Subuh itu dinginnya masih nempel. Aku keluar kamar sambil setengah sadar, sarung belum rapi, mata masih berat. Tinggal satu hal yang kurang: sendal. Aku nengok ke kanan nengok ke kiri.
Kosong.
Padahal semalam aku taruh rapi di rak, sejajar sama sendal-sendal lain. Sekarang entah pindah ke mana.
“Ya Allah… masa subuh-subuh begini,” gumamku pelan. Di kepala mulai muncul prasangka kecil.
Jangan-jangan dipakai orang.
Atau ketuker tapi nggak balik.
Padahal adzan hampir selesai.
Akhirnya aku pakai sendal yang “mirip-mirip” nggak pas. Kebesaran.
Tapi ya sudahlah, daripada telat jamaah.
Di masjid aku berdiri di shaf belakang.
Takbir imam terdengar, tapi hatiku masih ribut.
Pikiranku nyangkut di sendal. Lucu juga. Aku berdiri menghadap Allah, tapi hati malah sibuk mikirin alas kaki. Sampai di rakaat kedua, entah kenapa dadaku mulai tenang.
Mungkin karena sadar sendiri:
ternyata sabar itu diuji bukan pas ngaji, tapi pas sendal hilang. Habis subuh aku balik ke rak.
Dan..
di sanalah sendalku berdiri manis.
Rapi.
Tenang.
Salah rak.
Aku senyum kecil.
Bukan karena sendalnya ketemu,
tapi karena hatiku malu sendiri.
Ternyata yang berantakan bukan rak sendal,
tapi prasangkaku.
Sejak kejadian itu, aku jadi lebih peka sama hal-hal kecil di pondok.
Antri kamar mandi yang panjang.
Barang pinjaman yang belum balik.
Teman yang nyelak tanpa bilang.
Dulu, dadaku gampang panas.
Sekarang, aku belajar menarik napas.
Mungkin dia lagi buru-buru. Mungkin aku yang lagi capek.
Di pondok, kita hidup bareng bukan cuma dengan orang lain, tapi juga dengan ego kita sendiri.
Dan jujur saja, yang paling sering bikin ribut itu bukan temannya -tapi egonya.
Pernah suatu sore aku lihat temanku duduk termenung di teras.
Kitabnya ketuker dan belum balik sejak kemarin.
“Aku kesel sih, tapi ya mau gimana,” katanya.
Aku paham.
Karena pondok memang bukan tempat untuk selalu dimenangkan,
tapi tempat untuk dilatih mengalah.
Pelan-pelan aku mengerti, pondok itu seperti cermin besar.
Ia memantulkan isi hati kita.
Kalau hati sempit, masalah kecil terasa besar.
Kalau hati lapang, masalah besar pun bisa terasa ringan.
Bukankah Rasulullah Saw. juga mengajarkan begitu?
Beliau sabar bukan karena tak mampu marah,
tapi karena memilih menjaga hati.
Kadang kita ingin pondok berubah jadi lebih nyaman.
Padahal yang lebih mendesak itu:
hati kita yang perlu diperluas.
Malam hari, sebelum tidur, aku menata sendal lagi di rak.
Kali ini aku taruh agak ke pinggir.
Bukan karena takut hilang,
tapi supaya aku ingat:
apa pun bisa berpindah,
tapi sikap jangan ikut berubah.
Karena pada akhirnya,
pondok bukan sekadar tempat belajar kitab,
tapi tempat belajar menjadi manusia.
Manusia yang sabar saat haknya sedikit tergeser.
Manusia yang tenang saat tak selalu dimengerti.
Manusia yang tetap baik, meski diuji lewat hal-hal kecil.
Dan kalau suatu hari aku lulus dari pondok ini,
aku berharap bukan cuma membawa ijazah,
tapi juga hati yang lebih lapang
yang pernah ditempa oleh sendal, antrian, dan prasangka-prasangka kecil
yang diam-diam mendewasakan.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment