Di pondok, yang bikin capek itu sering bukan jadwalnya, tapi perasaannya.
Cuma hal kecil -nada bicara agak tinggi, candaan sedikit nyeletuk, atau nggak disapa pas papasan- eh, kepikiran semalaman.
“Perasaan aku salah ya?”
“Atau dia emang lagi kesel sama aku?”
Padahal bisa jadi… nggak ada apa-apa.
Hidup bareng memang bikin jarak antar manusia jadi dekat. Terlalu dekat, malah. Kita ketemu orang yang sama setiap hari, dalam kondisi capek yang juga sama. Di situ, hal kecil gampang kebawa perasaan.
Masalahnya bukan cuma di orang lain. Seringnya, kita sendiri lagi rapuh.
Kurang tidur.
Target hafalan belum kejar.
Rindu rumah tapi dipendem.
Semua numpuk, lalu meledak di perkara receh.
Padahal Allah sudah ngingetin soal ini sejak awal. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ ۚ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa….” (QS. Al-Hujurat: 12)
Masalahnya, di pondok prasangka sering datang lebih cepat daripada klarifikasi.
Belum tanya, sudah menilai.
Belum paham, sudah tersinggung.
Akhirnya, yang kecil terasa besar.
Hidup bareng itu butuh satu kemampuan penting: mengelola reaksi.
Bukan semua hal harus dimasukin ke hati.
Bukan semua sikap orang perlu ditafsirkan negatif.
Rasulullah Saw. bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat itu bukan yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan marah di pondok itu jarang soal perkara besar. Justru seringnya diuji lewat hal sepele: disalip antrian, barang ketuker, atau omongan yang terasa menyinggung.
Uniknya, baper di pondok sering tampil rapi.
Nggak marah.
Nggak ribut.
Cuma jadi dingin.
Katanya biar nggak bikin suasana panas.
Padahal hati sendiri makin penuh.
Pelan-pelan aku belajar satu hal:
nggak semua hal perlu dibawa pulang ke hati.
Sebagian cukup disaring, lalu dilepas.
Kalau capek, akui capek.
Kalau sensitif, jangan gengsi.
Kalau baper, jujur ke diri sendiri.
Karena seringnya, bukan orang lain yang bikin kita jatuh,
tapi perasaan yang nggak kita urus.
Pondok memang bukan tempat paling nyaman.
Tapi justru di situlah akhlak ditempa.
Dan kalau hari ini kita masih gampang baper, nggak apa-apa.
Berarti kita masih belajar.
Belajar menata hati.
Belajar hidup bareng.
Belajar jadi dewasa.
Karena di pondok, tujuan kita bukan menang dalam perasaan,
tapi pulang membawa akhlak.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment
[7552]Magnam Login & Apk Download | Trusted Online Slot Malaysia,Access magnam for a trusted online slot malaysia experience. Enjoy easy casino deposit via touch n go and get live baccarat strategy tips. Join now. visit: magnam