Seorang anak perempuan dengan rambut ikal dan mata bundar beranjak pergi dari kamarnya setelah bangun dari tidurnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tidak lupa mengambil wudu. Namanya Shadira, umurnya lima tahun. Walau pun usianya masih kecil dan belum wajib melaksanakan shalat, tapi dalam keluarganya ia telah diajarkan untuk melaksanakan shalat sejak dini agar terbiasa nantinya.
Ia kembali ke kamarnya untuk mengambil mukena. Di kamar, ia melihat ibunya yang akan merapikan tempat tidurnya.
“Bismillāhirrahmānirrahīm,” ucap sang ibu sebelum mulai merapikan.
Shadira masih sibuk mencari mukenanya.
“Ibu, mukena Shadiya kok tidak ada ya?” ucapnya sambil menggerutu sebal.
“Baca Bismillāh terlebih dahulu sebelum mencarinya, nanti pasti akan ketemu mukenanya,” jawab ibu dengan tutur lembutnya sambil terus merapikan tempat tidur Shadira.
“Bismillāhirrahmānirrahīm,” ucap Shadira lirih dan mencari mukenanya di dalam lemari kembali.
Tak lama setelah itu, ia menemukannya.
“Ketemu!” Shadira berseru riang disertai wajah yang berseri-seri seakan ia baru saja menemukan permata paling berharga.
Ia langsung bergegas menggelar sajadah, takut waktu shalat shubuh habis dan lekas melaksanakannya. Setelah selesai, ia langsung melepas mukena dan tak lupa melipatnya dengan rapi. Dibandingkan tidur kembali, Shadira lebih memilih untuk menemani ibu merapikan serta membersihkan rumah.
Kini, Shadira duduk di sofa sambil menonton tayangan televisi. Namun, pikirannya terpenuhi oleh kejadian mencari mukena tadi pagi. Karena rasa ingin tahunya sangat besar, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada ibu.
“Ibu, mengapa tadi saat aku mencari mukena, aku langsung menemukannya setelah membaca Bismillāh?” tanya Shadira penuh rasa ingin tahu.
Ibu tersenyum simpul dan mendekati Shadira. “Bismillāhirrahmānirrahīm,” ucap ibu lirih sebelum benar-benar duduk di samping Shadira.
Sebelum ibu menjawab pertanyaan yang pertama, Shadira sudah melontarkan pertanyaan yang lain. “Mengapa ibu sering sekali mengucapkannya?” tanya Shadira dengan rasa ingin tahu yang lainnya.
“Karena, Bismillāh merupakan salah satu kalimat thayyibah,” ibu menjawab dua pertanyaan Shadira sekaligus.
Namun, tetap saja, Shadira belum puas dengan jawaban ibunya dan ingin tahu lebih detail lagi.
“Kalimat thayyibah itu apa, bu?” tanya Shadira lagi.
“Kalimat thayyibah itu perkataan yang baik. Bismillāh merupakan perkataan yang baik untuk kita memulai segala sesuatu yang baik pula. Shadira bertanya kan, mengapa Shadira bisa langsung menemukan mukena Shadira setelah membaca Bismillāh,” ucap ibu menjeda sejenak.
Shadira mengangguk cepat dan lebih penasaran lagi dengan penjelasan-penjelasan ibu. Ia siap mendengarkan apa yang akan disampaikan lagi oleh ibunya.
“Itu karena Bismillāh memberi banyak sekali kebaikan kepada pembacanya yang istiqamah. Allah akan senantiasa mempermudah serta memperlancar sesuatu yang akan kita kerjakan, juga memberikan ketenangan bagi pembacanya. Dan masih banyak lagi yang akan kita dapat ketika membaca Bismillāh,” lanjut ibu.
Tepat saat ibu selesai menjelaskan, Shadira langsung antusias ingin melakukan sesuatu dan memulainya dengan membaca Bismillāh. Ia mengambil mainannya yang berserakan di lantai rumah dan memasukkannya ke dalam kotak mainan.
“Bismillāhirrahmānirrahīm, Shadira ingin merapikan mainan, Ya Allah,” ucapnya sebelum merapikan mainan.
Kemudian ibu menghampiri Shadira.
“Shadira tahu tidak, membaca Bismillāh juga bisa membuat kita mendapat pahala dan masuk surga lho,” ucap ibu kepada Shadira agar lebih semangat serta istiqamah membaca kalimat thayyibah.
Bismillāh…
Penulis: Dina Rasa
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment