Idulfitri bagi banyak orang merupakan momen yang amat ditunggu, Tak heran Sebagian orang mempersiapkan hari yang istimewa ini dengan antusiasme yang tinggi. Momen berkumpul dengan keluarga dan kerabat, bernostalgia dengan kawan lama dan menjadi momen spesial yang selalu di tunggu. Namun, seringkali banyak orang justru melupakan esensi dari hari raya itu sendiri.
Banyak yang beranggapan bahwa hari raya hanya sebatas hari dimana umat Islam bersuka cita dengan berkumpul dan menggelar jamuan makan, memakai pakaian baru dan sebagainya. Hari raya atau ‘ied secara bahasa dapat diartikan sebagai “kembali“. Lantas kembali dari apa?
Yakni, kembali dari keadaan sulit dan lemah karena beratnya beribadah di bulan Ramadhan dengan melaksanakan puasa di siang harinya dan menjalankan Tarawih menuju suka cita dengan berbuka dan kesenangan lainnya di Idulfitri.
Namun pernahkah terpikirkan bahwa sebenarnya kesenangan-kesenangan di hari raya ini bisa saja menjadi racun yang mematikan dimana seorang hamba -yang dengan sepenuh kemampuan menahan diri dari makanan, minuman, dan kesenangan lainnya selama sebulan penuh dan ibadah layaknya Tarawih dan membaca Al-Qur’an, dimanjakan dengan beraneka ragam makanan, minuman dan pakaian yang bagus.
Seseorang yang tidak memahami makna sebenarnya dari hari raya justru malah terlena dan bertindak melewati batas (Israf).
Idulfitri dapat dimaknai melalui berbagai sudut pandang. Salah seorang reformis Islam asal Maroko, Al-Imam Muhammad Basyir Al-Ibrahimy memaknai hari raya dalam beberapa poin, diantara lain:
Bentuk Rasa Syukur Atas Ibadah
Hari raya dalam sudut pandang agama dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas terselesaikannya runtutan ibadah
الْعِيْدُ فِئ مَعْنَاهُ الدِّيْنِيِّ كَلِمَةُ شُكْرٍ عَلَى تَمَامِ العِبَادَةِ
Bentuk Solidaritas Kaum Kuat dan Lemah
Hari raya dalam sudut pandang kemanusiaan dimaknai sebagai bentuk solidaritas antara kaum yang lemah dan yang kuat.
وَالْعِيْدُ فِيْ مَعْنَاهُ الإِنْسَانِيِّ يَوْمٌ تَلْتَقِيْ فِيْهِ قُوَّةُ الغَنِيِّ وَضَعْفُ الفَقِيْرِ
Bentuk Menahan Nafsu
Hari raya dimaknai secara mistika (spiritual) sebagai suatu pemisah antara kehendak mengikuti syahwat dan keinginan nafsu dan lepas dari belenggu hawa nafsu.
وَالْعِيْدُ فِيِ مَعْنَاهُ النَّفْسِيِّ حَدٌّ فَاصِلٌ بَيْنَ تَقْيِيْدٍ تَخْضعُ لَهُ النَفْسُ وَتَسْكُنُ إِلَيْهِ الْجَوَارِحُ
Perayaan Kegembiraan
Hari raya dalam sudut pandang komunal dimaknai sebagai hari perayaan yang membawa rasa gembira pada semua golongan anak anak, kaum fakir miskin dan seluruh kaum muslimin.
وَالْعِيْدُ فِيْ مَعْنَاهُ الإِجْتِمَاعِيِّ يَوْمُ الاِطْفَالِ يَفِيضُ عَلَيهِمْ الْفَرَحُ وَالْمَرَحُ وَيَوْمُ الْفُقَراءِ يَلْقَاهُمْ بِاليُسْرِ وَالسَّعَةِ ويَوْمُ الْأَرْحَامِ يَجْمَعُهَا عَلَى الصِّلَةِ وَالبِرِّ وَيَوْمُ الْمُسْلِمِيْنَ يَجْمَعُهُمْ عَلَى التَّسَامُحِ والتَّزَاوُرِ
(Atsar Al Imam Muhammad Al Basyir Al Ibrahimy Juz 3/479)
Oleh karenanya, Idulfitri Hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai euforia semata namun juga merupakan titik tolak dalam menentukan kualitas spiritual seorang hamba yang mana mendorong seorang insan yang beragama untuk terus memperbaiki diri, bukan malah untuk merehatkan diri dari aktivitas ibadah dan kebaikan dan meninggalkan segala aktivitas baik dan produktif yang telah dijalankan di bulan Ramadhan.
Sumber Referensi:
- Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi, Atsar al-Imam Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi, Juz 3, Hlm. 479.
- Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz 3, Hlm. 1386.
Penulis: Akmal Basith Marghus
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment