Suara deru mobil yang berlalu-lalang di jalanan Ibukota memekakkan telinga, dengan kepulan karbon monoksida yang melambung tinggi ke udara sehingga memperburuk polusi udara.
Kuhabiskan akhir pekanku di ruang tamu kontrakan kecil yang kutinggali dua tahun terakhir, sembari mengenang buah bibir dari sosok pahlawan di keluargaku dua dasawarsa yang lalu.
16 Mei 2004.
“Ran, ayo sarapan dulu,” teriak wanita separuh baya dari arah dapur.
Aku lalu memasang dasi karet berwarna merah sebelum keluar dari kamar. Sepasang seragam merah putih telah bersatu dengan rapih di tubuhku yang duduk di ruang makan sederhana. Ibuku telah menyiapkan sepiring nasi goreng hangat saat diriku duduk di kursi.
Dengan malas, kuraih piring di hadapanku lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutku.
“Nasinya dihabiskan, Aran,” pinta ibuku saat melihat diriku ingin beranjak pergi dari meja makan.
“Tapi, Aran sudah kenyang bu,” jawabku mengeluh.
“Nanti nasinya nangis loh, ayo cepat dihabiskan,” bujuk ibuku.
Mau tak mau, aku lantas kembali ke tempat semula lalu menghabiskan sisa nasi goreng dengan cepat, meminum segelas air yang ayahku berikan, lalu berlari ke ruang tamu untuk memakai sepasang sepatu sekolah.
“Ayah berangkat dulu sama Aran ya,” pamit ayahku kepada ibuku yang masih terduduk di ruang dapur.
“Hati-hati di jalan,” jawab ibuku sembari melambaikan tangan.
Pintu tertutup sempurna lalu ayahku meraih sepeda ontel yang berada di samping rumah, membawa sebuah cangkul, lalu menyuruhku naik ke sepeda. Aku lalu menuruti perintahnya dengan naik ke Sadel belakang sebelum akhirnya ayahku mengayuh sepeda, meninggalkan pekarangan rumah dan berangkat menuju sekolahku.
“Yah, Aran boleh tanya sesuatu?” izinku kepada ayahku.
“Kamu mau tanya apa Aran?” tanya ayahku.
“Kenapa ibu bilang nasi bisa menangis, padahal kan nasi sebuah beras yang tak bernyawa,” tanyaku dengan keheranan.
Ayah berpikir sejenak setelah mendengarkan pertanyaanku, seperti memikirkan jawaban yang tepat.
“Suatu hari, engkau akan mengerti betapa kerasnya dunia yang berjalan di sekitarmu, Aran,” jawab ayahku.
“Maksudnya?” tanyaku tak paham.
“Dunia ini keras, Aran. Sekecil apapun yang engkau miliki, harus engkau syukuri sebelum ia menghilang dari sisimu,” jawab ayah menjelaskan.
“Jadi, Aran harus bersyukur dengan keadaan apapun?” sahutku kepada ayah.
“Ingat, masih ada orang yang di bawah kita, yang tak mampu membeli sesuap nasi,” lanjut ayahku.
Mataku langsung berbinar setelah mendapatkan nasihat ayahku yang bijak. Hatiku kini bertekad untuk mengikuti perkataannya walaupun kehidupanku sangat terpuruk.
19 November 2025.
“Engkau benar, ayah. Berkat nasihatmu, kini aku dapat bahagia dengan keadaan,” ucapku sembari menatap nama Fatihul Khair yang terpahat di sebuah nisan. Setelah menyirami makam dengan air doa, aku lantas beranjak dari tempat dudukku, meninggalkan makam ayahku yang terlihat tentram secara perlahan.
Walaupun diriku dibilang serba kekurangan di tanah ibukota, namun berkat sebuah petuah kedua orang tuaku saat diriku masih duduk di bangku 3 SD, kehidupanku selalu berwarna tanpa adanya halangan yang mencegah kehidupanku hingga detik ini.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Penulis: Fatih Fadilah
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment