Rinai menatap layar laptopnya dengan jempol yang bertahan diatas tombol “post”. Disana, secarik puisi hasil karyanya selama berminggu-minggu terpampang jelas. Namun, hatinya mamang terasa diremas.
“Bagaimana jika mereka mengatakan gaya bahasaku jelek?, bagaimana kalau tehnik penulisanku berantakan?” bisik suara overthingking di kepalanya.
Rinai segera menutup laptopnya. Ia merasa sesak dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke perpustakaan kota mencari suasana segar yang nyaman untuk mengusir kegelisahan yang menyebalkan baginya.
Disudut perpustakaan yang sering ia kunjungi, Rinai duduk disamping seorang kakek tua yang sedang asyik membaca buku bersampul merah tua. Entah mengapa, wajah murungnya begitu kentara hingga sang kakek menoleh dan tersenyum ramah.
“Karya yang bagus tidak akan menemui rumahnya jika hanya di simpan dibawah tempat tidur, Nak,” Ujar kakek itu tiba-tiba seolah bisa membaca masalah di pikiran Rinai.
Rinai terkejut, lalu tertunduk lesu.
“Aku hanya takut orang-orang akan mencemoohku, Kek. Dunia luar terkadang terlalu berisik dengan kritik.”
Kakek itu terkekeh pelan, lalu memperbaiki posisi duduk serta menutup buku bersampul merahnya.
“Ingatkah kamu dengan cerita tentang Maraton di Negeri Katak?”
Rinai menggeleng lemah sebagai jawaban.
Kakek itu mulai bercerita dengan suaranya yang dalam.
“Dahulu kala, di sebuah rawa yang jauh diadakanlah perlombaan lari dan lompat paling menantang. Tujuannya adalah mencapai puncak menara batu yang sangat tinggi. Ratusan katak mendaftar, dari yang paling kekar hingga paling lincah.”
Ribuan penonton berkumpul disekitar menara. Namun alih-alih memberi semangat, mereka justru berteriak pesimis.
“Itu terlalu tinggi!”
“Kalian tidak akan pernah sampai kesanaaa!”
“Lihatlahhh, jalannya sangat licin! Kalian hanya akan jatuh dan menyakiti diri sendiri!”
Satu per satu peserta mulai bertumbangan. Mereka yang tadinya penuh semangat mulai terpengaruh oleh omongan penonton.
“Benar juga,” pikir seekor katak yang kekar,
“Buat apa aku mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang mustahil?” ia pun berhenti.
Hampir semua peserta menyerah kecuali satu ekor katak kecil yang terus mendaki. Kakinya gemetar, tapi ia terus melompat. Penonton semakin keras mencibirnya,
“Turunlah! Kau hanya membuang-buang waktumu bodoh!”
Namun, katak kecil itu justru tampak semakin bersemangat. Ia melompat dan terus melompat hingga akhirnya -dengan satu tarikan napas terakhir- ia berhasil berdiri di puncak menara.
“Kakek tahu apa yang terjadi saat katak kecil itu turun?” tanya Rinai penasaran sambil menatap sang kakek.
Kakek tersenyum bijak.
“Semua katak mengerumuninya, bertanya apa rahasianya bisa sekuat itu ditengah cemoohan penonton. Tapi katak itu hanya diam. Ternyata…………. Katak kecil itu tuli.”
Kakek itu tersenyum lebar.
“Bagi katak itu, teriakan negatif penonton terlihat seperti sorakan semangat. Dia tidak tahu bahwa orang-orang meragukannya, jadi dia hanya fokus pada tujuannya.”
Rinai tertegun. Kata-kata sang Kakek seperti air dingin yang menyiram kegelisahan di hatinya. Masalahnya bukan pada mulut orang lain melainkan, pada telinganya yang terlalu terbuka untuk membiarkan secuil keraguan masuk.
“Jadilah sedikit ‘tuli’ untuk impianmu, Nak,” tutup kakek itu sebelum berdiri dan pergi membawa buku bersampul merah tuanya.
Rinai kembali kerumah dengan perasaan yang ringan. Ia membuka laptop, dan tidak lagi peduli pada berapa banyak orang yang mungkin tidak suka dengan hasil karyanya. Ia menekan tombol “post” . Kali ini, ia tidak menunggu komentar orang, ia hanya ingin karyanya bebas dan bisa di nikmati oleh orang lain.
Penulis: Ana Rifqotul Mashfufah
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment