Di era yang serba instan ini banyak dari santri tidak menyadari bahwa hafalan adalah hal yang sangat berharga, karana hanya hafalan yang tidak bisa jadi secara instan tapi harus penuh kesabaran, ketekunan, dan semangat yang tinggi. Bagi santri hafalan bukan sekedar jalan hidup tetapi menjaga warisan ulama’ terdahulu.
Di pesantren-pesantren salaf, kehidupan santri tidak hanya diukur dengan seberapa banyak kamu baca kitab, lama kamu mengaji dan mengabdi. Di pesantren ada kebiasaan yang mendarah daging dan mengikat dengan kehidupan santri, karena santri tidak bisa lepas dengan namanya hafalan.
Hafalan adalah makanan kebiasaan santri. Umumnya di pondok salaf menghafalkan setiap bait-bait (nazam) bait-bait indah yang di karang oleh ulama’ salaf tempo dulu.
Bagi santri, menghafal nazam bukan hanya tugas pembelajaran melainkan jalan hidup keseharian seorang santri.
Tradisi menghafal nazam sudah berlangsung sejak ratusan yang lalu, bahkan para ulama’ terdahulu melakukannya. Para ulama’ juga menyadari pentingnya menghafal untuk memudahkan dalam belajar ilmu agama seperti nahwu, sharaf, balaghah, tauhid, dan fiqih dengan di bungkus dalam syair yang indah.
Bagi santri, hafalan memiliki dimensi spiritual yang kuat. Menghafal Al-Qur’an, maupun nazam misalnya, bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk pendekatan diri kepada Allah. Dalam sebuah maqalah disebutkan bahwa,
Ilmu itu berada di dalam dada, bukan hanya di dalam tulisan.
Maqalah diatas menjelaskan bahwa ilmu yang sejati adalah yang tertanam dalam jiwa, bukan sekadar tersimpan dalam buku. Sehingga banyak dari kalangan santri memperbanyak hafalannya agar ilmu yang mereka dapat lebih mudah di pahami dan sampai kedalam hati.
Hafalan membentuk karakter santri dan melatih berbagai aspek kepribadian santri seperti:
- Melatih disiplin dan konsistensi (Istiqamah) karena menghafal membutuhkan rutinitas yang teratur dan komitmen tinggi.
- Kesabaran (Ṣabr) Proses menghafal tidak instan, seringkali penuh dengan kesulitan dan kejenuhan.
- Ketelitian (Daqīqah) karena dalam menghafal kita diajarkan agar teliti dalam hal-hal kecil, karena dalam hafalan bisa berdampak besar walau satu huruf, sehingga santri dilatih untuk teliti.
- Tanggung jawab ilmiah, dengan menghafal menjadikan santri sebagai penjaga ilmu (‘ḥāmil al-‘ilm’). Sehingga ilmu akan mudah di pelajari dan terasa lebih melekat di diri seseorang.
Dapat di pahami bahwa hafalan sangat penting sebagai lantaran agar ilmu yang di peroleh masuk ke hati. bahwa ilmu yang sejati adalah yang tertanam dalam jiwa, bukan sekadar tersimpan dalam buku. Hafalan yang dilakukan dengan niat yang benar akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan santri. Ada sebuah maqalah dari imam Zarnuji yang berbunyi:
يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يُوَاظِبَ عَلَى التَّكْرَارِ، فَإِنَّ التَّكْرَارَ أَصْلٌ عَظِيمٌ فِي الْحِفْظِ
Bahwa seorang penuntut ilmu seharusnya terus menerus mengulang pelajaran, karena sesungguhnya pengulangan adalah dasar yang penting dari menghafal.
Kunci hafalan adalah kesungguhan (istiqamah- kontinu) dan semangat yang tinggi. Dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim hal-hal yang dapat menguatkan hafalan yaitu:
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan melihat (mushafnya).
- Memperbanyak membaca shalawat ke pada nabi Muhammad Saw.
- Menjauhi perbuatan maksiat.
- Rajin bersiwak.
- Memakan madu, kemenyan putih, dan anggur merah 21 biji sebelum makan setiap hari.
Begitu pula ada hal-hal yang membuat lemahnya hafalan sehingga membuat hafalan menjadi susah masuk dan mudah lupa, hal-hal yang perlu di hindari dalam menghafal adalah banyak melakukan maksiat dan khawatir akan urusan dunia sehingga lebih fokus ke pekerjaan.
Ada sebuah maqalah yang mengatakan,
Cemas karena masalah hati dapat membuat gelapnya hati, dan cemas akan akhirat dapat membuat hati bercahaya.
Bagi para santri juga harus memperhatikan hal-hal yang membuat lupa secara zhahiriyah seperti, jangan makan ketumbar basah, makan buah apel yang kecut, melihat orang di salib, membaca tulisan di batu nisan, membuang kutu yang masih hidup ditanah, berjalan diantara unta yang terikat, dan yang terahir bekam ditengkuk kepala. Maka jauhilah perkara yang dapat membuat lupa dalam menghafal.
Tradisi hafalan di pesantren bukan sekadar metode belajar, tetapi merupakan identitas dan ruh kehidupan santri itu sendiri. Di tengah arus zaman yang serba cepat dan instan, hafalan justru mengajarkan nilai yang semakin langka, yaitu kesabaran, ketekunan, dan istiqamah.
Dari bait-bait nazam yang dihafal, santri tidak hanya menyimpan ilmu, tetapi juga merawat warisan intelektual ulama’ terdahulu agar tetap hidup dan relevan sepanjang masa. Oleh karena itu, menjaga tradisi hafalan bukan hanya tanggung jawab individu santri, melainkan bagian dari upaya besar dalam melestarikan khazanah keilmuan Islam yang penuh berkah dan kedalaman makna.
Sumber Referensi:
- Az-Zarnuji, Burhān al-Dīn. Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Az-Zarnuji, Burhān al-Dīn. Ta’lim Muta’allim: Pedoman Belajar bagi Penuntut Ilmu. Terj. Aliy As’ad. Kudus: Menara Kudus, 2007.
- Salqura. Habitus Santri Tahfidz Dalam Menjaga Konsistensi Hafalan Al-Qur’an di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jombang (Analisis Teori Pierre Bourdieu).

Comment