​Fenomena yang sering terjadi adalah fenomena “pelarian spiritual.” Beberapa orang sering kali “hanya” mengandalkan keberkahan dari para masayikh atau tokoh agama hanya untuk menutupi kemalasan pribadinya. Perlu ditegaskan bahwa:

  1. Barokah tidak menggantikan kewajiban ngaji: Ilmu tidak akan berpindah hanya melalui kedekatan fisik tanpa adanya proses belajar dan seperangkatnya yang sungguh-sungguh.
  2. Barokah tidak meniadakan hukum sebab-akibat: Keberhasilan dalam kehidupan tetap memerlukan manajemen usaha yang profesional dan konsisten.
    ​​Menjadikan barokah sebagai alasan untuk meninggalkan usaha (ikhtiar) adalah bentuk kesalahpahaman yang fatal. Menghormati guru dan mencari berkah adalah kewajiban, begitu juga dengan berusaha dan belajar.

Harapan dan Do’a

​Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan barokah dari para masayikh, serta tidak melalaikan kewajiban utama sebagai santri. Barokah adalah buah dari takzim yang disertai ketekunan ngaji dan kerja keras; tanpa disiplin dan ikhtiar nyata, harapan akan keberkahan hanya akan menjadi angan-angan kosong. Aku mengajak kita semua untuk menjemput barokah dengan martabat seorang pejuang ilmu, bukan dengan kemalasan yang bersembunyi di balik do’a.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Sumber Referensi :

  1. Al-Arba’in An-Nawawiyyah
  2. Syarhu Al-Hikam
  3. https://banten.nu.or.id

Penulis: Alfan Shidqi

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *