Home / Narasi Santri / Ngaca Dulu: Muhasabah Diri Dan Akhlak Muslim
Himpunan Daerah HISANDA Narasi Santri

Ngaca Dulu: Muhasabah Diri Dan Akhlak Muslim

Kadang kita ini rajin banget ngeliatin orang lain.
Si A kok gitu.
Si B kok begitu.
Yang ini salah, yang itu keliru, tapi giliran disuruh nengok diri sendiri,
langsung pura-pura capek.

Padahal para ulama sejak dulu sudah wanti-wanti:
yang paling berat itu bukan ngajari orang lain,
tapi ngoreksi diri sendiri.

Islam mengajarkan satu amalan yang kelihatannya sederhana,
namun dampaknya besar kalau dijalani sungguh-sungguh,
yaitu muhasabah diri.

Bahasa gampangnya: ngaca dulu sebelum komentar.

Ngomongin kekurangan orang lain itu enteng.
Tidak perlu menurunkan ego.
Tidak perlu membereskan hati.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Namun ketika diminta jujur pada diri sendiri,
di situlah terasa berat.
Ada gengsi yang harus diturunkan,
ada rasa “paling benar” yang perlu diluruskan.

Padahal Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini tidak menyuruh kita sibuk memeriksa hidup orang lain.
Yang diminta justru satu: urusan diri sendiri lebih dulu dibereskan.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Di pesantren, kita sering mendengar nasihat:
ilmu itu penting, tetapi adab lebih utama.

Kadang kita sudah memegang dalil.
Ayat ada, hadis ada.
Namun cara menyampaikannya justru melukai.

Masalahnya bukan pada ilmunya,
melainkan pada hati yang belum jinak.

Rasulullah Saw. memberikan pegangan yang sangat sederhana:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diam di sini bukan berarti kalah.
Sering kali justru tanda seseorang sedang belajar menjaga akhlaknya.

Muhasabah sering disalahpahami sebagai menyalahkan diri secara berlebihan.
Padahal hakikatnya bukan menghukum, melainkan menyadarkan.

Muhasabah adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri, tanpa drama.
Bertanya pelan-pelan: Apakah aku berbicara karena Allah, atau karena emosi? Apakah aku menasihati karena ingin memperbaiki, atau ingin merasa benar? Apakah aku sudah mengamalkan apa yang aku sampaikan?

Jika jawabannya belum, maka istighfar. Bukan untuk minder,
melainkan untuk meluruskan niat.

Allah berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Membersihkan jiwa adalah proses seumur hidup.
Dan muhasabah adalah salah satu jalannya.

Muhasabah di media sosial hari ini, ucapan bisa menyebar lebih cepat daripada niat. Ehh, belum sempat dipikirkan matang, sudah sampai ke banyak orang.

Padahal tidak semua yang kita ketahui harus diucapkan.
Dan tidak semua yang bisa ditanggapi perlu ditanggapi.

Kadang akhlak terbaik di ruang digital
bukan keberanian berbicara,
melainkan kesanggupan menahan diri.

Nilai ini sejak lama diajarkan di pesantren
sebagai bagian dari pendidikan adab sebelum ilmu.
Islam tidak melarang kita peduli.
Tidak pula menyuruh kita diam terus. Namun Islam mengajarkan urutannya:
membenahi diri terlebih dahulu,
meluruskan niat sebelum berbicara,
dan menjinakkan hati sebelum menilai.

Sebab akhlak yang lahir dari muhasabah
lebih tenang,
lebih tulus,
dan lebih sampai ke hati.

Semoga Allah menolong kita
untuk lebih sibuk membenahi diri
daripada mengadili orang lain.
Karena dari hati yang terus bermuhasabah,
akhlak yang baik pelan-pelan akan tumbuh.

Penulis: Muhammad Syafi’i

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *