Kita hidup di zaman di mana kerapian itu penting banget. Di pesantren, lebih terasa lagi. Sarung harus rapi. Baju harus bersih. Kitab harus dibawa. Duduk di majelis harus sopan. Semua terlihat masyaAllah banget.
Tapi… ada satu yang sering lolos dari perhatian. Lisan. Fenomena yang pelan-pelan jadi biasa di kalangan santri:
- Ngobrol sambil nyelipin kata kasar.
- Candaan tapi isinya olokan.
- Ketawa tapi ada yang dijatuhkan.
Kadang bahkan dibungkus dengan kalimat:
“Ah santai, kan sesama santri.”
“Biar akrab aja.”
“Biar gak kaku.”
Padahal… justru di tempat kita belajar agama, seharusnya lisan jadi yang paling dijaga. Kita bisa duduk rapi di majelis. Kita bisa ngaji kitab berlembar-lembar. Kita bisa hafal kitab. Tapi… kalau lisan masih belum terjaga, ada yang perlu kita benahi.
Rasulullah Saw. bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Coba bayangin…Kita satu kamar sama teman. Satu kelas. Satu halaqah. Tapi mereka belum tentu merasa “aman” dari ucapan kita. Itu bukan perkara sepele. Di pesantren, interaksi itu intens banget. Bangun bareng. Makan bareng. Ngaji bareng. Capek bareng. Dan di situlah… lisan kita sering “lepas kontrol”.
- Capek → jadi gampang ngegas.
- Bercanda → jadi kebablasan.
- Akrab → jadi gak ada batas.
Padahal justru di situ ladang pahala… atau dosa. Rasulullah Saw. juga mengingatkan:
العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ ممَّا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap biasa, namun karena itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh timur dan barat.”
Satu kalimat. Yang kita anggap receh. Yang kita anggap lucu. Yang kita anggap “biasa aja”. Tapi bisa jadi… berat di hisab.
Ironisnya, kita sering lebih takut baju kita dinilai jelek…
daripada ucapan kita menyakiti orang. Lebih malu kalau outfit gak matching… daripada kalau lisan kita kasar. Lebih mikir feed aesthetic… daripada hati orang lain yang kita ganggu. Padahal Allah sudah mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Bukan cuma pas ngaji, bukan cuma pas serius. Tapi juga pas bercanda, pas ngobrol santai, pas lagi kesel, semua dicatat.
Mungkin hari ini kita gak perlu langsung jadi sempurna. Tapi cukup mulai dari sadar:
Udah belum lisanku dijaga seperti aku menjaga pakaianku?
Udah belum ucapanku bikin orang nyaman, bukan luka?
Udah belum aku jadi santri yang “aman lisannya”?
Karena bisa jadi…yang bikin kita mulia di mata Allah bukan seberapa rapi sarung kita, bukan seberapa banyak hafalan kita, tapi… seberapa lembut lisan kita. Santri itu bukan cuma yang duduk di majelis. Tapi yang ketika bicara, orang lain merasa tenang.
Penulis: Shevinda Hukma S.
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment