Home / Refleksi / Di Antara Gema Azan dan Bait-Bait Maknun
Refleksi

Di Antara Gema Azan dan Bait-Bait Maknun

Gema azan Asar berkumandang di masjid pondok, menandakan akhir waktu madrasah sore. Kelas-kelas yang tadinya bergema suara ustaz membaca kitab menjadi sunyi.

Aku masih duduk di kelas sambil memandangi kitabku yang hampir khatam. Selepas azan berkumandang, kelas yang tadinya sunyi kembali ramai karena ustaz menutup kelas dengan membaca,

“Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb, Al-Fātiḥah.”

Pak Mustahiq menyampaikan pesan dengan nada khasnya, yaitu suara pelan tetapi mengena. Beliau berkata bahwa nanti malam adalah imtihan terakhir dengan fan muchafadhoh. Bait-bait yang dihafalkan adalah bait-bait yang akan dibawa maju ke panggung. Bagi yang belum khatam atau masih setengah, harus menghafalkan muchafadhoh terlebih dahulu.

Setelah pulang madrasah, aku langsung menghampiri beliau ke kamar guna setoran. Selepas setoran, beliau lagi dan lagi berpesan kepadaku,

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

“Kamu harus menghafalkan bait-bait bab terakhir Kitab Maknun. Kalau kamu sudah setoran nanti malam, kamu tidak usah setoran bab terakhir lagi, tidak apa-apa.”

Aku yang notabene masih mendapatkan setengah dari kitab tersebut langsung menghafalkan bab terakhir.

Malam terakhir imtihan pun tiba. Semua kelas menggema dengan muchafadhoh di masing-masing kelas, dengan nada dan irama yang berbeda-beda. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Pak Mustahiq berjalan dengan gagah ke tengah kelas, lalu duduk di depan bersama seorang ustaz sambil membawa absen.

Setelah salam, beliau membuka kelas dengan bertawasul kepada para muassis pondok pesantren. Setelah bertawasul, beliau berkata bahwa nanti muchafadhoh dibagi menjadi dua, dari absen paling atas dan paling bawah.

Aku yang duduk di pojok langsung disuruh maju karena memang absensiku paling terakhir. Aku maju ke depan sambil membawa kartu imtihan yang mungil itu dengan rasa gugup.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Alhamdulillah, setoranku berjalan lancar. Aku melantunkan muchafadhoh dengan baik karena sebelumnya membaca ijazah do’a dari pengasuh:

Rabbi syraḥ lī ṣadrī, wa yassir lī amrī, waḥlul ‘uqdatan min lisānī yafqahū qaulī.” sebanyak tiga kali.

Hari berganti hari. Aku yang notabene masih belum khatam masih mempunyai tanggungan setoran. Sore itu cuaca sedang mendung, tetapi tidak menandakan akan turunnya hujan. Tepat pada hari Rabu, aku melakukan setoran terakhir sebelum bab penutup karena bab terakhir sudah disetorkan saat imtihan.
Hatiku penuh bahagia karena tinggal beberapa menit lagi aku mengkhatamkan kitab. Aku berjalan melewati lorong-lorong kamar sambil membawa kitab dan kartu setoran.

Aku jongkok sambil mengetuk pintu kamar beliau dan mengucapkan salam. Pak Mustahiq yang sedang muthalaah tampak sedikit terganggu dengan kedatanganku. Dalam benakku, beliau berkata,

“Rene-rene, Rep, setoran toh. (Sini, sini. Mau setoran kan?) ” Aku langsung menghampiri beliau sambil berjalan jongkok, lalu mulai setoran dengan lancar. Setelah setoran selesai, beliau berkata,

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

“Kok mung sak mene, la ora dikhatamke sekalian po?” (Kok hanya segini, kenapa tidak dikhatamkan sekalian?

Aku langsung kaget mendengar beliau berkata seperti itu. Dalam benakku,

“Nopo sampean supe minggu kepengker beliau janji bahwa yang sudah setoran bab terakhir sudah tidak disetorkan lagi?” (Apa kamu lupa minggu lalu beliau janji bahwa yang sudah setoran bab terakhir sudah tidak disetorkan lagi?

Aku langsung keluar kamar dengan perasaan tidak karuan.

Selama satu minggu aku tidak menghafalkan kitab lagi karena statusku memang belum dianggap khatam. Teman-temanku yang hafalannya sebelumnya di bawahku sudah banyak yang khatam.

Akhirnya aku mulai menghafalkan satu per satu bait yang dahulu pernah kusetorkan. Tidak butuh waktu lama, mungkin hanya setengah jam, aku langsung hafal kembali bait-bait tersebut.

Angin berhembus kencang dari lorong pondok ketika aku berjalan menuju kamar beliau sambil membawa kitab hafalan dan kartu setoran.

Setelah setoran selesai, beliau tampak bertawasul kepada para muassis pondok pesantren dan pengarang kitab, lalu membaca Al-Fātiḥah. Teman sekamar beliau ikut berbicara sambil mendoakanku agar ilmuku bermanfaat.

Aku langsung keluar kamar dengan perasaan bahagia, seakan-akan semua masalah selesai begitu saja.

Sore itu aku berbelanja roti tiga bungkus untuk Pak Mustahiq. Meski beliau tidak merokok, aku juga membeli tiga bungkus rokok sekaligus. Setelah sampai kamar, satu bungkus roti dan satu bungkus rokok kuberikan kepada anak kamar. Dua bungkus sisanya kuberikan kepada teman sekamar beliau.

Dari sini aku belajar bahwa setiap ustaz mempunyai hak untuk memerintah muridnya demi kebaikan. Dari sini pula aku belajar membesarkan hati agar selalu sabar dalam menghadapi situasi apa pun.

Penulis: Zainul Anwari

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

  1. jl4 says:

    [8730]jl4 Login Philippines – Slots at Baccarat gamit ang Gcash,Gamitin ang jl4 login philippines para sa mabilis na access. Download jl4 app apk at subukan ang casino gamit ang gcash. Mag-register na para maglaro! visit: jl4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *