Aku tidak pernah menyangka bahwa jadwal ngaji, piket kamar, dan kesibukan pondok dapat berbelok menuju ruang rawat inap yang dingin, dikelilingi bau antiseptik dan denting alat medis yang tak pernah tidur.
Sebagai pengampu kamar di pondok, tugasku sederhana: memastikan adik kamar baik-baik saja. Namun, malam itu semua berubah ketika Abyra Delia muntah berulang kali hingga wajahnya pucat. Diagnosis dokter, muntaber hitam, memaksa kami menuju RSUD. Aku ikut, bukan sekadar karena tugas, tetapi karena di matanya ada ketakutan yang tak bisa kutinggalkan.
Aku menjaga Abyra tanpa ponsel. Santri memang belum boleh membawa HP. Semua komunikasi kulakukan dengan perawat yang bertugas. Hingga seseorang datang menawarkan solusi dengan cara yang tak terduga. Seorang perawat laki-laki meletakkan ponselnya di meja.
“Pakai ini saja, supaya mudah kalau ada apa-apa,” katanya singkat.
Kutatap wajahnya. Tenang, sopan, tidak berlebihan. Namanya Arka. Aku mengira itu hanya profesionalisme, hingga pagi berikutnya ia mengantar sarapan dan berkata pelan,
“Yang jaga jangan lupa makan juga.” Kalimat sederhana, tetapi membuat ruang rawat terasa tidak lagi menakutkan.
Malam berikutnya, saat infus Abyra hampir habis, aku mengetik pesan pendek dari ponselnya.
Mas, infusnya tinggal sedikit.
Balasannya datang secepat ketukan jantung.
Saya ke sana.
Ia muncul beberapa menit kemudian, sigap mengganti infus. Sebelum pergi, ia menatapku sekilas dan berkata pelan,
“Kalau jam obat tengah malam, panggil saya saja. Jangan begadang terus.”
“Aku kuat,” jawabku.
Arka menatapku, tidak lama, namun cukup untuk membuat kata-katanya menetap.
“Kuat bukan berarti harus sendirian terus.”
Pada malam lainnya, ia meletakkan dua sachet madu di meja. Di bawahnya, secarik kertas kecil berbunyi,
“Tenaga yang habis jangan dipaksa. Diisi dulu.”
Ia tidak memberi bunga. Ia memberi jeda. Ia tidak menawarkan kata-kata. Ia menawarkan kehadiran yang tenang.
Abyra yang sudah pulih ikut mengamati perubahan itu. “Mbak, Mas Arka itu kalau masuk sini, yang dicek dulu bukan infusku, tapi ekspresi njenengan.”
Aku hanya tersenyum, menutupi pipi dengan rekam medis.
Hari kepulangan tiba. Ranjang kembali dingin dan kosong. Administrasi selesai. Abyra izin ke kamar mandi, meninggalkan aku dan Arka dalam hening yang aneh.
“Tugasmu merawat orang lain…” katanya pelan.
“Kalau kamu, siapa yang jaga?”
Jawabku lirih, “Allah dan teman-teman.”
Arka tersenyum. Tidak ada kecewa di matanya, seolah ia sejak awal tahu batas yang tak boleh dilanggar.
“Bagus. Tapi nanti… jangan lupa, ada orang yang juga siap bantu.”
Sebelum pergi, ia menambahkan,
“Terima kasih sudah menjadi pengampu yang tidak pulang ketika orang lain butuh.”
Aku membalas pelan, “Terima kasih… sudah baik tanpa perlu menunjukkannya.”
Tanpa janji. Tanpa ucapan sampai jumpa. Namun juga tanpa penyesalan.
Aku kembali ke pondok. Ngaji. Hafalan. Piket. Tidak ada Arka, tidak ada madu, tidak ada notifikasi HP. Namun, aku yang kembali adalah aku yang lebih utuh.
Di atas sajadah, aku mengirim doa yang paling jujur: jika ia baik bagiku, dekatkan tanpa menjatuhkan imanku. Jika bukan, jauhkan tanpa mematahkan hatiku.
Beberapa pertemuan tidak ditakdirkan untuk dimiliki. Hanya untuk mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu harus menggenggam, bahwa perhatian tidak selalu harus dinamai, dan bahwa melepaskan tidak selalu tentang kehilangan. Kadang, itu tentang kembali menjadi utuh.
— selesai —
Penulis: Shevinda Hukma Shabiyya
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment
[1376]ph3bet login at register – online slots gcash deposit,Mag-ph3bet login app na para sa mabilis na access. Madali ang ph3bet register account at online slots gcash deposit. Tara na at maglaro ngayon! visit: ph3bet