Home / Opini / Menjemput Berkah Lewat Piket Gerabah

Pada tanggal 04 Februari 2026 lalu, keramaian acara haul muassis memadati area pondok pesantren. Di tengah keramaian ribuan manusia, terdapat sebuah pemandangan yang jauh dari panggung dan sorot kamera.

Sekelompok santri tampak sibuk bergelut dengan nyaringnya suara sendok dan piring yang menyatu. Mereka adalah santri yang mendapatkan piket gerabah atau biasa disebut cah gerabah.1 Di bawah derasnya tetesan hujan yang terjun dari cakrawala, cah gerabah tampak sibuk dengan gerakan yang ritmis. Memastikan supaya ribuan piring kotor kembali menjadi bersih dalam waktu yang singkat.

Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin dianggap remeh. Namun, tidak bagi para santri, khususnya tim gerabah. Setiap gerakan di iringi zikir yang lirih. Menjemput berkah sang guru menuju rida Ilahi. Tangan mereka mungkin kotor akibat sisa-sisa makanan yang ada pada piring-piring para tamu undangan, tetapi hati mereka hangat akan pengharapan rida dari sang guru.

Acara haul dihadiri ribuan orang. Oleh karena itu, Kesungguhan benar benar dibutuhkan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Tim gerabah membagi tugas dengan rapi. Ada yang mengelap dan memastikan piring kering, ada yang mencuci piring, dan tentunya ada yang mondar mandir estafet untuk mengantarkan piring ke prasmanan.

Ribuan piring dan sendok yang kami lap bukan sekedar benda mati tanpa arti, melainkan saksi bisu pengabdian para santri kepada sosok yang telah memberi ‘makan’ secara rohani. Ucap salah seorang santri tim gerabah.

Pendiri Nahdlatul Ulama, mbah Hasyim Asy’ari, menekankan bahwa rida guru adalah kunci utama. Beliau mengutip sebuah ungkapan:

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Sesungguhnya seorang guru dan dokter, keduanya tidak akan memberi nasihat (manfaat) kecuali jika di muliakan.

Dalam filosofi pesantren, ada keyakinan kuat, bahwa:

Barangsiapa yang memuliakan tamu gurunya, maka ia dimuliakan oleh Allah.

Piket gerabah ini adalah salah satu bentuk cinta nyata. Para santri rela berada di belakang layar, jauh dari sudut kamera asalkan acara berjalan dengan lancar. Meski nama mereka tak disebut di layar kaca, namun nama mereka harum di langit sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada sang guru.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Melalui dedikasi para santri tim gerabah ini, kita dapat mengetahui bahwa pengabdian yang tulus sering kali ditemukan dalam pekerjaan-pekerjaan yang tak luput dari perhatian banyak orang. Karena yang mereka cari bukanlah pujian dan riuh tepuk tangan pengakuan dari banyak orang, melainkan mereka mencari balutan restu dari sang Kiai.

Catatan Kaki:

  1. Gerabah dalam makna asli bahasa Indonesia merujuk pada perkakas atau benda yang dibuat dari tanah liat yang dibentuk lalu dibakar hingga mengeras, seperti kendi, guci, atau periuk. Namun pada konteks ini gerabah dipakai untuk menyebut kegiatan mencuci atau membersihkan peralatan dapur. ↩︎

Penulis: Mira Fuadia Syofa

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *