Di bulan Juli, hujan turun tanpa bertanya,
seperti selembar SK yang datang tanpa pernah meminta
apakah bahu ini sanggup memikulnya.
Wahai mereka yang duduk di balik meja kuasa,
betapa mudah sebuah perintah dilahirkan,
sementara yang menjalankannya
adalah mereka yang tak pernah kau dengar suaranya.
Kalian menimbang angka,
menyusun nama,
lalu menganggap semua akan baik-baik saja.
Padahal setiap keputusan
selalu memiliki dada yang harus menanggung sesaknya.
Ada saatnya hati ini berteriak,
Muak!
Andaikan aku tidak dibesarkan oleh ilmu,
dan tidak ditempa oleh moral,
barangkali telah kulempar semua beban
yang kalian titipkan atas nama kewajiban.
Namun amarah tak pernah lebih tinggi
daripada keyakinanku kepada Tuhan.
Maka kutelan segala kecewa,
kubiarkan hujan mencuci luka,
dan kupanjatkan doa yang tak pernah lelah.
Jika memang jalan ini telah Kaugariskan,
izinkan aku melaluinya dengan hati yang tetap utuh.
Karena aku percaya,
di balik setiap keputusan yang terasa tidak adil,
Tuhan selalu menyimpan keputusan-Nya
yang jauh lebih sempurna.
Maka biarlah hujan terus turun di bulan Juli.
Bukan untuk menenggelamkan harapan,
melainkan mengajarkan bahwa
orang yang tetap teguh di tengah badai
akan menemukan pelangi pada waktunya.

Comment