Hari itu datang tanpa rencana, seperti hal penting lainnya yang tak pernah kuduga. Euforia yang pernah aku dapatkan telah lenyap, berganti hal sentimental yang menyayat hati. Hingga pada titik ini, aku memutuskan untuk bercerita dan menulisnya. Maka demikian, inilah kiranya cerita ini bermula.
“Nak, tahun ini mama belum bisa janjiin kamu bisa pulang ke rumah, ya, Nak. Tapi mama bakal usahain kamu bisa pulang tahun ini.”
Heningnya ponsel mengartikan telah berakhirnya panggilan itu. Seperti hujan yang sedang menurunkan bebannya di taman tanpa aba-aba, diriku merasa seakan terhujani oleh suatu perasaan-perasaan yang tak bisa terucapkan oleh lisan.
Aku yang sedang menghadiri rapat akhir dalam kepanitiaan pemulangan santri, menemukan diriku merasa kembali berada di dekat sosok itu melalui suara, melalui lantunan kata yang mengartikan rasa cinta yang tulus, dan menuntutku bertabah menerima keputusan itu.
“Mas Eja?”
“Eh…”
Lamunanku terbuyar. Segera aku menemukan diriku kembali di gedung aula pertemuan yang serba putih itu.
“Mas Eja?” tanyanya memastikan diriku telah sadar.
“Gimana, Mas?” Namanya adalah Zakki. Dia adalah teman yang sudah aku anggap keluargaku sendiri.
“Njenengan dipanggil itu, Mas.”
Diriku yang terbelenggu oleh ‘kenyamanan’ dalam secuil ingatan itu membuatku tak menyadari diri. Aku pun tidak menggubris panggilan dari Gus Hakim.
“Besok yang memberi arahan dan sambutan perpisahan kamu, ya, sekaligus do’a sebelum memulai perjalanan,” ucap Gus Hakim.
“Nggih, Gus,” jawabku kepadanya.
Rapat pun diakhiri dengan do’a penutup yang dibawakan oleh Gus Hakim, Gus sekaligus menantu dari pengasuh. Hingga akhirnya aku pun pulang dalam keadaan membawa hati dengan kegundahannya dan melangkahkan kaki ke arah kamarku sendiri.
Kamar yang bukan hanya sekadar ruang. Ruang yang bukan hanya sekadar tempat berdinding batu bercat putih. Namun, di balik dinding-dinding itulah aku tumbuh jauh lebih dewasa dengan terbiasa menerima kenyataan yang sering berbeda dengan harapan.
Hari per hari lewat tanpa aba-aba, meninggalkan tubuh yang tetap tinggal dengan perasaan yang tetap sama pula. Menunggu dan terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Bukan sebuah kepastian yang ditunggu dari jawaban seorang gebetan, melainkan tentang keberadaanku yang akan terbang ke sebuah tempat bersama keluarga yang saling bercanda gurau di bawah satu atap atau tidak.
Sebenarnya aku tak enak hati meringkas cerita ini, tapi apalah daya ketika keputusan sudah tak bisa diganggu gugat. Akan aku persingkat cerita itu, kalimat demi kalimat, kata demi kata, bahkan hidup pun rasanya seakan selalu disingkat oleh waktu yang tak bisa dimuat, dan beginilah jadinya.
Hari terus berganti dan waktu tak bisa dipungkiri lagi untuk dapat bisa kembali. Hingga hari itu tiba, aku sedang memberikan sambutan seadanya. Dirasa rasa seperti tak pantaslah diriku melaksanakan amanah ini. Seperti kaca yang memberi pantulan orang lain, padahal kita yang berada di depannya. Begitulah aku. Aku yang memberikan arahan sebelum perjalanan, tapi aku sendiri tak ikut serta dalam pemulangan itu. Aku sudah menerima keputusan itu bahwa aku tidak pulang di tahun ini, saat mama mengabariku kala itu.
Tak lama aku memberi satu-dua kalimat sebelum kuakhiri, aku selipkan arahan untuk berdo’a sebelum kendaraan berjalan. Surah Al-Quraisy itulah doa yang selalu diberikan dari pengasuh dan merupakan ijazah dari masayikh. Hingga malam itu tiba, aku sudah tak punya wish list untuk aktivitasku sendiri. Aku hanya memastikan diriku dapat kuat menahan rasa rindu itu yang terhalang oleh jarak.
Jarak bukan sekadar jarak yang dapat ditempuh dalam hitungan jam dan seharian. Sambil mendengar gema suara takbir, aku melamun. “Mama,” gumamku tanpa sadar menyebutnya.
Dari telinga yang samar-samar dapat mendengar suaranya, begitu pula hati yang ikut-ikutan merasa sedang berada di dekatnya. Padahal aku telah berkali-kali merasakan seperti ini di tahun-tahun sebelumnya, tapi apalah daya, rasa itu tak bisa diubah semudah membolak-balikkan tangan.
Aku membiarkan diriku kembali tenggelam dalam kesunyian malam itu. Heningnya pagi kala itu terpecahkan oleh suara dering ponsel. “Akhirnya,” gumamku, pesan yang telah menanti-nanti kehadiran suara itu. Hanya hitungan hari saja sudah cukup untuk membuat suaranya terdengar asing. Padahal dulu, hanya itu yang paling ingin kudengar.
“Halo, Nak,” suaranya yang lembut terdengar serak, terhenti sejenak seperti ingin mengucapkan hal berat yang tak bisa diungkapkan.
“Iya, mah?” balas suaraku dengan menggantungkan nada di akhir kata yang mengartikan tanda tanya. Debar jantungku pun terasa lebih kencang. Sambil penasaran hendak mendengarkan, tanganku pun terasa sama getarnya. Aku tidaklah tahu apa penyebabnya.
Dengan mencoba Menenangkan diriku, aku telah siap mendengar apa pun itu kepastiannya.
“Nak, mama minta maaf ya. Untuk tahun ini kamu belum bisa pulang ke rumah. Mama sudah usahain biar kamu bisa pulang, nak.” Telepon sejenak hening, meninggalkan isak tangis dari suaranya.
“Tapi mama belum memang belum ada rezeki lagi buat kamu biar bisa pulang.”
“Udah, mah, gapapa. Eja nggak pulang tahun ini,” jawabku sekilas.
“Mama kenapa harus nangis, mah? Kan juga masih ada tahun depan,” lanjutku menanggapi mama dengan perasaan tak enak hati mendengar tangisan seorang ibu. Sosok yang telah rela melahirkanku dengan menanggung segala risiko apa pun itu, bahkan kematian.
“Kamu gapapa, nak, tahun ini nggak pulang ke rumah lagi?” tanyanya, sambil memastikan aku baik-baik saja.
“Mah, seharusnya aku yang nanya mama gapapa kan kalau aku nggak pulang?” jawabku demikian.
“Sudah, mah, gapapa. Masih ada tahun depan, lagian juga aku sudah biasa liburan di sini, jadi udah nggak kaget lagi, kayak pas masih awal-awal dulu.” Hening sejenak sebelum aku meneruskannya.
“Juga di sini aku bisa sambil khidmah di pondok, mah.”
“Iya, nak. Udah ya.”
“Iya, mah. Daaah.”
Tanpa disadari, peluh air mataku mulai runtuh dari sela-sela batang hidungku. Secepat ingatan itu membuatku kembali merasakan diriku berada di dekatnya lagi. Segera aku kembali menemukan diriku pada malam yang sunyi itu. Ternyata walau sudah dipersiapkan diri ini untuk bisa menerima, namun perasaan punya caranya sendiri untuk memunculkan rasa itu kepada pemiliknya. Ia mengirim pesan melalui akal kepada mata agar meruntuhkan butiran-butiran beban perasaan itu lewat air matanya.
Aku tahu bahwa cerita ini yang sangat sentimental terlihat menggelikan bagi segelintir orang. Tapi apakah salah jika manusia ingin merasakan emosional negatifnya melalui sebuah karya? Tidak, kan? Dia juga manusia.
“Mah, aku rindu mamah,” dariku untuk mamah yang jauh di seberang pulau sana.
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comments
[472]58vin – Nhà Cái Casino Uy Tín | Link Vào & Tải App 58vin Chính Thức,58vin là nhà cái casino uy tín hàng đầu Việt Nam, cung cấp kho game bài, nổ hũ và cá cược thể thao hấp dẫn. Truy cập link vào 58vin chính thức để tải app nhanh chóng, bảo mật và nhận khuyến mãi đặc biệt ngay hôm nay! visit: 58vin
[1552]1xbet লগইন এবং অ্যাপ ডাউনলোড | বিকাশ ক্যাসিনো ও স্লট গেম,1xbet login বাংলাদেশ এবং অ্যাপ ডাউনলোড করে উপভোগ করুন সেরা অনলাইন স্লট গেম। বিকাশ দিয়ে অনলাইন ক্যাসিনো ডিপোজিট করে আজই খেলা শুরু করুন। visit: 1xbet