Jawa telah lama menjadi magnet bagi para pencari ilmu. Ribuan santri dari berbagai daerah khususnya dari luar pulau jawa, rela menyeberangi luasnya lautan demi menimba ilmu di pulau jawa. Namun, sebuah tantangan kerap menghantui: “rasa rindu akan kampung halaman”. Perbedaan budaya dan bahasa yang amat beragam dari berbagai pulau kini menyatu menjadi satu di balik tembok pesantren Jawa.
“Himpunan Santri Andalas” merupakan wadah yang terlahir dari kegelisahan yang sama. Terlahir dari berbagai macam perbedaan yang menyatu. “Andalas” bukan sebuah nama yang di pilih tanpa alasan. Nama ini menjadi rumah bagi para santri yang berasal dari Lampung hingga Aceh. Bahkan pulau-pulau lain seperti Kalimantan pun tercakup dalam himpunan ini.
Bagi saya, hisanda bukan hanya sekedar perkumpulan beberapa manusia. Hisanda adalah keluarga. Kenyamanan benar-benar saya rasakan dan temukan di Himpunan Santri Andalas. Ungkap salah seorang santri.
Solidaritas tidak ditemukan, melainkan diciptakan. Kepulangan dan keberangkatan dari daerah asal bersama rombongan Himpunan Santri Andalas menuju pulau Jawa membentuk sebuah simpul persaudaraan yang permanen. Kebersamaan yang tercipta menjadi awal dari rasa semangat yang akan membara Ketika menimba ilmu di pulau Jawa.
Hisanda bukan hanya sekedar nama organisasi. Himpunan Santri Andalas merupakan rumah kecil dengan beribu kenyamanan yang tercipta di tanah rantau. Mereka saling membantu layaknya keluarga.
Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Filosofi ini terpatri atma santri Hisanda. Berangkat dari Sumatra dengan niat meniba ilmu. Mencari rida guru juga hal utama yang di tuju. Kerap kali terdengar celetukan logat Sumatra yang terucap. Namun, seiring berjalannya waktu, logat sumatra akan tercampur dengan logat Jawa. Seperti “nyong”, “siro” dan lebih banyak lagi.
Hisanda merupakan tempat dimana rasa rindu kepada orang tua di konversi menjadi do’a untuk sang guru. Dan kedalaman ilmu yang di dapat akan menjadi energi untuk membangun peradaban di tanah Andalas. Dalam riuhnya sorak sorai hisanda, rasa asing di tanah Jawa perlahan meluas menjadi ikhlas. Kami adalah keluarga senasib, seperjuangan dan sepengabdian. Dan rumah nyaman itu telah tercipta di tengah lelahnya tugas dan kewajiban.
Meski raga kami berada jauh dari pulau sebrang, tetapi semangat kami tetaplah membara yang siap untuk membawa cahaya dari pulau Jawa ke bumi Pertiwi tercinta di Sumatra. Sebab pada akhirnya, menjadi santri Hisanda berarti siap menjadi lilin di tanah Jawa dan akan menjadi obor di pulau Sumatra tercinta.
Penulis: Mira Fuadia Syofa
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment