13:00
Rina menatap nanar lembar jawabannya yang hanya menyentuh ambang KKM tersebut. Jelas terpampang nilai 75 dengan tinta hijau muda, menandakan ia tak perlu remedial lagi. Namun, apa daya, ucapan Miss Syaila terus terngiang di kepalanya.
Ruang Kelas (08:00)
Miss Syaila membagikan lembar jawaban para siswi kelas sebelas dengan gembira, hingga tiba di meja Rina, si gadis ekstrovert di kelas itu.
“Nih, ulangan kamu. Ibu harap nilai kamu bisa ditingkatkan, setarakan dengan tingkah kamu itu,” ucap Miss Syaila ketus.
Rina menerima kertas ulangannya dengan tangan gemetar.
“Nilai 75 nggak buruk kok, semangat!” bisik Rina menyemangati diri sendiri.
“Rin, kamu remidi nggak? Kita pada mau remidi nih,” ucap Sari lesu.
Rina menggeleng pelan. Sari paham Rina bukanlah siswi yang bodoh, dia hanya sedang kehilangan motivasi. Namun, tak bisa dipungkiri, sikap abai Miss Syaila perlahan mematikan semangatnya. Rina segera mengemasi barang-barangnya dan beranjak pulang.
Sesampainya di rumah, Rina langsung masuk ke kamar dan mengunci diri. Suasana hatinya hancur.
“Sebenarnya salahku sama Miss Syaila itu di mana? Kenapa dia nggak pernah ramah sama aku? Beda banget kalau sama yang lain,” ucap Rina di tengah tangis yang pecah.
Tok.. tok.. tok..
“Itu pasti Bunda,” batin Rina. Ia menghapus air mata dan mencoba tersenyum sebelum membuka pintu.
“Bunda! Hari ini aku dapat 75. Pas KKM, jadi nggak perlu remidi!” ucap Rina berusaha ceria.
Bunda tersenyum hangat dan memeluk Rina.
“Pintar anak Bunda. Terima kasih sudah berjuang sekeras ini. Tapi lain kali, kamu nggak boleh bohong, Sayang. Coba cerita sama Bunda, bagaimana kejadian sebenarnya di sekolah?” ucap Bunda tenang sembari merenggangkan pelukan.
Rina yang tak mampu lagi membendung sesak, kembali banjir air mata. Ia bercerita dengan terbata-bata. Selesai bercerita, Bunda mengusap lembut surai hitam Rina.
“Nggak apa-apa, kamu sudah berusaha. Mungkin hari itu Miss Syaila sedang lelah,” hibur Bunda, meski hatinya pedih.
Satu Minggu Kemudian
Miss Syaila membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Rina mendapat kelompok lima bersama Sifa dan Nila. Tugasnya menggambar Garuda untuk dipresentasikan. Saat mereka sibuk bekerja, Miss Syaila menghampiri.
“Sifa, tadi Ibu lihat kamu pakai pita, kok sekarang nggak ada?” tanya Miss Syaila lembut.
“Ini Bu, saya malu, jadi saya simpan,” jawab Sifa malu-malu.
Miss Syaila pun memasangkan kembali pita tersebut ke rambut Sifa.
“Begini kan cantik. Pakai saja, cocok di kamu.” Rina memberanikan diri bertanya,
“Bu, ini Garudanya diwarnai atau begini saja?” Seketika raut wajah Miss Syaila berubah datar.
“Terserah, yang penting selesai hari ini,” jawabnya singkat lalu berlalu ke meja lain.
Rina tertunduk. “Sadar nggak sih, Miss Syaila kayak nggak suka gitu sama aku?”
Nila mencoba menenangkan, “Enggak kok, Miss lagi capek mungkin. Itu perasaan kamu aja. Lihat tuh, beliau lagi tertawa di kelompok sebelah.”
Rina hanya bisa membatin, Mungkin memang hanya perasaanku.
Hari Terakhir UAS
“Rin, nobar yuk di rumahku!” ajak Sari antusias. Rina tersenyum tipis.
“Maaf ya, Sari. Aku harus ke ruang Kepala Sekolah dulu.”
“Mau ngapain? Kamu kan nggak ada remidi?” tanya Sari bingung.
Rina tidak menjawab dan terus berjalan. Di dalam ruang Kepala Sekolah, ternyata Bunda sudah menunggu. Sari yang penasaran mencoba menguping dari balik pintu.
Di Ruang Kepala Sekolah
Pak Kepala Sekolah melihat berkas yang disodorkan Bunda.
“Begini, Bu. Kelas dua belas agak susah untuk pindah karena sudah tahun terakhir. Kalau boleh tahu, masalah apa yang membuat Rina ingin pindah?” Bunda menatap Rina sejenak.
“Saya kira lingkungan sekolah ini mampu mendidik, Pak. Namun ternyata, anak saya justru mengalami tekanan mental karena perlakuan verbal dari pendidiknya. Setiap malam Rina datang ke kamar saya, meminta maaf secara berlebihan karena takut saya marah. Dia trauma karena sikap pilih kasih yang diterimanya setahun belakangan ini. Di rumah dia mungkin tersenyum, tapi tatapannya kosong. Saya mohon bantu kepindahannya demi kesembuhan jiwanya.” Bunda menutup kalimatnya dengan isak tangis.
Pak Kepala Sekolah terdiam, lalu menyetujui pengurusan surat pindah tersebut.
Evaluasi Guru
Sebelum liburan, Pak Kepala Sekolah mengadakan rapat evaluasi.
“Bapak dan Ibu sekalian, ada informasi penting. Siswi kelas 11 atas nama Rina Syamila resmi pindah sekolah mulai hari ini. Alasan kepindahannya cukup menyedihkan, yaitu adanya sikap pilih kasih dari pengajar yang mengganggu kesehatan mentalnya. Pihak keluarga tidak ingin memperpanjang masalah, tapi saya harap ini menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai pendidik.”
Rapat berlanjut, sementara di kursinya, Miss Syaila mendadak kelu, sibuk dengan pikirannya sendiri yang kini dipenuhi rasa bersalah.
Pesan
Sebesar itu pengaruh pengajar terhadap peserta didiknya maka dari itu mulailah membuka diri dan menerima perbedaan namun ini bukan hanya di lingkungan sekolah dan bukan hanya hubungan seorang guru dan pencari ilmu.
Sampai sini apakah memahamkan?
Penulis: Friayulia
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment